Pertama Kali ke Tiongkok, Petrus Sali: 'Rakyatnya Rajin, Negaranya Sejahtera'
Redaksi - Sabtu, 11 Juli 2026 10:09
Petrus Sali Afoan saat di Tiongkok, Juni 2026 lalu. (sumber: Dokpri)BANTEN (Floresku.com) - Bagi banyak orang, perjalanan ke luar negeri adalah kesempatan untuk menikmati tempat-tempat baru.
Namun bagi Petrus Sali Afoan, perjalanan perdananya ke Tiongkok justru menjadi pengalaman yang mengubah cara pandangnya tentang kerja keras, disiplin, dan kemajuan sebuah bangsa.
Pemilik Perusahaan Tobesmala Makmur Jaya itu baru saja kembali dari Negeri Tirai Bambu setelah menghabiskan lebih dari dua pekan di Desa Liangqi, wilayah Fuzhou.

Kunjungan yang berlangsung pada Juni 2026 lalu itu merupakan kali pertama putra dari keluarga petani sederhana tersebut menginjakkan kaki di luar Indonesia.
Pengalaman itu meninggalkan kesan yang sulit dilupakan.
Hampir setiap hari, Petrus menyaksikan denyut kehidupan masyarakat Tiongkok yang bergerak tanpa henti. Sejak pagi hingga malam, orang-orang tampak sibuk bekerja, namun tetap tertib dan disiplin menjalankan aktivitas masing-masing.
Baca juga:
“Yang paling saya kagumi dari Tiongkok itu rakyatnya. Rajin kerja semua. Dari pagi sampai malam kelihatan sibuk, tapi tertib,” tutur Petrus saat dihubungi melalui telepon.
Menurut ayah tiga anak—satu putra dan dua putri—kemajuan Tiongkok bukanlah sesuatu yang terjadi secara kebetulan. Ia melihat kesejahteraan masyarakat dibangun melalui perpaduan antara budaya kerja yang kuat, infrastruktur yang modern, dan keseriusan pemerintah dalam menata pembangunan.

Selama berada di sana, Petrus menyaksikan jalan-jalan yang tertata rapi, sistem transportasi yang cepat dan efisien, serta lingkungan yang bersih.
Baginya, semua itu mencerminkan sebuah negara yang bekerja dengan perencanaan yang matang dan didukung oleh masyarakat yang memiliki etos kerja tinggi.
“Masyarakat di sini hidupnya sejahtera. Tidak seperti kita di Indonesia,” ungkapnya.
Meski demikian, Petrus tidak bermaksud membandingkan kedua negara secara negatif. Sebaliknya, ia melihat perjalanan tersebut sebagai sumber inspirasi bagi Indonesia.
Ia percaya setiap bangsa memiliki peluang untuk maju apabila masyarakatnya memiliki kemauan bekerja keras dan terus meningkatkan kualitas diri.
“Negara itu sudah sangat sejahtera kalau dibandingkan dengan Indonesia. Tapi kuncinya satu: orangnya mau kerja keras dan pemerintahnya serius membangun,” katanya.

Bagi Petrus, perjalanan ke Tiongkok bukan sekadar memenuhi rasa ingin tahu atau menikmati destinasi baru.
Pengalaman itu menjadi ruang belajar yang memperlihatkan bahwa kemajuan sebuah negara tidak hanya ditentukan oleh kekayaan alam, tetapi juga oleh karakter masyarakatnya.
Sekembalinya ke Tanah Air, semangat baru tumbuh dalam dirinya. Ia ingin membawa pelajaran yang diperoleh selama berada di Tiongkok ke dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam mengembangkan usahanya dan memotivasi orang-orang di sekitarnya.
“Pulang dari sana saya berpikir, kita di Indonesia juga bisa. Asal kita semua rajin, disiplin, dan tidak pernah berhenti belajar. Kalau masyarakat dan pemerintah sama-sama bekerja untuk kemajuan bangsa, saya yakin Indonesia juga bisa menjadi negara yang semakin sejahtera,” tutup Petrus penuh optimisme. (Yosef N). ***

