OPINI — BAGIAN I: 'CAMINO FLORES': Satu Pulau, Banyak Jalan, Beragam Cerita

Redaksi - Kamis, 15 Oktober 2026 16:24
OPINI — BAGIAN I: 'CAMINO FLORES': Satu Pulau, Banyak Jalan, Beragam Cerita Peta Wisata Rohani Flores (sumber: BPOLBF)
(Dari Satu Jalur Ziarah Menuju Jaringan Perjalanan Peradaban)

Oleh Abraham Runga Mali

Saat Kementerian Pariwisata bersama Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) memperkenalkan Camino de Flores, penulis sedang merampung sebuah buku yang untuk sementara bertajuk Ziarah Agung Flores: Nusa Nipa, Pulau Bunga, dan Perjumpaan Peradaban.

Karena itu, penulis merespon peluncuran Rute Bajawa-Boawae-Ende sepanjang 70 kiometer itu melalui sebuah penajaman dan pelebaran perspektif. 

Intinya, ada banyak cara untuk mengenal sebuah pulau. Orang dapat datang untuk menikmati pantai, mendaki gunung, mengunjungi kampung adat, menyaksikan perayaan keagamaan, atau sekadar mencari keheningan di tengah alam.

Namun, ada cara lain yang mungkin lebih bermakna: berjalan mengikuti sebuah cerita.

Dalam perjalanan semacam itu, sebuah tempat tidak lagi dipahami sekadar sebagai destinasi. Gunung tidak hanya menawarkan panorama. Kampung adat bukan sekadar objek fotografi. Gereja tidak hanya menjadi bangunan bersejarah. 

Bahkan, jalan yang menghubungkan satu tempat dengan tempat lainnya dapat berubah menjadi ruang perjumpaan, pembelajaran, dan permenungan.

Pengalaman demikian telah berkembang di berbagai belahan dunia.

Di Spanyol, Camino de Santiago menjadi salah satu perjalanan ziarah paling terkenal. Orang-orang berjalan melintasi desa, kota kecil, ladang, dan perbukitan menuju Santiago de Compostela. 

Mereka datang dengan motivasi berbeda: iman, pencarian makna, sejarah, kebudayaan, bahkan keinginan menemukan kembali diri sendiri.

Baca juga:

Di Jepang, Ziarah Shikoku menghubungkan 88 kuil Buddha melalui perjalanan panjang yang mempertemukan spiritualitas, kedisiplinan, lanskap, dan kehidupan masyarakat.

Sementara itu, Via Francigena di Eropa memperlihatkan bagaimana jalur ziarah bersejarah dapat dihidupkan kembali menjadi jaringan perjalanan lintas wilayah.

Ketiganya memiliki latar belakang dan karakter berbeda. Namun, ada satu kesamaan mendasar: perjalanan bukan semata-mata sarana mencapai tujuan. Jalan itu sendiri merupakan pengalaman.

Dari pengalaman tersebut, muncul sebuah pertanyaan menarik: mungkinkah Flores mengembangkan perjalanan serupa?

Jawabannya bukan hanya mungkin. Flores justru memiliki kekayaan geografis, historis, budaya, dan spiritual yang memungkinkan lahirnya berbagai bentuk perjalanan.

Karena itu, persoalannya bukan lagi sekadar di mana sebuah Camino Flores harus dimulai dan berakhir.

Pertanyaannya lebih luas: berapa banyak camino yang dapat dibangun di Flores, dan cerita apa yang hendak disampaikan melalui setiap perjalanan tersebut?

Dari Satu Camino Menuju Banyak Jalan

Gagasan pengembangan Camino de Flores yang mulai diperkenalkan melalui jalur perjalanan di kawasan Bajawa, Boawae, dan Ende merupakan sebuah inisiatif menarik.

Inisiatif semacam ini patut diapresiasi karena menawarkan pendekatan pariwisata yang berbeda dari pola kunjungan konvensional.

Wisatawan tidak hanya diajak berpindah dari satu objek wisata ke objek lainnya. Mereka memperoleh kesempatan berjalan, mengenal kehidupan masyarakat, memahami lanskap, dan mengalami perjalanan secara lebih mendalam.

