Adiós, Amigo: Ketika Bintang Terakhir Meninggalkan Langit Sepak Bola

Redaksi - Selasa, 21 Juli 2026 11:46
Adiós, Amigo: Ketika Bintang Terakhir Meninggalkan Langit Sepak BolaMessi terlihat menangis di lapangan MetLife Stadium, New Jersey, setelah pertandingan berakhir pada 19 Juli 2026 (sumber: Instagram.com)

Abraham Runga Mali

Entah mengapa, menjelang final Piala Dunia 2026 antara Spanyol dan Argentina, saya berkali-kali memutar lagu lama Jim Reeves, “Adiós Amigo”. 

Lagu itu terdengar seperti salam perpisahan yang datang terlalu dini—lembut, tetapi menyimpan firasat. Ketika lagu tersebut terdengar oleh beberapa pendukung Argentina dan Spanyol, seorang saudara spontan berkata, “Ini pertanda Argentina akan kalah. Barangkali ini perpisahan dengan Messi.”

Ucapan itu mula-mula terdengar seperti candaan. Namun, setelah Argentina takluk 0–1 melalui perpanjangan waktu, kalimat tersebut memperoleh gema yang berbeda.

 Di ujung pertandingan, Lionel Messi berdiri dalam kesedihan. Ia telah membawa negaranya ke final kedua secara beruntun, tetapi pada usia 39 tahun gagal mempertahankan mahkota dunia yang diraih empat tahun sebelumnya.

Messi seakan berkata kepada rekan-rekan setimnya: Perjalanan yang kita tempuh bersama kini berakhir. (The road we have travelled has come to an end)

Air mata pada malam itu bukan hanya milik seorang pemain yang kalah. Ia seperti mewakili kesedihan sebuah bangsa, sekaligus kegelisahan jutaan pencinta sepak bola yang menyadari bahwa suatu zaman sedang mendekati akhirnya. 

Baca juga: 

Seolah-olah Messi hendak mengatakan kepada Argentina: cukup aku saja yang menangis. Kalian jangan. “Don’t cry for me, Argentina.” Negeri ini akan selalu melahirkan anak-anak baru yang mengejar bola dengan mimpi yang sama.

Seorang legenda memang tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya berpindah dari lapangan rumput ke ruang abadi sejarah—tempat setiap sentuhan, umpan, dribel, dan golnya terus hidup dalam ingatan manusia.

Dua Putra Rosario, Dua Jalan Revolusi

Ketika membicarakan Lionel Andres Messi, saya selalu teringat pada nama lain yang juga lahir di Rosario: Ernesto “Che” Guevara. Keduanya mengubah dunia dengan cara yang sama sekali berbeda. Perbandingan ini tentu bersifat metaforis dan kultural, bukan usaha menyamakan gagasan politik Che dengan perjalanan olahraga Messi.

Sekadar diketahui, jauh sebelum wajahnya menjadi simbol revolusi dunia, Che memiliki kedekatan dengan olahraga. Ia pernah bermain sepak bola sebagai penjaga gawang, meskipun rugby kemudian menjadi olahraga yang lebih serius ditekuninya. 

Che juga tumbuh di tengah kebudayaan sepak bola Rosario—sebuah kota yang kelak melahirkan salah satu pesepak bola terbesar sepanjang masa.

Pada akhirnya, keduanya memilih jalan yang berlawanan. Che Guevara menempuh revolusi politik; Lionel Messi menjalankan revolusi sepak bola. 

Yang satu membawa senjata, yang lain membawa bola. Yang satu berbicara tentang perubahan melalui perjuangan sosial-politik, sedangkan yang lain memperlihatkan bahwa perubahan juga dapat lahir melalui kreativitas, disiplin, kerja sama, dan keindahan permainan.

Che mengubah cara sebagian orang memandang ketidakadilan. Messi mengubah cara dunia memahami kemungkinan di atas lapangan. Revolusi mereka berbeda dalam medan, tujuan, dan akibat, tetapi keduanya melampaui batas Argentina dan menjelma menjadi simbol global.

Rosario bukan London, Paris, Madrid, Barcelona, ataupun New York—bukan pusat kekuasaan dunia. Namun, dari kota itu lahir dua nama yang dikenal di hampir setiap benua. Ada pesan penting di sana: sejarah dunia tidak selalu ditulis dari pusat. Kadang-kadang, ia justru lahir dari pinggiran.

