OPINI — BAGIAN II: 'CAMINO FLORES'. Membangun Ekonomi Perjumpaan

Redaksi - Jumat, 16 Oktober 2026 12:12
OPINI — BAGIAN II:  'CAMINO FLORES'. Membangun Ekonomi PerjumpaanUmat Katolik saat berzirah di Kodidewa, Paroki St Martinus, Nangaroro (sumber: Facebook)

(Dari Jaringan Perjalanan Menuju Ekosistem Pariwisata Flores)

Oleh Abraham Runga Mali

Flores tidak kekurangan destinasi wisata. Pulau ini memiliki pantai, gunung, danau, kampung adat, tradisi keagamaan, peninggalan sejarah, serta kekayaan kebudayaan yang tersebar dari barat hingga timur.

Yang masih menjadi tantangan adalah bagaimana seluruh kekayaan tersebut dapat dihubungkan menjadi pengalaman perjalanan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Selama ini, pariwisata cenderung dikembangkan melalui pendekatan destinasi.

Sebuah tempat dipromosikan karena keindahan alamnya. Tempat lain dikenal melalui tradisi budaya. Kawasan tertentu berkembang karena dukungan infrastruktur dan investasi.

Pendekatan tersebut memang menghasilkan kemajuan. Namun, perkembangan pariwisata antardaerah tidak selalu berlangsung secara merata.

Ada wilayah yang memperoleh perhatian besar, sementara wilayah lain masih menunggu kesempatan.

Ada masyarakat yang memperoleh manfaat ekonomi secara langsung, tetapi tidak sedikit pula yang hanya menjadi penonton dari perkembangan pariwisata di tanahnya sendiri.

Karena itu, pengembangan Camino Flores sebagai jaringan perjalanan menawarkan kemungkinan pendekatan yang berbeda.

Bukan hanya membangun lebih banyak destinasi, melainkan menghubungkan berbagai wilayah melalui cerita, pengalaman, dan kegiatan ekonomi.

Inilah yang dapat disebut sebagai pembangunan ekonomi perjumpaan.

Lapak penjuangan Kain Tenun Tradisional di Flores (Sumber: Kelanakecil.com)

Dari Ekonomi Destinasi Menuju Ekonomi Perjalanan

Dalam model pariwisata konvensional, keberhasilan sering diukur melalui jumlah kunjungan wisatawan.

Semakin banyak orang datang, semakin besar keberhasilan yang dianggap telah dicapai.

Namun, jumlah kunjungan tidak selalu menunjukkan seberapa besar manfaat ekonomi yang diterima masyarakat.

Seribu wisatawan yang hanya singgah sebentar belum tentu menghasilkan manfaat lebih besar bagi ekonomi lokal dibandingkan wisatawan yang tinggal lebih lama, menggunakan jasa masyarakat, membeli produk lokal, dan melakukan perjalanan ke berbagai wilayah.

Karena itu, ukuran keberhasilan pariwisata perlu diperluas. Yang penting bukan hanya berapa banyak wisatawan datang, tetapi juga berapa lama mereka tinggal, ke mana mereka bergerak, dan siapa yang memperoleh manfaat dari pengeluaran mereka.

Camino Flores menawarkan kemungkinan untuk menjawab persoalan tersebut. Bayangkan seorang wisatawan datang ke Flores untuk mengikuti Camino Spiritual.

Ia mungkin memulai perjalanan dari satu pusat ziarah, menginap di penginapan milik masyarakat, menggunakan jasa pemandu lokal, membeli makanan setempat, dan mempelajari tradisi masyarakat yang dikunjunginya.

Baca juga:

Perjalanan itu dapat berlangsung selama beberapa hari. Pada kesempatan berikutnya, wisatawan yang sama mungkin kembali untuk mengikuti Camino Kebumian atau Camino Leluhur.

Dengan demikian, satu kunjungan dapat membuka kemungkinan bagi kunjungan berikutnya.

Pariwisata tidak lagi hanya bergantung pada daya tarik satu destinasi, melainkan pada hubungan antardestinasi dan pengalaman yang ditawarkan. Dari sinilah ekonomi perjalanan mulai terbentuk.

Satu Jaringan, Bukan Lima Proyek Terpisah

Pengembangan lima camino atau lebih tentu membutuhkan sumber daya, pengetahuan, infrastruktur, dan kelembagaan yang tidak sedikit.