Pendekatan ini juga membuka kemungkinan untuk memperluas manfaat pariwisata Flores.

Selama ini, perhatian terhadap Flores sering terkonsentrasi pada sejumlah destinasi unggulan, terutama Labuan Bajo. Sementara itu, kekayaan budaya, sejarah, dan alam yang tersebar di sepanjang pulau belum seluruhnya terhubung dalam sebuah pengalaman perjalanan yang utuh.

Namun, pengembangan Camino Flores sebaiknya tidak berhenti pada satu jalur atau satu model perjalanan.

Flores terlalu kaya untuk dibatasi oleh satu cerita. Sebuah perjalanan spiritual tidak harus mencakup seluruh pengalaman geologi Flores. Demikian pula perjalanan kebumian tidak harus menjadi bagian dari ziarah keagamaan.

Perjalanan sejarah kebangsaan memiliki logikanya sendiri. Begitu pula perjalanan memasuki kehidupan masyarakat adat.

Semua itu dapat berkembang secara berdampingan, dengan karakter, tujuan, dan pengalaman yang berbeda.

Dari sinilah muncul gagasan Camino Flores: A Network of Journeys.

Sebuah jaringan perjalanan yang memungkinkan orang mengenal Flores melalui berbagai pintu masuk. Satu pulau, banyak jalan, beragam cerita.

Flores sebagai Nusa Nipa dan Taman Peradaban

Gagasan tersebut sesungguhnya berangkat dari pemahaman yang lebih mendasar mengenai identitas Flores.

Dalam buku Ziarah Agung Flores: Nusa Nipa, Pulau Bunga, dan Perjumpaan Peradaban, saya mencoba membaca Flores melalui dua metafora besar.

Pertama, Nusa Nipa atau Pulau Ular.

Metafora ini memandang Flores sebagai satu tubuh geografis yang memanjang dari barat menuju timur. Setiap wilayah menjadi bagian dari tubuh yang sama, saling terhubung dan saling membutuhkan.

Kedua, Flores atau Pulau Bunga.

Dalam metafora ini, Flores dipahami sebagai taman peradaban yang memiliki banyak warna, bahasa, tradisi, lanskap, dan pengalaman sejarah.

Manggarai bukan Ngada. Ngada bukan Nagekeo. Ende-Lio memiliki kekhasan yang berbeda dari Sikka, sebagaimana Lamaholot mempunyai dunia kebudayaannya sendiri.

Namun, semua perbedaan tersebut tidak harus menjadi alasan untuk berjalan sendiri-sendiri.

Justru keragaman itulah yang membuat Flores layak dipahami sebagai sebuah taman peradaban.

Nusa Nipa memberikan struktur kesatuan. Flores memberikan isi berupa keragaman.

Dalam konteks pengembangan camino, kedua metafora tersebut dapat dipertemukan.

Flores merupakan satu pulau yang memiliki banyak kemungkinan perjalanan. Setiap camino dapat menawarkan pengalaman berbeda, tetapi seluruhnya terhubung melalui kesadaran bahwa mereka merupakan bagian dari satu ruang geografis dan peradaban.

Dengan pemahaman demikian, Camino Flores bukan sekadar pengembangan produk wisata. Ia dapat menjadi cara baru membaca identitas sebuah pulau.

Camino Spiritual: Menelusuri Jejak Iman

Salah satu jalan yang paling memungkinkan untuk dikembangkan adalah Camino Spiritual.

Flores memiliki tradisi Katolik yang kuat, sejarah panjang penyebaran agama, serta kekayaan spiritualitas yang tumbuh melalui perjumpaan antara iman dan kebudayaan lokal.

Larantuka menempati posisi penting dalam sejarah tersebut.

Devosi kepada Tuan Ma, tradisi Semana Santa, serta pengalaman keagamaan masyarakat menjadikan kota ini salah satu pusat spiritualitas Katolik yang khas di Indonesia.

Namun, spiritualitas Flores tidak hanya berada di Larantuka.

