Pesan Inspiratif: Yesus di Mata Orang Farisi dan Ahli Taurat

Redaksi - Jumat, 17 Juli 2026 06:37
Pesan Inspiratif: Yesus di Mata Orang Farisi dan Ahli TauratPater Gregor Nule SVD (sumber: Dokpri)

Oleh Pater Gregor Nule, SVD

Yesus berjalan keliling sambil mengajar dan menunjukkan kehendak Allah yang benar kepada para rasul dan pengikutNya.

Para murid dan kebanyakan orang yang datang kepada Yesus semakin dekat denganNya dan percaya kepadaNya.

Tetapi, dalam perikop Injil Mat 12:1-8 Yesus menampilkan sikap orang-orang Farisi yang sungguh bertentangan dengan ajaran, sikap dan tindakan Yesus.

Ketika Yesus bersama murid-muridNya melintasi ladang gandum, pada suatu hari Sabat, para murid merasa lapar. Mereka memetik gandum dan memakannya. Tetapi Yesus tidak bicara apa-apa. Mereka dibiarkan melakukan semuanya.

Melihat itu orang-orang Farisi mempersalahkan Yesus. Mereka mempertanyakan sikap dan tindakan Yesus itu. Mereka mengkritik Yesus. Mereka menyangka Yesus  tidak  perduli terhadap Hukum Taurat atau ingin meniadakannya.

Tetapi, sebetulnya Yesus menghormati Hukum Taurat. Hanya saja Yesus mau menunjukkan inti dan arti yang tepat dari Hukum Taurat.  Maka Dia justeru membela tindakan para muridNya.

Mereka memetik gandum dan memakannya karena mereka lapar. Bukan karena mereka tidak mau mentaati aturan Hukum Taurat atau sengaja melanggarnya.

Yesus mau menunjukkan hal yang paling penting dari Allah yakni kasih dan belas kasihan. Allah menghendaki agar manusia selamat dan hidup baik, bebas dari rasa lapar, haus, penyakit dan gangguan lainnya.

Yesus minta agar para pengeritikNya memahami Sabda Allah berikut dan berkata, "''Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan' tentu kalian tidak akan menghukum orang yang tidak bersalah", (Mat 12:7).

Yesus ingin sadarkan orang-orang Farisi agar tidak hanya mengkritik orang lain, khususnya orang-orang kecil, tetapi mereka mesti  mengintrospeksi diri sendiri.

Sebab mereka sering menutup kekurangan dan kesalahan mereka dengan mengkritik dan mempersalahkan orang lain, termasuk Yesus sendiri.

Mungkin tidak jarang kita bersikap dan bertindak seperti orang--orang Farisi dan ahli Taurat.

Kita lebih mudah melihat kekurangan, kelemahan dan kesalahan orang lain, lalu mengkritiknya.  Dengan demikian, kita sengaja menutup atau menyembunyikan kekurangan kita sendiri.

Mari kita datang kepada Yesus, mendengarkan ajaranNya dan berusaha hidup kritis baik terhadap diri maupun orang lain. Kita mulai dari diri sendiri sebelum kita menilai dan berbicara tentang orang lain.

Orang yang suka mengkritik, mengeluh dan mempersalahkan orang lain sebetulnya ia memiliki banyak kepincangan. Tetapi, mungkin ia tidak menyadarinya atau sengaja menutupinya.

Kita belajar menjadi tulus dan jujur. Kita mesti bersikap positif dan  berkata benar, baik terhadap diri sendiri  maupun orang lain.

Kita hindarkan sikap negatif, suka menghakimi dan menghukum. Kita datang kepada Yesus dan belajar daripadaNya sebab Dia rendah hati dan penuh belas kasihan.

Semoga Tuhan Yesus memberkati kita selalu!

Kewapante, 17 Julii 2026

Editor: Redaksi

RELATED NEWS