Karena itu, gagasan Camino Flores: A Network of Journeys tidak seharusnya dimulai dengan membangun seluruh jalur secara serentak.

Langkah pertama adalah menyusun kerangka bersama.

Kelima camino perlu ditempatkan dalam satu ekosistem, tetapi masing-masing tetap memiliki karakter dan pengelolaan yang sesuai dengan kebutuhan.

Camino Spiritual, misalnya, membutuhkan keterlibatan lembaga keagamaan, komunitas peziarah, serta masyarakat penjaga tradisi.

Camino Kebumian memerlukan kerja sama dengan ahli geologi, lembaga pendidikan, komunitas lingkungan, otoritas kebencanaan, dan masyarakat sekitar kawasan geologi.

Camino Leluhur harus menempatkan masyarakat adat sebagai pemegang kewenangan utama terhadap kegiatan yang berlangsung di wilayah mereka.

Sementara itu, Camino Kebangsaan dan Camino Masa Depan membutuhkan keterlibatan lembaga pendidikan, komunitas sejarah, pemerintah, dunia usaha, dan berbagai kelompok masyarakat.

Perbedaan tersebut tidak perlu dihapus. Justru keberagaman model pengelolaan merupakan salah satu kekuatan jaringan ini.

Yang diperlukan adalah kesepakatan mengenai standar bersama.

Setiap camino harus memiliki narasi yang jelas, peta perjalanan, informasi akses, standar keselamatan, materi interpretasi, serta mekanisme pembagian manfaat ekonomi yang adil.

Tidak semua jalur harus ditempuh dengan berjalan kaki. Sebagian perjalanan dapat berbentuk etape pejalan kaki. Sebagian lain dapat menggunakan kendaraan atau transportasi laut untuk menghubungkan titik-titik yang berjauhan.

Namun, penggunaan istilah camino perlu tetap mempertahankan pengalaman perjalanan yang mendalam.

Jangan sampai camino hanya menjadi nama baru bagi paket wisata biasa.

Masyarakat sebagai Pemilik Cerita

Salah satu persoalan mendasar dalam pengembangan pariwisata adalah posisi masyarakat lokal.

Dalam banyak pengalaman pengembangan destinasi, masyarakat sering dilibatkan ketika sebuah proyek telah dirancang.

Mereka diminta menyediakan penginapan, makanan, jasa transportasi, atau pertunjukan budaya. Padahal, masyarakat bukan hanya penyedia layanan.

Mereka merupakan pemilik ruang hidup, pengetahuan, sejarah, dan kebudayaan yang menjadi dasar pengalaman wisata.

Karena itu, Camino Flores perlu dibangun melalui pendekatan yang menempatkan masyarakat sebagai subjek utama.

Masyarakat harus terlibat sejak perencanaan jalur, pemilihan cerita, penentuan kegiatan, dan penyusunan aturan kunjungan.

Di kampung adat, misalnya, masyarakat berhak menentukan bagian mana yang dapat dikunjungi dan bagian mana yang harus tetap dilindungi.

Ritual sakral tidak boleh otomatis diubah menjadi pertunjukan wisata. Pengetahuan tradisional juga tidak boleh digunakan tanpa penghormatan terhadap pemiliknya.

Demikian pula di kawasan geologi atau lingkungan yang rentan.

Keselamatan pengunjung dan perlindungan ekosistem harus menjadi pertimbangan utama.

Prinsip ini penting karena pariwisata yang kehilangan penghormatan terhadap masyarakat dan lingkungan pada akhirnya akan merusak sumber daya yang membuatnya menarik.

Camino Flores harus menghindari keadaan tersebut. Perjalanan perlu menghasilkan hubungan yang saling menghormati antara pengunjung dan masyarakat.

Wisatawan datang sebagai tamu, bukan sebagai pihak yang berhak menentukan bagaimana kebudayaan setempat ditampilkan.

Membangun Platform Bersama

Sebuah jaringan perjalanan membutuhkan sistem yang mampu menghubungkan banyak pihak.

Karena itu, Camino Flores dapat dikembangkan melalui satu platform informasi bersama. Platform tersebut tidak hanya berfungsi sebagai media promosi.

Ia dapat menyediakan peta perjalanan, pilihan jalur, informasi transportasi, daftar penginapan, jadwal kegiatan, panduan budaya, informasi keselamatan, serta layanan pemandu lokal.

Setiap camino dapat mempunyai halaman dan identitas tersendiri.