Ia juga hadir dalam sejarah misi, pendidikan calon imam, kehidupan komunitas religius, tempat-tempat doa, dan tradisi masyarakat yang menghubungkan iman dengan kehidupan sehari-hari.

Camino Spiritual dapat menghubungkan pusat-pusat pengalaman tersebut melalui perjalanan yang dirancang secara tematik.

Sebagian etape dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Sebagian lainnya dapat dihubungkan menggunakan kendaraan atau transportasi laut.

Yang terpenting bukan sekadar mengunjungi gereja demi gereja.

Perjalanan harus memungkinkan seseorang memahami bagaimana iman tumbuh, bagaimana kebudayaan memengaruhi ekspresi spiritual, serta bagaimana masyarakat menghayati nilai-nilai religius dalam kehidupan mereka.

Dengan demikian, peziarah tidak hanya menjadi pengunjung.

Ia memasuki sebuah pengalaman refleksi. Camino Spiritual juga dapat dikembangkan tanpa menghilangkan kekhasan tradisi Katolik Flores, sekaligus tetap menghormati keberagaman keyakinan dan kehidupan masyarakat setempat.

Camino Kebumian: Membaca Cerita yang Ditulis Bumi

Flores bukan hanya pulau dengan tradisi spiritual dan kebudayaan yang kaya.

Flores juga merupakan wilayah yang dibentuk oleh kekuatan geologi yang terus bekerja.

Gunung api, aktivitas tektonik, gempa bumi, dan bentang alam vulkanik telah menjadi bagian penting dari sejarah kehidupan masyarakat.

Dari kenyataan tersebut, Camino Kebumian dapat dikembangkan. Mungkin kita bisa menamakan sebagai Camino de la Tierra Flores

Perjalanan ini mengajak pengunjung memahami Flores melalui hubungan antara manusia dan bumi yang ditempatinya.

Jalur dapat dimulai dari Labuan Bajo dan kawasan Taman Nasional Komodo, kemudian bergerak menuju wilayah-wilayah dengan karakter geologi yang berbeda.

Ulumbu menawarkan pengalaman mengenai pemanfaatan energi panas bumi. Mataloko dan Wogo membuka ruang pembelajaran mengenai lanskap vulkanik, pengembangan geotermal, serta hubungan antara kegiatan pembangunan dan kehidupan masyarakat.

Sokoria dan Kelimutu menghadirkan pengalaman lain melalui aktivitas vulkanik dan bentang alam pegunungan.

Gunung Inerie, Ebulobo, Egon, Lewotobi, dan sejumlah kawasan vulkanik lainnya dapat menjadi titik pengamatan dalam jaringan perjalanan yang dirancang berdasarkan kondisi akses dan keselamatan.

Namun, salah satu bagian terpenting dari Camino Kebumian justru dapat ditemukan di Maumere. Gempa bumi dan tsunami Flores pada 1992 meninggalkan pengalaman sejarah yang mendalam.

Bencana tersebut bukan hanya peristiwa geologi. Ia merupakan bagian dari ingatan kolektif masyarakat Flores.

Karena itu, gagasan membangun Museum atau Pusat Interpretasi Gempa Flores di Maumere patut dipertimbangkan.

Tempat tersebut dapat menyimpan dokumentasi bencana, menghadirkan kesaksian penyintas, menjelaskan proses geologi, serta menjadi pusat pendidikan mitigasi bencana.

Perjalanan kemudian dapat dilanjutkan melalui ekspedisi laut menuju Palue, kawasan Lewotobi, dan Lembata.

Di wilayah-wilayah tersebut, pengunjung dapat mempelajari bagaimana masyarakat hidup berdampingan dengan gunung api serta menghadapi tantangan keselamatan dan pembangunan.

Tentu saja, Camino Kebumian tidak boleh berubah menjadi promosi sepihak terhadap proyek geotermal.

Perjalanan ini justru perlu menghadirkan pengetahuan ilmiah, pengalaman masyarakat, persoalan lingkungan, dan perdebatan mengenai pemanfaatan sumber daya alam secara berimbang.

