Flores Menunggu Kampus Penjaga Musik Leluhur

Redaksi - Jumat, 24 Juli 2026 20:44
Flores Menunggu Kampus Penjaga Musik LeluhurSalah satu penampilan dari Tur musik dan teater Ledalero Choir II Aletheia yang digelar para frater SVD Seminari Tinggi Santo Paulus / IFTK Ledalero sepanjang Juni–Juli 2026 (sumber: TikTok.com)

Saatnya IFTK Ledalero Memimpin Lahirnya Pusat Etnomusikologi Flores

Oleh Maxi Ali Perajaka*

"Musik adalah ingatan suatu bangsa. Ketika musik tradisional hilang, yang lenyap bukan sekadar bunyi, melainkan cara sebuah masyarakat memahami dirinya."

Dari Sebuah Tur Musik Menuju Sebuah Gagasan

Tur musik dan teater Ledalero Choir II Aletheia yang digelar para frater SVD Seminari Tinggi Santo Paulus / IFTK Ledalero sepanjang Juni–Juli 2026 patut diapresiasi sebagai salah satu peristiwa kebudayaan yang penting. 

Mengusung tema "Abadon Menjelma Nada", pertunjukan tersebut bukan hanya menghadirkan konser paduan suara, tetapi juga refleksi artistik mengenai dehumanisasi, penderitaan kaum kecil, dan suara mereka yang sering kali tersisih. 

Tur ini sekaligus menjadi bagian dari animasi misi dan penggalangan dana pendidikan bagi para calon imam Serikat Sabda Allah (SVD).

Namun, di balik keberhasilan artistik itu muncul sebuah pertanyaan yang lebih besar. Apakah Ledalero akan berhenti sebagai penyelenggara konser dan ruang apresiasi musik? Ataukah berani melangkah lebih jauh menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan tentang musik tradisional Flores?

Menurut hemat saya, inilah momentum yang tepat bagi Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero untuk memimpin lahirnya Pusat Etnomusikologi dan Arsip Musik Tradisional Flores dan Indonesia Timur.

Flores Sudah Lama Menjadi Perhatian Dunia

Banyak orang mengenal Flores melalui Komodo, Danau Kelimutu, atau Wae Rebo. Padahal, jauh sebelum destinasi-destinasi tersebut dikenal luas, Flores telah menarik perhatian komunitas ilmiah internasional.

Pada tahun 1888, Prof. Max Wilhelm Carl Weber (1852–1937) bersama istrinya, Anna Weber-van Bosse, memimpin ekspedisi ilmiah ke Hindia Belanda. 

Sebagai zoolog, Weber memang datang untuk meneliti kekayaan hayati Nusantara. Namun, sebagaimana tampak dalam catatan perjalanannya, perhatian Weber tidak berhenti pada flora dan fauna. Ia juga mengamati kehidupan sosial dan budaya masyarakat yang ditemuinya.

Salah satu pengamatan Weber yang menarik ialah mengenai musikalitas masyarakat Flores. Ia menyebut orang Flores sebagai masyarakat yang memiliki kemampuan musikal yang luar biasa (remarkably musical people). 

Menurut Weber, musik, nyanyian, dan tarian selalu hadir dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Flores—mengiringi pesta adat, ritus keagamaan, perayaan komunal, hingga berbagai peristiwa penting dalam kehidupan mereka. Musik bukan sekadar hiburan, melainkan bahasa budaya yang menyatukan komunitas.

Catatan Weber ini penting karena menunjukkan bahwa lebih dari satu abad lalu, dunia ilmiah telah melihat Flores sebagai wilayah yang memiliki tradisi musikal yang sangat kaya.

Jaap Kunst Membuktikan Apa yang Dilihat Weber

Pengamatan Weber kemudian memperoleh pembuktian ilmiah yang lebih sistematis melalui penelitian Jaap Kunst, pelopor etnomusikologi Belanda.

Dalam publikasinya tahun 1942, Kunst berhasil menginventarisasi sekitar 200 lagu tradisional dan 59 jenis alat musik hanya dari Pulau Flores. Temuan tersebut bukan sekadar daftar lagu dan instrumen, melainkan bukti ilmiah bahwa kesan Weber mengenai tingginya musikalitas masyarakat Flores benar adanya.

Bahkan, angka tersebut kemungkinan masih jauh dari keseluruhan kekayaan musik Flores. Penelitian dilakukan ketika akses transportasi masih terbatas dan banyak wilayah pedalaman belum sepenuhnya terjangkau. Dengan pendekatan etnomusikologi modern, sangat mungkin jumlah lagu, instrumen, dan tradisi musikal Flores jauh melampaui apa yang pernah dicatat Kunst.

