Kita Dipanggil Menjadi Anak-Anak Terang

redaksi - Sabtu, 14 Maret 2026 22:03
Kita Dipanggil Menjadi Anak-Anak TerangPater Gregor Nule SVD (sumber: Dokpri)

Pesan Inspiratif
 

Oleh: Pater Gregor Nule, SVD

Orang merasa tidak nyaman hidup dalam kegelapan. Ia tidak bisa bergerak bebas. Ia pun tidak dapat melakukan pekerjaan apa dengan baik dan berhasil.

Hal yang lebih buruk lagi ketika seseorang menjadi buta. Ia sangat tertekan karena ia sangat bergantung pada orang lain. Ia tidak bisa buat apa pun atas inisiatif dan kreativitas pribadi.

Orang buta sungguh menderita. Ia hanya bisa hidup, mempertahankan dan melanjutkan hidupnya apabila ada perhatian penuh kasih dan belas kasihan dari sesamanya.

Perikop Injil Yoh 9:1-41 melukiskan tentang pengalaman iman seorang buta sejak lahir. Pekerjaannya sehari-hari adalah mengemis supaya bisa mempertahankan hidupnya.

Ketika Yesus dan murid-muridNya lewat di tempat di mana orang buta berada, rupanya  mereka  peduli dan prihatin dengan keadaannya.

Maka mereka bertanya kepada Yesus,"Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya sehingga ia dilahirkan buta?", (Yoh 9:2).

Yesus menegaskan bahwa dia lahir buta bukan karena dosanya atau dosa orang tuanya. Tetapi, itulah misteri hidup manusia yang mesti dialaminya.

Dan, Yesus memanfaatkan kesempatan itu untuk menunjukkan kepada para muridNya dan orang buta itu pekerjaan Allah. Yesus mewartakan dan sekaligus membuktikan bahwa Dialah Terang Dunia.

Tetapi, peristiwa penyembuhan yang mendatangkan sukacita bagi orang yang lahir buta, orang-orang Farisi mempersoalkannya. Mereka justeru menuduh Yesus sebagai orang berdosa karena Dia tidak memelihara hukum Taurat.

Meski demikian,  si buta yang telah sembuh yakin bahwa Yesus adalah Putera Manusia, yang datang ke dunia untuk menyelamatkan seluruh umat manusia.

Sebagai pengikut  Yesus, mungkin dalam arti tertentu kita juga alami kebutaan. Bukan buta fisik. Mata kita bisa saja melihat. Tetapi, hati kita buta.

Kita tidak peduli terhadap sesama yang menderita. Kita hanya urus diri sendiri. Ketika melihat orang lain berhasil mungkin kita mulai iri hati dan cemburu.

Kita mohon kepada Yesus agar menyembuhkan kebutaan hati kita. Apabila hati kita telah sembuh maka kita akan lebih peka dan sensitif terhadap.penderitaan sesama.

Kita mesti bersukacita bersama mereka yang bersukacita, dan sebaliknya,  bersedih serta menangis dengan mereka yang bersedih dan menangis.

Semoga Tuhan Yesus menyembuhkan mata dan hati kita yang buta!

Kewapante, 15 Maret 2026. ***

RELATED NEWS