Bumi Flores merupakan sumber kehidupan sekaligus ruang yang menyimpan risiko. Karena itu, pertanyaan terpenting dari perjalanan ini adalah bagaimana pengetahuan tentang bumi dapat diubah menjadi keselamatan, energi, dan kesejahteraan masyarakat.

Camino Leluhur: Menemukan Pengetahuan dalam Kebudayaan

Jalan ketiga yang bisa dibayangkan dan diciptakan adalah Camino Leluhur.

Flores memiliki dunia kebudayaan yang dibangun selama berabad-abad melalui hubungan manusia dengan tanah, leluhur, rumah adat, bahasa, musik, tenun, dan ritual.

Selama ini, kampung adat kerap ditempatkan sebagai objek kunjungan wisata. Wisatawan datang, mengambil foto, menyaksikan pertunjukan, kemudian melanjutkan perjalanan.

Padahal, kampung adat merupakan ruang pengetahuan yang jauh lebih dalam.

Rumah tradisional menyimpan pandangan tentang hubungan keluarga dan komunitas. Tenun menghadirkan simbol serta ingatan lintas generasi. Musik dan tarian mengandung pengalaman sejarah dan cara masyarakat memahami kehidupan.

Camino Leluhur dapat menghubungkan berbagai pusat kebudayaan Flores.

Wae Rebo, Bena, Nggela, serta kampung-kampung adat lainnya dapat menjadi bagian dari jaringan perjalanan, sepanjang masyarakat setempat menghendaki dan memiliki kesiapan untuk menerima kunjungan.

Wisatawan tidak hanya datang untuk melihat. Mereka dapat belajar dari penjaga tradisi, mendengarkan sejarah lisan, memahami aturan adat, dan menyaksikan bagaimana kebudayaan terus beradaptasi.

Prinsip terpentingnya adalah masyarakat adat harus menjadi pemilik utama pengalaman tersebut. Mereka bukan objek tontonan, melainkan tuan rumah dan penutur cerita.

Melalui pendekatan ini, Camino Leluhur juga dapat menghidupkan ekonomi lokal.

Pemandu, penenun, musisi, pengrajin, pemilik penginapan, dan pelaku usaha kecil dapat memperoleh manfaat dari perjalanan yang dibangun secara bertanggung jawab.

Pada saat yang sama, generasi muda memperoleh kesempatan untuk memahami bahwa kebudayaan bukan sekadar warisan masa lalu.

Ia merupakan sumber pengetahuan dan identitas bagi masa depan.

Camino Kebangsaan: Dari Ende Membaca Indonesia

Flores juga memiliki tempat penting dalam perjalanan sejarah Indonesia.Salah satu simpul utamanya adalah Ende.

Di kota ini, Soekarno menjalani masa pengasingan dan mengalami perjumpaan dengan masyarakat yang memiliki latar belakang sosial, agama, dan kebudayaan berbeda.

Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan intelektual dan politiknya.

Camino Kebangsaan dapat menjadikan Ende sebagai pusat perjalanan sejarah dan refleksi kewargaan.

Pengunjung tidak hanya diajak melihat rumah pengasingan Bung Karno atau mengunjungi tempat-tempat bersejarah.

Mereka diajak memahami bagaimana gagasan mengenai bangsa Indonesia tumbuh melalui pergulatan sejarah dan perjumpaan manusia.

Namun, perjalanan ini tidak boleh berhenti pada romantisme masa lalu.

Camino Kebangsaan harus menghadirkan pertanyaan yang tetap relevan hingga hari ini.

Bagaimana masyarakat berbeda agama dan kebudayaan hidup berdampingan? Bagaimana keragaman dapat menjadi kekuatan bersama? Bagaimana pengalaman masyarakat Flores dapat memberikan pelajaran tentang Indonesia?

Dengan demikian, Camino Kebangsaan dapat berkembang menjadi perjalanan pendidikan bagi pelajar, mahasiswa, komunitas sejarah, dan wisatawan yang ingin memahami Indonesia dari pengalaman konkret masyarakatnya.

Camino Masa Depan: Menyaksikan Flores yang Sedang Berubah

Jalan kelima bisa menawarkan pendekatan yang berbeda.