Dengan kata lain, Weber membuka perhatian dunia terhadap musikalitas Flores, sedangkan Kunst memberikan fondasi ilmiah yang mengukuhkan Flores sebagai salah satu kawasan dengan keragaman musikal paling kaya di Indonesia.

Ironi Delapan Puluh Tahun

Ironisnya, lebih dari delapan puluh tahun setelah penelitian Jaap Kunst diterbitkan, belum ada satu pun perguruan tinggi di Flores yang secara sistematis melanjutkan pekerjaan besar tersebut.

Kita memang menyelenggarakan festival budaya, lomba paduan suara, pertunjukan tari, bahkan promosi pariwisata berbasis budaya. Namun, penelitian akademik yang mendokumentasikan musik tradisional Flores secara komprehensif masih sangat terbatas.

Padahal, tantangan pelestarian budaya saat ini jauh lebih kompleks. Yang dibutuhkan bukan sekadar mempertahankan tradisi, melainkan membangun sistem dokumentasi ilmiah melalui inventarisasi, penulisan notasi musik, dokumentasi audiovisual, kajian organologi alat musik, penelitian antropologis, hingga pembangunan arsip digital yang dapat diakses masyarakat dunia.

Yang Terancam Bukan Musik, Melainkan Memori Peradaban

Musik tradisional Flores bukan sekadar rangkaian bunyi yang mengiringi tarian atau upacara adat. 

Di dalamnya tersimpan arsip sejarah, filsafat hidup, bahasa religius, sekaligus identitas kolektif setiap komunitas. Setiap melodi, irama, dan instrumen tradisional mengandung pengetahuan tentang bagaimana masyarakat Flores memahami asal-usulnya, membangun relasi sosial, memaknai alam, dan berkomunikasi dengan leluhur maupun Yang Ilahi.

Oleh karena itu, setiap tradisi musik memiliki makna yang melampaui nilai estetikanya. Ketika masyarakat Nagekeo memainkan Beghu, misalnya, yang dihadirkan bukan sekadar pertunjukan musikal, melainkan relasi spiritual dengan para leluhur. 

Ketika masyarakat Lio menarikan Gawi, yang dirayakan bukan hanya keindahan gerak, tetapi juga persaudaraan, persatuan, dan kebersamaan dalam komunitas. 

Demikian pula ketika Gong Waning ditabuh di wilayah Sikka, bunyinya tidak hanya mengatur ritme tarian, tetapi menjadi penanda ritus, solidaritas sosial, dan identitas budaya masyarakat setempat.

Persoalannya, hampir seluruh pengetahuan yang menyertai tradisi-tradisi tersebut diwariskan secara lisan.

Pengetahuan mengenai makna syair, fungsi ritual, teknik permainan, proses pembuatan alat musik, hingga konteks sosial setiap pertunjukan lebih banyak hidup dalam ingatan para tetua adat dan maestro musik tradisional daripada dalam buku, arsip, atau hasil penelitian ilmiah.

Di sinilah letak ancaman sesungguhnya. Yang sedang berada di ambang kehilangan bukan hanya lagu-lagu tradisional, melainkan keseluruhan sistem pengetahuan yang membentuk peradaban masyarakat Flores. Banyak maestro musik tradisional kini telah memasuki usia senja. 

Mereka adalah "perpustakaan hidup" yang menyimpan kekayaan budaya yang belum sepenuhnya terdokumentasi. Jika mereka berpulang tanpa sempat diwawancarai, direkam, dan diteliti secara sistematis, maka yang hilang bukan hanya sebuah komposisi musik, tetapi juga sejarah, filosofi, nilai-nilai sosial, teknik musikal, hingga memori kolektif yang diwariskan turun-temurun.

Ironisnya, Flores sesungguhnya tidak kekurangan seniman. Pulau ini telah melahirkan banyak penyanyi, komponis, dirigen, pemusik, serta kelompok paduan suara yang berprestasi di tingkat nasional maupun internasional. Namun, jumlah akademisi yang secara khusus meneliti musik tradisional masih sangat terbatas. 

Kesenjangan inilah yang menyebabkan kekayaan musikal Flores lebih sering dipentaskan daripada didokumentasikan, lebih banyak diapresiasi daripada dikaji secara ilmiah.

Padahal, etnomusikologi bukan sekadar mempelajari cara memainkan alat musik atau menyanyikan lagu tradisional. Disiplin ilmu ini mempertemukan musik dengan antropologi, sejarah, linguistik, filsafat, teknologi digital, dokumentasi audiovisual, konservasi warisan budaya, hingga pengembangan industri kreatif. 

