Antara Laporan dan Sol Sepatu (sebatas catatan halus)
Redaksi - Selasa, 20 Oktober 2026 16:59
Pater Kons Beo,SVD (sumber: Dokpri)Kons Beo, SVD
Duduk manis...
Dalam nyaman...
Penuh damai punya sendiri...
Dan suaramupun menggelegar:
Antara Optimisme dan Pesimisme yang tercampur baur.
Antara takut dan berani tak jelas.
Antara gemoy dan geram gertak. Jadi lelucon yang tak menggelitik sebenarnya.
Ujung-ujungnya
Hanya sebatas:
"Kami telah mendapat laporan."
Singkat, padat, jelas namun sebenarnya banyak kaburnya.
Bahasa, gaya dan aura militeristik memang: "Lapor!...
Laporan Selesai. Siap Kerjakan!"
Kita telah jadi 'Negeri Sudah Dapat Laporan.'
Ada banyak orang berkerumun seputar dan dalam istana. Itu Rombongan Ring Satu. Tampil gagah. Namun ada koment: 'Semuanya itu hanya sebatas ornamen hidup bergerak penghias istana.'
Dan...?
Sebanyak itu pulalah laporan datang.
Mengalir masuk. Dari mereka kepada Big Babe, Boss, Penguasa Istana. Isinya disesuaikan dengan irama dan suasana hati penguasa.
Banyak suara berteriak di titik asa tersekap:
'Ayolah! Segera sudahi sudah kesenangan telinga mendengar.
Segera jawabi sudah kerinduan mata:
Melihat
Menatap
Memandang
Mengamati.
Maka, tak ada jalan lain paling berarti selain:
Tinggalkan nyaman
Tinggalkan takhta
Tinggalkan 'laporan.'
Lewati saja sebanyaknya semua yang di Ring Satu itu...
Dan mesti segeralah:
Datang, berkunjung, berada bersama, dan amatilah sendiri dalam rasa penuh empati...
Ada suara sejuk teduh namun menantang.
'Tak usahlah memuja-muja sepatu baru, mahal dan indah punyamu. Tak perlu!
Untuk menatap dan memahami kenyataan yang sebenarnya, kau mesti berani tipiskan sol, ya alas sepatumu:
Banyak bergerak, banyak berjalan, banyak turun...'
Sol sepatu bolehlah semakin tipis, namun semakin banyak dan teballah pengetahuan dan pengenalanmu akan kenyataan sesungguhnya....
Dan akhirnya...
Kiranya kau sadar dalam sentakan:
'Ini bukan soal berapa luasnya area hutan telah terkapar dijilati api liar, api alami atau api terencana...
Namun, dengan 'tipiskan sol sepatu' segeralah kau pun menatap kisah derita, tangisan pilu tak berdaya tanpa kepastian. Bahwa tragedi hutan bukan soal sebatas garangngnya api dan pohon-pohon jadi getir. Yang lebih jauh dan terdalam dari semuanya?
Sebuah kawasan Rumah Kosmik untuk semua, untuk segala yang bernafas telah jadi puing dan abu...
Binatang melata terkepung api dalam pedih. Semua pada sesak nafas, pun tak jelas lagi mata melihat. Burung-burung di udara pun beterbangan kocar-kacir pergi tak tentu arah. Tinggalkan sarang dan bayi-bayi kecil mati terpanggang.
Negeri ini masih punya harapan!
Sekiranya pada saatnya kau bakal dengan penuh sadar mengubah kata dan kalimat menjadi:
"Kami sendiri telah ada bersama, meninjau, mendengarkan, mengalami sendiri situasi......"
Untuk tidak lagi terpenjara dalam Laporan. Iya dalam tesis militeristik itu:
"Laporan Selesai"
"Kerjakan!"
"Siap Kerjakan!"
Maka, segeralah pakai sepatumu! Ayunkan langkah. Segera kuburkan alur Laporan di Istana. Untuk secepatnya tipiskan sol sepatu di lapangan. Sebelum api benar-benar tipiskan semuanya....
Verbo Dei Amorem Spiranti
Collegio San Pietro
R o m a