Jika empat camino sebelumnya banyak mengajak pengunjung menelusuri sejarah, alam, dan warisan kebudayaan, Camino Masa Depan mengajak mereka melihat perubahan yang sedang berlangsung.

Flores menghadapi tantangan besar dalam bidang energi, pertanian, pendidikan, teknologi, lingkungan, dan kesempatan ekonomi.

Namun, tantangan tersebut juga menyimpan kemungkinan bagi lahirnya inovasi. Pengembangan energi terbarukan, pertanian berkelanjutan, ekonomi digital, pendidikan, dan usaha berbasis komunitas dapat menjadi bagian dari perjalanan ini.

Gagasan Flores sebagai Smart Island 2045, misalnya, dapat diterjemahkan menjadi perjalanan pembelajaran mengenai bagaimana sebuah pulau membangun masa depannya.

Pengunjung dapat bertemu dengan petani yang mengembangkan model usaha baru, komunitas yang memanfaatkan teknologi, lembaga pendidikan yang memperkenalkan inovasi, atau masyarakat yang berusaha mengelola sumber daya alam secara lebih bertanggung jawab.

Namun, perjalanan ini harus menghadirkan kenyataan, bukan sekadar janji pembangunan.

Yang penting bukan hanya teknologi apa yang digunakan, melainkan siapa yang memperoleh manfaat.

Apakah masyarakat mempunyai akses terhadap energi dan pendidikan? Apakah generasi muda mendapatkan kesempatan bekerja? Apakah inovasi meningkatkan kesejahteraan? Apakah lingkungan tetap terlindungi?

Dengan demikian, Camino Masa Depan dapat menjadi ruang dialog antara masyarakat lokal, pemerintah, dunia usaha, akademisi, peneliti, dan diaspora Flores.

Satu Pulau, Banyak Cara untuk Berjumpa

Kelima camino atau bisa ditambahkan jumlahnya sebagai hasil penelitian yang serius memperlihatkan bahwa kekayaan Flores tidak dapat dirangkum dalam satu jenis perjalanan.

Camino Spiritual mengajak orang memasuki pengalaman iman. Camino Kebumian membuka pemahaman mengenai kekuatan bumi dan ketahanan manusia.

Camino Leluhur menghadirkan pengetahuan kebudayaan. Camino Kebangsaan menghubungkan sejarah Flores dengan perjalanan Indonesia.

Sementara Camino Masa Depan mengajak orang memahami arah perubahan dan pembangunan.

Kelima jalan tersebut tidak perlu saling bersaing. Mereka juga tidak harus sepenuhnya terpisah. Pada titik tertentu, perjalanan dapat saling bertemu.

Seorang peziarah yang datang ke Larantuka mungkin tertarik melanjutkan perjalanan menuju kampung-kampung adat.

Mahasiswa yang mempelajari geologi Kelimutu dapat mengunjungi Ende untuk memahami sejarah kebangsaan.

Peneliti yang datang ke Maumere untuk mempelajari gempa bumi dapat bertemu dengan masyarakat dan mempelajari bagaimana kehidupan dibangun kembali setelah bencana.

Dari perjumpaan semacam inilah jaringan perjalanan memperoleh maknanya.

Flores tidak perlu menjadi tiruan Camino de Santiago, Ziarah Shikoku, atau Via Francigena. Flores harus menemukan bentuknya sendiri.

Sebab, keistimewaan pulau ini bukan terletak pada kemampuannya meniru pengalaman perjalanan dari tempat lain.

Keistimewaannya justru berada pada kemampuannya mempertemukan berbagai pengalaman manusia dalam satu ruang geografis dan peradaban.

Camino Flores: A Network of Journeys adalah tawaran untuk membaca Flores sebagai satu pulau dengan banyak jalan dan beragam cerita.

Namun, gagasan ini baru menjadi bermakna apabila dapat diterjemahkan menjadi jaringan perjalanan yang dikelola bersama, memberikan kehidupan bagi masyarakat, dan menjaga martabat alam serta kebudayaan Flores.

Di situlah tantangan berikutnya dimulai.

 

 

Editor: Redaksi
‌‌
‌‌

RELATED NEWS