Seorang etnomusikolog turun langsung ke kampung-kampung untuk merekam pertunjukan, mewawancarai para maestro, menuliskan notasi musik, menganalisis makna budaya, mendokumentasikan alat musik, dan membangun arsip digital yang dapat diakses oleh generasi mendatang maupun komunitas ilmiah internasional.

Dengan demikian, setiap penelitian bukan sekadar memenuhi kewajiban akademik, melainkan menjadi bagian dari upaya menyelamatkan memori kolektif masyarakat Flores. 

Sebab pada akhirnya, yang harus diwariskan kepada generasi berikutnya bukan hanya bunyi musik tradisional, melainkan seluruh pengetahuan dan nilai-nilai kehidupan yang hidup di dalamnya. 

Itulah alasan mengapa Flores membutuhkan lebih banyak akademisi musik, bukan hanya lebih banyak seniman. Hanya melalui penelitian yang berkelanjutan, kekayaan musikal Flores dapat terus hidup sebagai warisan budaya sekaligus sumber ilmu pengetahuan bagi dunia.

Mengapa Harus Ledalero?

IFTK Ledalero memiliki modal yang hampir tidak dimiliki kampus lain di Flores.

Selama hampir satu abad, Ledalero membangun tradisi intelektual melalui kajian filsafat, antropologi, bahasa, budaya, dan teologi. Dari kampus ini lahir banyak peneliti yang menjadikan Flores sebagai laboratorium ilmu pengetahuan.

Selain itu, SVD sebagai serikat yang menaungi panti pendidikan ini memiliki sejarah panjang dalam mengembangkan inkulturasi.

Mgr. Wilhelmus van Bekkum, SVD di Manggarai mendorong berkembangnya musik liturgi inkulturatif melalui tradisi Déré Serani. Di Mataloko-Ngadha, para misionaris seperti Pater Johannes Does, SVD (Poestardos) dan Pater Van der Heijden, SVD mengadaptasi melodi lokal dan alat musik tradisional ke dalam liturgi Gereja.

Jadi, sejatinya, jauh sebelum istilah etnomusikologi dikenal luas di Indonesia, para misionaris SVD telah mempraktikkan pendekatan etnomusikologis: mendengarkan budaya, memahami musik lokal, lalu menjadikannya ruang dialog antara Injil dan kebudayaan.

Warisan intelektual inilah yang layak dilestarikan dan dikembangkan.

Saatnya Melanjutkan Jejak Weber dan Kunst

Oleh karena itu, Ledalero tidak seharusnya berhenti pada konser, festival, atau tur musik.

Yang jauh lebih dibutuhkan Flores ialah sebuah Pusat Etnomusikologi yang memiliki mandat melakukan penelitian, membangun arsip digital, menerbitkan jurnal ilmiah, membuka Program Studi Etnomusikologi, serta mengembangkan inovasi industri kreatif berbasis musik tradisional.

Bayangkan, apabila dalam sepuluh tahun seluruh musik tradisional Flores berhasil didokumentasikan secara ilmiah. Ledalero bukan hanya menjadi pusat studi musik Indonesia Timur, tetapi juga menjadi rujukan para peneliti dunia sebagaimana dahulu Weber dan Kunst datang ke Flores untuk mempelajari kekayaan budaya masyarakatnya.

Momentum yang Tidak Boleh Dilewatkan

Tema "Abadon Menjelma Nada" mengajarkan bahwa musik mampu menyuarakan mereka yang tak terdengar.

Kini saatnya IFTK Ledalero memberi suara kepada musik-musik leluhur Flores yang selama ini belum memperoleh tempat yang layak dalam dunia akademik.

Sejarah mencatat bahwa Weber membuka mata dunia terhadap musikalitas masyarakat Flores. Jaap Kunst membuktikannya melalui penelitian ilmiah. Tantangan generasi sekarang bukan lagi menemukan kekayaan itu, melainkan menjaganya agar tidak hilang ditelan zaman.

Jika Ledalero berani mengambil langkah tersebut, kampus ini tidak sekadar melahirkan Program Studi Etnomusikologi pertama di Flores. Ledalero akan melanjutkan estafet sejarah yang dimulai lebih dari satu abad lalu: mengubah kekayaan budaya menjadi pengetahuan, pengetahuan menjadi warisan, dan warisan menjadi masa depan. (*)

*Penulis adalah alumnus Ledalero 1992, praktisi pendidikan dan Pemimpin Redaksi Floresku.com. ***

RELATED NEWS