Barcelona dan Revolusi Permainan

Che belajar kedokteran sebelum memasuki pusaran revolusi Amerika Latin. Messi, sebaliknya, meninggalkan Rosario pada usia muda, belajar sepak bola di Akademi La Masia,  lalu membangun sebagian besar kehidupannya di FC Barcelona. Di kota itulah bakatnya memperoleh bahasa, struktur, dan panggung.

Barcelona memiliki identitas yang kuat: més que un club—lebih dari sekadar klub. Di lingkungan yang menekankan permainan posisi, kecerdasan ruang, akademi, dan identitas kolektif, Messi berkembang bukan hanya sebagai pencetak gol, melainkan sebagai pusat dari perubahan cara sepak bola dimainkan.

Bersama tim utama Barcelona pada 2004–2021, Messi tampil dalam 778 pertandingan dan mencetak 672 gol. Ia memenangkan 35 trofi utama: sepuluh gelar La Liga, tujuh Copa del Rey, delapan Piala Super Spanyol, empat Liga Champions UEFA, tiga Piala Super UEFA, dan tiga Piala Dunia Antarklub FIFA.

Angka-angka itu menempatkannya sebagai pencetak gol terbanyak dan pemain dengan penampilan terbanyak dalam sejarah Barcelona. Ia juga menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah La Liga serta salah satu figur sentral dalam dua raihan treble Barcelona, pada 2009 dan 2015.

Namun, kebesaran Messi di Barcelona tidak hanya dapat dijelaskan melalui statistik. Ia membuat sepak bola yang rumit terlihat sederhana. Ia mengubah ruang sempit menjadi jalan keluar, mengubah tekanan menjadi peluang, dan mengubah pertandingan menjadi pertunjukan. Pada dirinya, kemenangan dan keindahan tidak selalu harus dipertentangkan.

Argentina dan Kesempurnaan Sebuah Warisan

Jika Barcelona adalah tempat Messi membangun kebesarannya, Argentina adalah tempat ia menyempurnakan warisannya. Hubungannya dengan tim nasional tidak selalu mudah. Bertahun-tahun ia dibebani perbandingan dengan Diego Maradona dan dituntut untuk membuktikan kecintaannya kepada tanah kelahiran.

Ia pernah kalah dalam final Piala Dunia 2014 serta final Copa América 2007, 2015, dan 2016. Kekalahan-kekalahan itu menjadikannya sasaran kritik, seolah-olah seluruh nasib Argentina harus ditanggung oleh satu orang.

Akan tetapi, Messi tidak berhenti. Bersama Argentina, ia kemudian menjuarai Copa América 2021, Finalissima 2022, Piala Dunia 2022, dan Copa América 2024. Sebelumnya, pada kelompok usia muda, ia telah memenangkan Piala Dunia U-20 pada 2005 dan medali emas Olimpiade Beijing 2008.

Piala Dunia 2022 menjadi puncak perjalanan tersebut. Messi mencetak tujuh gol, termasuk dua gol pada final melawan Prancis, dan menerima Golden Ball sebagai pemain terbaik turnamen. Ia menjadi pemain pertama yang memenangkan Golden Ball Piala Dunia dua kali, setelah sebelumnya meraihnya pada 2014.

Empat tahun kemudian, ia kembali memimpin Argentina menuju final Piala Dunia 2026. Mereka akhirnya kalah 0–1 dari Spanyol setelah perpanjangan waktu.Ironinya, yang mengalahkan Messi dalam pertandingan itu adalah generasi muda yang bermain di Barcelona, dan Sebagian adalah alumni La Masia. 

Namun, tentu saja, kekalahan itu tidak menghapus kebesarannya. Justru di sanalah tampak bahwa warisan seorang pemain tidak hanya dibentuk oleh kemenangan, tetapi juga oleh keberanian untuk kembali berdiri setelah berkali-kali jatuh.

Messi juga tercatat sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah tim nasional Argentina dan pemegang berbagai rekor di Piala Dunia. Namun, lebih daripada itu, ia berubah dari seorang jenius yang pendiam menjadi pemimpin yang mampu merangkul, memberi arah, dan berbagi beban dengan rekan-rekannya.

Miami dan Revolusi yang Menyeberangi Benua

Ada ironi sejarah yang menarik ketika Messi memilih menghabiskan bagian akhir kariernya di Amerika Serikat. Che Guevara pernah memandang Amerika Serikat sebagai lambang tatanan yang dilawannya. Messi justru datang ke negara itu dan membantu memperluas perhatian publik terhadap sepak bola melalui Inter Miami dan Major League Soccer.

