Gubernur NTT Akui Gagal Cegah Aksi Siswa Bunuh Diri di Ngada

redaksi - Kamis, 05 Februari 2026 13:49
Gubernur NTT Akui Gagal Cegah Aksi Siswa Bunuh Diri di NgadaGubernur NTT dalam primetime newe MetroTV (sumber: MetroTv)

JAKARTA (Floresku.com) -  Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Melki Laka Lena, mengakui adanya kegagalan pemerintah daerah dan seluruh pranata sosial dalam mendeteksi secara dini tekanan hidup yang dialami seorang siswa Sekolah Dasar (SD) berinisial YBR (10) di Kabupaten Ngada, hingga berujung pada tindakan bunuh diri.

Dalam pernyataannya di program Primetime News Metro TV, Rabu (4/2), Melki menyampaikan keprihatinan mendalam dan menyebut tragedi ini sebagai tamparan keras bagi semua pihak. 

Ia menegaskan bahwa kegagalan tersebut tidak hanya berada pada pemerintah, tetapi juga melibatkan sistem pendidikan, masyarakat, hingga lembaga keagamaan dan adat.

“Pemerintah provinsi, kabupaten, desa, pranata sosial seperti sekola, agama dan adat, semua gagal. Pranata pendidikan gagal, pranata sosial gagal. Kita semua gagal sampai ada anak yang meninggal seperti ini,” ujar Melki.

Baca juga:

Kasus ini diduga dipicu kemiskinan ekstrem. Korban disebut mengalami tekanan psikologis karena tidak mampu membeli perlengkapan sekolah sederhana seperti buku dan pena.

 Namun menurut Melki, persoalan sesungguhnya bukan semata soal materi, melainkan hilangnya kepekaan sosial di lingkungan sekitar.

Ia juga menanggapi isu keluarga korban yang tidak menerima bantuan sosial. Menurutnya, keluarga tersebut sebenarnya terdaftar sebagai penerima, namun penyaluran terkendala masalah administrasi akibat perpindahan domisili.

“Ini menjadi pelajaran penting bagi kami untuk menyederhanakan sistem administrasi bantuan agar tidak ada lagi warga yang terlewat,” katanya.

Sementara itu, psikolog anak dan keluarga Sani Budiantini menilai anak dalam kemiskinan ekstrem kerap mengalami tekanan berlapis, baik secara fisik maupun emosional, sehingga membutuhkan perhatian khusus dari lingkungan.

Pemerintah NTT berjanji melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem perlindungan sosial dan data kemiskinan guna mencegah tragedi serupa terulang. ***

 

 

 

Editor: redaksi

RELATED NEWS