Pengunjung yang tertarik pada Camino Spiritual dapat memperoleh informasi mengenai pusat ziarah, tradisi, serta jadwal kegiatan keagamaan.

Mereka yang memilih Camino Kebumian dapat menemukan informasi mengenai kawasan geologi, pusat pembelajaran, kondisi akses, dan persyaratan keselamatan.

Sementara itu, Camino Leluhur dapat menghadirkan informasi yang disusun bersama masyarakat adat mengenai sejarah, tata cara kunjungan, dan pengalaman budaya yang dapat diikuti.

Platform yang sama juga dapat menghubungkan wisatawan dengan pelaku usaha lokal.

Dengan demikian, manfaat teknologi tidak berhenti pada promosi, tetapi menjadi sarana memperluas kesempatan ekonomi masyarakat.

Dalam jangka panjang, platform tersebut dapat dikembangkan menjadi sistem pengelolaan jaringan perjalanan Flores.

Namun, pengembangannya harus dilakukan secara bertahap, dimulai dari kebutuhan yang paling mendasar.

Teknologi seharusnya mempermudah perjalanan dan memperkuat masyarakat, bukan justru menambah beban bagi pengelola lokal.

Paspor Perjalanan dan Pengalaman Berulang

Salah satu gagasan yang dapat dipertimbangkan adalah pengembangan paspor perjalanan Camino Flores.

Dalam buku Ziarah Agung Flores, gagasan paspor peziarah telah diperkenalkan sebagai salah satu unsur yang dapat membangun identitas bersama sebuah perjalanan.

Konsep tersebut dapat diperluas menjadi paspor perjalanan tematik.

Setiap pengunjung memperoleh catatan atas tempat yang telah dikunjungi dan pengalaman yang telah dijalani.

Paspor tersebut dapat berbentuk buku fisik, sistem digital, atau kombinasi keduanya.

Namun, fungsinya tidak hanya sebagai koleksi cap perjalanan.

Ia dapat menjadi sarana untuk mengenal cerita setiap wilayah dan mendorong pengunjung melakukan perjalanan lanjutan.

Seseorang yang telah menyelesaikan sebagian Camino Spiritual, misalnya, dapat memperoleh informasi mengenai Camino Leluhur yang berdekatan dengan rutenya.

Pengunjung Camino Kebumian dapat diperkenalkan kepada perjalanan sejarah kebangsaan di Ende.

Dengan demikian, paspor perjalanan membantu membangun hubungan antara berbagai camino.

Dalam jangka panjang, sistem ini juga dapat memberikan gambaran mengenai pola perjalanan, lama tinggal, dan persebaran kunjungan, sepanjang data pengunjung dikelola secara bertanggung jawab.

Yang ingin dibangun bukan sekadar kebanggaan menyelesaikan sebuah rute. Lebih dari itu, setiap perjalanan diharapkan menjadi awal bagi pengalaman berikutnya.

Ekonomi yang Tumbuh di Sepanjang Jalan

Salah satu kelebihan pendekatan jaringan perjalanan adalah kemampuannya membuka ruang ekonomi di antara destinasi utama.

Selama ini, kegiatan wisata sering terkonsentrasi pada titik-titik tertentu.

Padahal, perjalanan dari satu tempat ke tempat lain melewati banyak kampung, pasar, kebun, dan komunitas yang memiliki potensi ekonomi.

Camino Flores dapat menjadikan wilayah-wilayah tersebut sebagai bagian dari pengalaman perjalanan.

Wisatawan dapat berhenti di kampung untuk menikmati makanan lokal.

Mereka dapat mengunjungi kebun kopi, belajar menenun, mendengarkan musik tradisional, atau mengikuti kegiatan pendidikan lingkungan.

Pengalaman sederhana semacam itu dapat memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.

Pemandu lokal memperoleh pekerjaan. Penginapan warga mendapatkan tamu. Petani dan pengrajin memiliki pasar baru. Namun, seluruh kegiatan tersebut harus dikembangkan secara wajar.

Tidak semua kampung perlu menjadi destinasi wisata. Tidak semua tradisi harus dibuka untuk pengunjung.

Pengembangan ekonomi harus mengikuti kesiapan masyarakat dan daya dukung lingkungan.

Keberhasilan Camino Flores tidak boleh dicapai dengan mengorbankan kehidupan masyarakat yang menjadi tuan rumah.

Siapa yang Harus Mengelola?

