Perang AS–Israel vs Iran Memanas, Trump Ancam Serangan Lebih Keras

redaksi - Minggu, 08 Maret 2026 17:16
Perang AS–Israel vs Iran Memanas, Trump Ancam Serangan Lebih KerasPresiden Amerika Serikat, Donald Trump berbicara tentang Iran, Sabtu (7/3). (sumber: Instragram usatoday)

JAKARTA (Floresku.com) – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah semakin memanas setelah konflik militer antara United States dan sekutunya Israel melawan Iran memasuki hari kedelapan tanpa tanda-tanda mereda. 

Situasi ini menimbulkan kekhawatiran dunia karena berpotensi memicu konflik yang lebih luas di kawasan tersebut.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa operasi militer terhadap Iran masih akan berlanjut. Dalam pernyataannya di media sosial Truth Social pada 7 Maret, Trump bahkan mengancam akan meningkatkan tekanan militer terhadap Teheran.

“Iran akan dipukul sangat keras,” tulis Trump dalam unggahan tersebut.

Trump juga mengklaim bahwa Iran telah menyampaikan permintaan maaf kepada sejumlah negara di Timur Tengah dan berjanji tidak lagi menyerang wilayah mereka. Ia menilai perubahan sikap itu terjadi setelah serangan intens yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel.

Baca juga:

Menurut Trump, tekanan militer tersebut membuat Iran kehilangan pengaruhnya di kawasan. Ia bahkan menyebut Iran bukan lagi kekuatan dominan di Timur Tengah.

“Iran tidak lagi menjadi pengganggu di Timur Tengah,” ujarnya.

Di tengah konflik yang terus berlangsung, situasi politik dalam negeri Iran dilaporkan semakin tidak menentu. Media Iran menyebut pemimpin tertinggi negara itu, Ali Khamenei, tewas dalam serangan pada tahap awal konflik. Lembaga ulama Assembly of Experts dilaporkan tengah mempersiapkan proses penunjukan pemimpin baru.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian sebelumnya menyatakan bahwa negaranya siap menghentikan serangan terhadap negara-negara tetangga, kecuali jika Iran kembali diserang.

Konflik yang melibatkan kekuatan militer besar ini juga berdampak pada ekonomi global. Ketegangan di jalur pelayaran strategis Strait of Hormuz memicu lonjakan harga energi dunia serta mengganggu perdagangan internasional dan jalur transportasi udara di kawasan Timur Tengah. (Sandra,- Sumber, Instragram: usatoday). ***

Editor: redaksi

RELATED NEWS