Caritas Keuskupan Labuan Bajo Bergerak, Bawa Bantuan untuk Korban Gempa Flores
Redaksi - Kamis, 20 Agustus 2026 16:27
Caritas Keuskupan Labuan Bajo mulai menyalurkan bantuan darurat kepada umat dan masyarakat yang terdampak bencana gempa di wilayah Kevikepan Pacar. (sumber: Vinsen Patno)LABUAN BAJO (Floresku.com) – Di tengah duka dan ketidakpastian yang masih dirasakan warga setelah gempa bumi yang mengguncang hampir seluruh wilayah Flores pada 15 Agustus 2026, solidaritas kemanusiaan terus bergerak.
Gereja Katolik melalui Caritas Keuskupan Labuan Bajo mulai menyalurkan bantuan darurat kepada umat dan masyarakat yang terdampak bencana gempa di wilayah Kevikepan Pacar.

Pada Senin, 17 Agustus 2026, Vikaris Jenderal Keuskupan Labuan Bajo, Rm. Richard Manggu, Pr., secara resmi melepas rombongan relawan Caritas yang membawa sembako dan sejumlah kebutuhan darurat untuk didistribusikan ke wilayah terdampak.
Pelepasan tersebut menjadi bagian dari gerak tanggap darurat Keuskupan Labuan Bajo untuk menjangkau warga yang berada dalam kondisi paling sulit.
Bantuan yang dibawa tidak sekadar memenuhi kebutuhan material. Lebih dari itu, kehadiran para relawan membawa pesan bahwa di tengah bencana, para korban tidak berjalan sendirian.
Gereja Hadir di Tengah Penderitaan
Mewakili Uskup Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus, Rm. Richard Manggu menegaskan bahwa kehadiran Caritas merupakan bentuk nyata solidaritas Gereja terhadap umat dan masyarakat yang sedang mengalami penderitaan.
“Ini adalah tanggap darurat yang menjawabi kebutuhan yang paling mendesak bagi umat yang terdampak. Ini juga wujud nyata kehadiran Gereja bagi mereka yang mengalami bencana ini, sehingga mereka tidak sendirian,” katanya.

Menurut dia, seluruh elemen Keuskupan Labuan Bajo berupaya berjalan bersama para korban melalui perhatian, dukungan, bantuan, dan penguatan.
Gerakan tersebut menjadi bentuk konkret belarasa Gereja yang tidak berhenti pada doa, tetapi diterjemahkan dalam tindakan kemanusiaan di lapangan.
Uskup Minta Bantuan Segera Disalurkan
Sebelumnya, Uskup Labuan Bajo Mgr. Maksimus Regus dalam rapat koordinasi bersama Tim Caritas dan Kuria Keuskupan pada 16 Agustus 2026 menekankan pentingnya gerak cepat dalam menghadapi situasi darurat.
Uskup menyampaikan bahwa Caritas harus menjadi tanda kehadiran Gereja yang merangkul para korban bencana.
Bantuan, menurutnya, harus segera diberikan kepada warga yang paling terdampak. Karena itu, pendataan mengenai umat yang mengalami kerusakan dan kebutuhan mendesak harus dilakukan secepat mungkin.
“Kita tidak boleh menunggu lama untuk bergerak dan berbelarasa,” pesan Uskup.
Arahan tersebut kemudian diterjemahkan dalam aksi lapangan dengan mengerahkan tim Caritas ke sejumlah wilayah terdampak.
Tiga Paroki Jadi Sasaran Awal
Pada Senin, 17 Agustus, rombongan Caritas diarahkan menuju tiga titik utama di wilayah Kevikepan Pacar, yakni Paroki Wae Nakeng, Paroki Rangga, dan Paroki Datak.
Jenis bantuan disesuaikan dengan kebutuhan warga di masing-masing lokasi.
Terpal diberikan kepada keluarga yang belum dapat kembali menempati rumah karena mengalami kerusakan. Sembako disalurkan untuk membantu memenuhi kebutuhan pangan keluarga terdampak.