Gagasan sebesar Camino Flores tentu membutuhkan kelembagaan. Namun, kelembagaan tersebut tidak harus berbentuk satu organisasi besar yang menguasai seluruh jalur.

Model yang lebih memungkinkan adalah jaringan kolaboratif.

Pemerintah daerah dapat berperan dalam penyediaan infrastruktur dasar, koordinasi lintas wilayah, keselamatan, dan dukungan kebijakan.

Lembaga pendidikan dapat membantu penelitian, penyusunan materi interpretasi, serta pengembangan standar pemanduan.

Komunitas keagamaan dapat mengelola pengalaman spiritual sesuai tradisi masing-masing. Masyarakat adat memegang kendali atas pengalaman kebudayaan di wilayah mereka.

Pelaku usaha pariwisata dapat membantu pengembangan layanan perjalanan, sedangkan diaspora Flores dapat berkontribusi melalui jaringan pengetahuan, promosi, dan kemitraan.

Seluruh unsur tersebut dapat dipertemukan melalui forum koordinasi bersama. Forum ini tidak perlu menghapus kewenangan masing-masing pihak.

Tugas utamanya adalah membangun kesepakatan, menjaga standar, menghubungkan jalur, dan memastikan bahwa pengembangan Camino Flores tidak berjalan secara terfragmentasi. Dengan demikian, jaringan dapat tumbuh melalui kerja sama tanpa harus menyeragamkan seluruh pengalaman.

Memulai dari Beberapa Jalur Percontohan

Gagasan besar sering menghadapi persoalan ketika seluruhnya ingin diwujudkan sekaligus.

Karena itu, pengembangan Camino Flores perlu dilakukan secara bertahap. Langkah awal dapat dimulai dengan memetakan seluruh kemungkinan jalur, termasuk kesiapan masyarakat, akses transportasi, nilai sejarah, daya tarik, dan tingkat risiko.

Dari pemetaan tersebut, beberapa jalur dapat dipilih sebagai proyek percontohan.

Jalur yang dipilih tidak harus menjadi yang paling terkenal. Yang lebih penting adalah kesiapan masyarakat dan kemungkinan menghadirkan pengalaman perjalanan yang berkualitas.

Setiap jalur percontohan perlu mempunyai narasi, rute, pengelola, panduan, standar keselamatan, serta mekanisme evaluasi.

Hasilnya kemudian dapat digunakan untuk memperbaiki model sebelum diperluas ke wilayah lain.

Pendekatan bertahap juga memungkinkan masyarakat memperoleh waktu untuk mempersiapkan diri.

Dengan demikian, Camino Flores tidak tumbuh sebagai proyek yang dipaksakan dari atas, melainkan sebagai jaringan yang berkembang melalui pengalaman dan pembelajaran bersama.

Mengukur Keberhasilan dengan Cara Berbeda

Jika Camino Flores hendak menjadi pendekatan baru dalam pengembangan pariwisata, ukuran keberhasilannya juga harus berbeda.

Jumlah wisatawan tetap penting, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya indikator. Ada beberapa pertanyaan yang jauh lebih mendasar.

Berapa lama wisatawan tinggal di Flores? Berapa besar pengeluaran mereka yang benar-benar diterima oleh masyarakat lokal?

Berapa banyak pemandu, pengrajin, petani, dan pelaku usaha kecil memperoleh tambahan pendapatan?

Apakah masyarakat ikut menentukan pengelolaan perjalanan? Apakah situs budaya terlindungi? Apakah kualitas lingkungan tetap terjaga?

Ukuran keberhasilan juga harus mengikuti karakter masing-masing camino.

Bagi Camino Kebumian, kontribusi terhadap pendidikan geologi dan literasi kebencanaan merupakan indikator penting.

Bagi Camino Spiritual, penghormatan terhadap tradisi dan kualitas pengalaman refleksi menjadi ukuran yang relevan.

Bagi Camino Leluhur, keberlanjutan kebudayaan dan keterlibatan generasi muda harus mendapatkan perhatian.

Sementara itu, Camino Kebangsaan dapat dinilai melalui kontribusinya terhadap pendidikan sejarah dan penguatan kesadaran kebangsaan.

Camino Masa Depan dapat mengukur keberhasilannya melalui kualitas pembelajaran, keterlibatan komunitas, dan kemampuan menghadirkan inovasi yang dapat diperiksa manfaatnya.

