Minim Fasilitas dan Bahan Makanan, Balita 2 Tahun Meninggal di Pengungsian Puta

Redaksi - Kamis, 20 Agustus 2026 08:06
Minim Fasilitas dan Bahan Makanan, Balita 2 Tahun Meninggal di Pengungsian PutaCalvin Guru, 2 tahun (kiri), dan Calvin sedang digendong ibunya di tenda pengungsian di ats bukit. (sumber: Warga Puta)

MBAY (Floresku) – Duka menyelimuti warga Dusun Puta, Kelurahan Tunggungrambang, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, setelah seorang balita berusia dua tahun, Calvin Guru, meninggal dunia di tengah situasi pengungsian pascagempa.

Calvin, putra sulung Paskalis Guru, semula dikenal sebagai anak yang sehat dan ceria. Namun, setelah beberapa hari berada di lokasi pengungsian di atas bukit terbuka, kondisi kesehatannya tiba-tiba menurun.

Lokasi pengungsian warga berada di kawasan perbukitan sabana yang terbuka. Pada malam hari, warga harus menghadapi udara dingin dan hembusan angin yang cukup kencang. Kondisi tersebut semakin berat karena fasilitas dasar di tempat pengungsian masih sangat terbatas.

Mikael, salah seorang kerabat Calvin, mengatakan kondisi Calvin mulai mengkhawatirkan pada Selasa siang ketika tubuhnya mengalami demam.

Keluarga kemudian membawa Calvin ke RSUD Aeramo untuk mendapatkan penanganan. Karena kondisinya membutuhkan perawatan lebih lanjut, Calvin dirujuk ke RSUD Bajawa.

Namun, upaya tersebut tidak berhasil menyelamatkan nyawanya.

“Selasa siang Calvin demam. Melihat kondisinya memburuk, Calvin dibawa ke RSUD Aeramo. Namun, ia dirujuk ke RSUD Bajawa. Nyawanya tidak tertolong. Ia meninggal di Bajawa pada Rabu,” kata Mikael.

Menurut keterangan keluarga, Calvin mengembuskan napas terakhir sekitar pukul 15.00 WITA. Jenazahnya kemudian dibawa kembali ke Dusun Puta.

Kepergian Calvin menambah luka warga yang sejak gempa 15 Agustus 2026 harus meninggalkan rumah dan menjalani kehidupan dalam kondisi darurat.

Mengungsi, tetapi Tak Ingin Meninggalkan Ternak

Dusun Puta berada di kawasan pesisir utara Mbay. Guncangan gempa dirasakan kuat oleh masyarakat di wilayah tersebut.

Setelah gempa, warga mengambil pilihan berbeda. Sebagian mengungsi ke arah Danga, sementara kelompok lainnya memilih menempati sebuah bukit yang lokasinya masih berdekatan dengan kampung.

Pilihan untuk bertahan di bukit berkaitan erat dengan kehidupan ekonomi warga. Mereka tidak ingin meninggalkan ternak yang selama ini menjadi bagian penting dari kehidupan keluarga.

Babi, kambing, dan sapi tetap dijaga meskipun pemiliknya sendiri harus tidur di bawah tenda darurat.

Karena itu, bukit di sekitar kampung menjadi tempat perlindungan sekaligus ruang untuk tetap mengawasi hewan-hewan ternak mereka.

Namun, keputusan tersebut membawa konsekuensi. Warga harus hidup di ruang terbuka dengan perlindungan yang sangat terbatas.

Tenda menjadi tempat berlindung bagi anak-anak, orang dewasa, dan lansia. Persediaan makanan dan air juga harus dibagi untuk seluruh pengungsi.

107 Pengungsi, Bantuan Masih Terbatas

Os Jo, warga yang berada di lokasi pengungsian, menyebut jumlah warga yang bertahan di bukit mencapai sekitar 107 orang. Di antara mereka terdapat balita dan lanjut usia.

Menurut Os, bantuan yang diterima warga hingga Rabu (19/8) masih sangat terbatas.

“Selama di tenda pengungsian, sampai Rabu kemarin, bantuan dari desa baru dua dos air mineral, beras dua kilogram dan telur dua papan,” ujarnya.

Bantuan tersebut harus menopang kebutuhan lebih dari seratus orang yang tinggal di lokasi pengungsian.

Kondisi ini membuat kebutuhan dasar warga menjadi persoalan mendesak. Selain makanan dan air minum, para pengungsi membutuhkan layanan kesehatan, obat-obatan, perlengkapan untuk anak-anak, selimut, penerangan, serta sanitasi yang layak.

Kebutuhan tersebut menjadi semakin penting karena terdapat balita dan lansia di antara para pengungsi.

Ketika Bencana Menyisakan Kerentanan

Bencana tidak hanya menghancurkan bangunan dan memaksa warga meninggalkan rumah. Bencana juga mengubah kehidupan sehari-hari secara drastis, terutama bagi anak-anak dan kelompok lanjut usia.

Bagi warga Puta, memilih tempat pengungsian bukan perkara sederhana. Mereka harus mempertimbangkan keselamatan keluarga sekaligus keberlangsungan hidup ekonomi yang bergantung pada ternak.

Di satu sisi, mereka membutuhkan lokasi yang aman. Di sisi lain, mereka tidak mungkin begitu saja meninggalkan hewan yang menjadi sumber penghidupan.

Kematian Calvin menjadi kabar duka yang mengguncang komunitas kecil tersebut. Namun, peristiwa itu sekaligus memperlihatkan pentingnya memastikan kelompok rentan memperoleh perhatian dalam setiap tahap penanganan bencana.

Tidak berarti bahwa kematian Calvin dapat secara langsung dikaitkan dengan kondisi pengungsian tanpa keterangan medis resmi. Namun, pengalaman keluarga dalam mencari pertolongan menunjukkan betapa pentingnya akses layanan kesehatan yang cepat bagi warga yang berada jauh dari fasilitas medis.

Bagi keluarga Calvin, perjalanan mencari pertolongan berakhir dengan kehilangan seorang anak.

Sementara bagi 107 warga yang masih bertahan di bukit, kehidupan harus terus berjalan.

Mereka masih harus melewati malam di dalam tenda, menjaga anak-anak, merawat orang tua, mencari makanan dan air, sekaligus memastikan ternak tetap hidup.

Di tengah situasi seperti itu, bantuan kemanusiaan bukan sekadar soal memenuhi kebutuhan logistik. Bantuan adalah cara untuk memastikan bahwa warga yang sedang berada dalam kondisi paling rapuh tetap merasa bahwa mereka tidak menghadapi bencana seorang diri.

Calvin telah pergi. Tetapi 107 warga Puta masih menunggu uluran tangan agar mereka dapat bertahan, pulih, dan kembali membangun kehidupan. (Silvia)

Editor: Redaksi

RELATED NEWS