BINUS Dorong Penguatan Ekonomi Umat di Keuskupan Labuan Bajo
Redaksi - Rabu, 15 April 2026 13:47
Suasana Pelatihan Pemberdayaan Ekonomi Umat dan Tata Kelola Keuangan Paroki. yang berlangsung selama dua hari, mulai tanggal 13 hingga 14 April 2026, di Rumah Spiritualitas Unio Keuskupan Labuan Bajo, 13-14 April 2026. (sumber: Vinsen Patno)LABBUAN BAJO (Floresku.com) - Kolaborasi BINUS University dan Keuskupan Labuan Bajo terus diperkuat melalui pelatihan “Pemberdayaan Ekonomi Umat dan Tata Kelola Keuangan Paroki” yang digelar 13–14 April 2026 di Rumah Spiritualitas Unio.
Program ini hadir sebagai respons atas tantangan nyata umat yang mayoritas hidup dari sektor pertanian, namun masih terbatas dalam pengelolaan usaha dan pengembangan bisnis.
Di sisi lain, tata kelola keuangan paroki juga membutuhkan penguatan agar semakin transparan dan akuntabel.
Kegiatan ini diikuti 54 peserta dari 27 paroki, terdiri dari utusan Komisi PSE dan bendahara paroki. Integrasi dua peran ini diharapkan mampu menyatukan program ekonomi umat dengan sistem pengelolaan keuangan yang tertib di tingkat akar rumput.
Baca juga:
- BBRI Siapkan Dividen Rp52,1 Triliun untuk Investor, Ini Tanggalnya
- Pesan Inspiratif: Yesus Datang untuk Menyelamatkan Dunia
- Tebus Gadai Pegadaian Kini Lebih Cepat dengan BRImo
Vikaris Jenderal, Richardus Manggu, menegaskan bahwa Gereja dipanggil untuk tidak hanya bertumbuh dalam iman, tetapi juga mandiri secara ekonomi. “Tata kelola keuangan yang baik akan memperkuat pelayanan pastoral dan menjawab persoalan sosial umat,” ujarnya.
Dari pihak BINUS, Artha Moro Suandjaja menekankan pentingnya transparansi dan akuntabilitas. Menurutnya, pengelolaan dana umat harus dilakukan secara terbuka, dengan pembagian tugas yang jelas serta audit berkala demi menjaga kepercayaan.
Materi pelatihan mencakup pengembangan usaha berbasis komunitas, perencanaan keuangan, hingga pencatatan akuntansi sederhana dan pemanfaatan teknologi digital.
Sementara itu, ekonom keuskupan, Martin Wiliam, menilai kegiatan ini sebagai langkah transformasi pastoral. Ia menegaskan Gereja perlu bergerak dari pola pasif menuju produktif, dengan mengintegrasikan ekonomi umat dan tata kelola keuangan.
Melalui sinergi ini, diharapkan lahir inisiatif ekonomi yang berkelanjutan di setiap paroki, didukung sistem keuangan yang profesional, transparan, dan terpercaya.