Tidak semua ukuran harus diseragamkan. Namun, seluruh camino perlu memiliki satu komitmen bersama: perjalanan harus memberikan manfaat bagi masyarakat tanpa menghancurkan sumber kehidupan yang diwariskan kepada mereka.

Flores sebagai Ekosistem Perjumpaan

Pada akhirnya, gagasan Camino Flores tidak dapat dipisahkan dari cara kita memandang pembangunan pulau ini.

Flores bukan hanya kumpulan kabupaten yang masing-masing berlomba menarik wisatawan. Flores merupakan satu ruang geografis yang memiliki hubungan sejarah, kebudayaan, ekonomi, dan lingkungan.

Dalam metafora Nusa Nipa, setiap wilayah merupakan bagian dari satu tubuh. Kemajuan satu wilayah semestinya turut membuka kesempatan bagi wilayah lain.

Dalam metafora Pulau Bunga, setiap daerah memiliki kekhasan yang tidak perlu diseragamkan. Kekuatan Flores justru terletak pada kemampuan merawat keragaman dalam satu kesadaran bersama.

Camino Flores dapat menjadi salah satu cara untuk mempertemukan kedua gagasan tersebut.

Jaringan perjalanan membangun hubungan antardaerah, sedangkan pengalaman tematik menjaga keunikan setiap wilayah.

Melalui pendekatan tersebut, pariwisata tidak lagi hanya berbicara mengenai tempat yang dikunjungi. Ia juga berbicara mengenai hubungan yang dibangun, pengetahuan yang diperoleh, serta kehidupan masyarakat yang diperkuat.

Inilah inti ekonomi perjumpaan. Nilai ekonomi tidak semata-mata lahir dari transaksi antara wisatawan dan penyedia layanan.

Nilai itu juga tumbuh dari kesempatan masyarakat memperkenalkan pengetahuan, menjaga kebudayaan, mengembangkan usaha, dan membangun hubungan berkelanjutan dengan dunia luar.

Dari Jalan Menuju Gerakan Bersama

Flores tidak harus memiliki satu camino yang dianggap mewakili seluruh pengalaman pulau.

Pulau ini dapat memiliki banyak jalan, masing-masing dengan cerita dan karakter yang berbeda. Namun, banyaknya jalur tidak otomatis menghasilkan manfaat.

Tanpa tata kelola yang baik, jaringan perjalanan hanya akan menjadi kumpulan paket wisata dengan nama baru.

Tanpa keterlibatan masyarakat, camino dapat berubah menjadi proyek yang menjadikan kampung sebagai panggung dan penduduknya sebagai penonton.

Tanpa perlindungan lingkungan, perjalanan yang dimaksudkan untuk memperkenalkan keindahan Flores justru dapat mempercepat kerusakannya.

Karena itu, Camino Flores membutuhkan lebih dari sekadar rute dan promosi. Ia membutuhkan kesepakatan bersama mengenai arah pembangunan.

Pemerintah, masyarakat adat, Gereja dan komunitas keagamaan lainnya, lembaga pendidikan, dunia usaha, generasi muda, serta diaspora Flores perlu melihat jaringan perjalanan ini sebagai kesempatan membangun hubungan baru.

Bukan hanya hubungan antara wisatawan dan destinasi. Melainkan hubungan antara manusia, kebudayaan, alam, sejarah, dan masa depan.

Apabila dikembangkan dengan pendekatan demikian, Camino Flores dapat menjadi lebih dari sebuah program pariwisata.

Ia dapat menjadi gerakan untuk mengenal kembali Flores, memperkuat hubungan antardaerah, serta memperluas kesempatan ekonomi masyarakat.

Flores tidak harus meniru jalan ziarah dari belahan dunia lain. Flores dapat menciptakan jalannya sendiri.

Jalan yang lahir dari spiritualitas Larantuka, ingatan gempa Maumere, keagungan kampung adat, sejarah kebangsaan Ende, dinamika bumi, serta harapan masyarakat akan masa depan.

Semua jalan tersebut dapat bertemu dalam satu identitas bersama.

Camino Flores: A Network of Journeys.

Satu pulau, banyak jalan, beragam cerita. Dan setiap perjalanan semestinya tidak hanya memberikan alasan bagi dunia untuk datang ke Flores, tetapi juga memberikan alasan bagi masyarakat Flores untuk semakin mencintai, menjaga, dan membangun pulaunya sendiri.***

‌‌
‌‌

RELATED NEWS