Pengeroyokan Driver Ojol, Tantangan Baru Pariwisata Labuan Bajo
Redaksi - Jumat, 17 April 2026 10:57
Ilustrasi: Grab di halaman Bandara Internasional Labuan Bajo (sumber: AI)LABUAN BAJO (Floresku.com) – Insiden penganiayaan terhadap seorang pengemudi ojek online (ojol) di kawasan Bandara Internasional Komodo kembali menyoroti pentingnya keamanan di Labuan Bajo sebagai destinasi super prioritas nasional.
Korban diketahui bernama Donatus Darso. Ia mengaku mengalami trauma fisik dan psikis setelah dikeroyok oleh sekelompok orang pada Senin (13/4).
Peristiwa tersebut terjadi di sekitar area bandara yang menjadi pintu masuk utama wisatawan ke wilayah Manggarai Barat, NTT.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, terduga pelaku merupakan oknum dari AWSTAR (Asosiasi Angkutan Kendaraan Wisata Darat), yang selama ini beroperasi di kawasan wisata Labuan Bajo.
Insiden ini diduga berkaitan dengan konflik kepentingan dalam layanan transportasi wisata.
Baca juga:
- Bagi Allah Segalanya Mungkin
- KUR BRI Bantu Ras Farm Kembangkan Usaha Susu Kambing
- Mantri BRI Mala, Sosok di Balik Tumbuhnya Usaha Mikro di Lombok
Akibat kejadian tersebut, Donatus memilih tidak bekerja selama dua hari terakhir karena masih mengalami trauma.
“Trauma. Sudah dua hari tidak kerja,” ujarnya, Kamis (16/4).
Kasus ini telah dilaporkan ke Polres Manggarai Barat. Korban berharap aparat penegak hukum dapat bertindak tegas dan mengusut tuntas para pelaku. “Proses hukum dan diusut sampai tuntas,” tegasnya.
Peristiwa ini memantik perhatian publik karena terjadi di kawasan strategis pariwisata nasional yang terus dipromosikan pemerintah.
Keamanan wisatawan dan pelaku usaha, termasuk pengemudi transportasi online, menjadi faktor penting dalam menjaga citra Labuan Bajo sebagai destinasi kelas dunia.
Sejumlah pihak menilai perlu adanya penataan yang lebih jelas terkait regulasi transportasi wisata di kawasan tersebut, guna mencegah konflik antar pelaku usaha di lapangan.
Selain itu, penguatan pengawasan dan kehadiran aparat di titik-titik vital seperti bandara juga dinilai mendesak.
Insiden ini menjadi pengingat bahwa pembangunan pariwisata tidak hanya soal infrastruktur, tetapi juga menyangkut rasa aman dan keadilan bagi semua pihak. (Tari). ***