Obat nyamuk juga menjadi salah satu kebutuhan penting karena sebagian warga masih bertahan dan beristirahat di tenda-tenda darurat di luar rumah.
Sementara itu, air minum dibagikan kepada warga yang menghadapi persoalan air bersih. Sejumlah sumber mata air dilaporkan menjadi keruh setelah gempa.
Dengan demikian, bantuan yang keluar dari Posko Caritas bukan sekadar paket kebutuhan pokok, melainkan juga bentuk perhatian terhadap kondisi riil yang dihadapi warga di lokasi bencana.
Bantuan Berlanjut ke Sejumlah Paroki
Gerakan kemanusiaan Caritas Keuskupan Labuan Bajo tidak berhenti pada penyaluran bantuan tanggal 17 Agustus.
Pada Selasa, 18 Agustus 2026, tim direncanakan melanjutkan aksi ke sejumlah paroki di wilayah Kevikepan Pacar, yakni Paroki Bari, Paroki Pateng, Paroki Compang, Paroki Wajur, dan Paroki Golowelu.
Sementara itu, data dari paroki-paroki di wilayah Kevikepan Kuwus, Ndoso, dan Pacar masih terus dihimpun.
Data tersebut akan menjadi dasar bagi penentuan lokasi kunjungan dan bentuk respons kemanusiaan pada tahap berikutnya.
Data Sementara: 1 Meninggal, 4 Luka Berat
Di balik gerak cepat tersebut terdapat gambaran mengenai besarnya dampak gempa yang masih terus dipetakan.
Berdasarkan data sementara yang dihimpun Tim Caritas Keuskupan Labuan Bajo hingga Minggu, 16 Agustus 2026, tercatat satu orang meninggal dunia dan empat orang mengalami luka berat.
Sebanyak 864 rumah penduduk terdampak. Dari jumlah tersebut, 634 rumah mengalami rusak berat, 95 rumah rusak sedang, dan 135 rumah rusak ringan.
Gempa juga menyebabkan kerusakan pada tempat ibadah.
Sedikitnya 14 gedung gereja mengalami kerusakan, terdiri atas tujuh gereja rusak berat, satu rusak sedang, dan enam rusak ringan.
Selain itu, sebanyak 152 kepala keluarga tercatat telah mengungsi.
Data tersebut masih bersifat sementara. Pendataan terus dilakukan karena jaringan komunikasi di sejumlah wilayah terdampak belum sepenuhnya pulih.
Karena itu, jumlah korban maupun kerusakan masih sangat mungkin berubah seiring semakin lengkapnya asesmen di lapangan.
Data Dikumpulkan hingga Tingkat Komunitas
Direktur Caritas Keuskupan Labuan Bajo, Rm. Yuvens Rugi, menjelaskan bahwa proses identifikasi, asesmen, dan tanggap darurat dilakukan melalui komunikasi intensif dengan para pastor paroki, kevikepan, dan tim Caritas di tingkat paroki.
Data awal dihimpun oleh para pastor bersama tim Caritas paroki. Selanjutnya, data tersebut diolah dan didalami dengan memperhatikan tingkat keseriusan dampak, baik secara fisik-material maupun terhadap kehidupan pribadi dan keluarga.
“Respons cepat diberikan berdasarkan tingkat emergensi yang terjadi. Kita meminta para pastor paroki yang memastikan data-data dampak gempa hingga ke setiap KBG,” jelasnya.
Pendekatan tersebut memungkinkan respons kemanusiaan tidak berhenti pada data agregat, tetapi berusaha menemukan kebutuhan nyata keluarga terdampak hingga tingkat komunitas basis.
Membawa Bantuan Sekaligus Harapan
Bagi Gereja, tanggap bencana tidak semata-mata berarti membawa bantuan material.
Warga yang kehilangan atau mengalami kerusakan rumah, menghadapi rasa takut akibat gempa susulan, serta tidak mengetahui kepastian kehidupan mereka ke depan juga membutuhkan pendampingan dan kekuatan batin.
Karena itu, selain bantuan material, Keuskupan Labuan Bajo terus memberikan dukungan spiritual kepada umat dan masyarakat yang terdampak.
Uskup Labuan Bajo bersama Kuria Keuskupan dan seluruh umat juga terus mendoakan agar situasi segera pulih serta para korban memperoleh kekuatan dalam menghadapi masa sulit.
Rm. Richard Manggu mengajak umat untuk terus menghidupkan gerakan solidaritas dan belarasa.
Bantuan dapat disalurkan melalui Posko Tanggap Darurat Caritas Keuskupan Labuan Bajo maupun diberikan secara langsung kepada orang atau keluarga terdampak di lingkungan masing-masing.
“Semoga bantuan-bantuan yang diberikan ini, meskipun sedikit dan sangat sederhana, bisa sedikit mengobati luka dan derita yang sedang dialami oleh semua saudara kita yang paling terdampak,” ungkapnya.
Iman Digerakkan Menjadi Tindakan Kasih
Solidaritas terhadap korban gempa terus mengalir. Dana, sembako, dan berbagai bantuan yang terkumpul di Posko Caritas Keuskupan Labuan Bajo berasal dari umat dan komunitas-komunitas biara di wilayah keuskupan.
Posko Tanggap Darurat yang berada di Pastoran St. Petrus Sernaru, Labuan Bajo, menjadi salah satu pusat pengumpulan dan pengelolaan bantuan sebelum disalurkan kepada warga yang membutuhkan.
Di tempat tersebut, iman diterjemahkan menjadi tindakan nyata.
Doa diwujudkan dalam pendampingan. Solidaritas hadir dalam bentuk sembako. Belarasa diwujudkan melalui terpal, air minum, obat nyamuk, dan berbagai kebutuhan darurat lainnya.
Bencana memang meninggalkan luka pada rumah, tempat ibadah, dan kehidupan banyak keluarga. Namun, di tengah situasi tersebut, semangat untuk saling menopang terus tumbuh.
Caritas Keuskupan Labuan Bajo hadir membawa pesan sederhana kepada para korban: kalian tidak sendirian.
Seluruh keuskupan berusaha berjalan bersama mereka melalui doa, perhatian, bantuan, dan solidaritas agar para korban perlahan dapat bangkit, memulihkan kehidupan, dan kembali menatap hari esok dengan harapan. (Vinsen Patno).