Tentu saja, sepak bola di Amerika Serikat telah berkembang jauh sebelum Messi datang. Namun, kehadirannya pada Juli 2023 memberi dorongan besar terhadap popularitas liga, perhatian media, penjualan tiket, dan jangkauan global kompetisi tersebut.

Pengaruhnya segera terasa di lapangan. Ia membawa Inter Miami memenangkan Leagues Cup 2023—trofi pertama dalam sejarah klub—kemudian Supporters’ Shield 2024 dan MLS Cup 2025. Pada musim reguler 2024, Messi mencatatkan 20 gol dan 16 assist dalam 19 pertandingan liga serta dinobatkan sebagai MLS Most Valuable Player.

Pada 2025, ia meraih MLS Golden Boot dengan 29 gol, membawa Inter Miami menjuarai MLS Cup untuk pertama kalinya, mencatatkan dua assist dalam pertandingan final, dan terpilih sebagai MLS Cup MVP. Ia juga kembali menjadi MLS MVP, menjadikannya pemain pertama yang memenangkan penghargaan tersebut dalam dua musim berturut-turut.

Perjalanan Messi dengan demikian dapat dibaca dalam tiga babak besar: membangun dinasti di Barcelona, menyempurnakan warisan bersama Argentina, dan menciptakan sejarah baru di Miami. Ia bukan hanya berpindah klub dan benua; ia membawa pusat perhatian sepak bola bersamanya.

Tubuh yang Berpikir dan Gravitasi Seorang Bintang

Pada era kebintangan individual, Messi dapat dibayangkan melalui metafora gravitasi. Ia bukan pemain yang paling tinggi atau paling kuat, tetapi memiliki “massa” sepak bola yang luar biasa. Kehadirannya membengkokkan ruang permainan dan mengubah lintasan orang-orang di sekitarnya.

Dari sebagian besar pertandingan, kita menyaksikan bahwa bek bergerak karena Messi. Gelandang mengubah posisi karena Messi. Rekan setim mencari ruang karena Messi. Bahkan,  strategi lawan sering kali dimulai dengan satu pertanyaan: bagaimana menghentikan Messi? Ia menjadi pusat gravitasi sebuah pertandingan.

Akan tetapi, ada sisi lain yang lebih puitis: Messi memperlihatkan bahwa tubuhnya  dapat berpikir. Dalam pengertian fenomenologis, tubuhnya tidak sekadar menjalankan perintah otak secara mekanis. Tubuh itu membaca, merasakan, dan memahami ruang sebelum orang lain sempat menyadarinya.

Dribelnya bukan hanya teknik. Ia adalah cara tubuh menafsirkan ruang. Messi menemukan celah yang bahkan belum sempat ditangkap kamera televisi. Bola seolah-olah tidak dikendalikan dari luar, melainkan menjadi bagian dari gerak tubuhnya sendiri.

Di tangan pemain biasa, sepak bola adalah rangkaian tindakan. Di kaki Messi, sepak bola berubah menjadi bahasa. Ia berbicara melalui sentuhan, jeda, percepatan, dan perubahan arah.

Dari Individualisme Menuju Kecerdasan Kolektif

Namun, final 2026 juga memperlihatkan sebuah perubahan besar. Spanyol menang bukan karena bergantung pada satu sosok, melainkan karena menguasai ruang, waktu, struktur, dan ritme secara kolektif. Mereka menunjukkan sepak bola yang tidak berpusat pada satu matahari, tetapi bekerja seperti konstelasi.

Kekalahan Argentina karena itu dapat dibaca lebih luas daripada sekadar hasil pertandingan. Ia menandai pergeseran dari era ketika satu bintang menjadi pusat orbit permainan menuju masa ketika sistem, koneksi antarpemain, geometri ruang, dan kecerdasan taktis semakin menentukan.

Ironisnya, puncak kebesaran Messi bersama Argentina justru tercapai ketika ia berhenti memikul semuanya seorang diri. Argentina menjuarai Piala Dunia 2022 dan kembali mencapai final pada 2026 karena para pemain lain bersedia berbagi tanggung jawab dengannya.

Messi tidak lagi harus menyelesaikan setiap persoalan. Ia berkembang menjadi pemimpin yang memberi arah, bukan tokoh yang memonopoli tindakan. Di situlah kebesarannya memperoleh bentuk yang lebih matang: bukan hanya membuat dirinya bersinar, tetapi membuat orang-orang di sekitarnya berani mengambil peran.

Bintang akan selalu lahir. Namun, sepak bola masa depan kemungkinan besar akan semakin dimenangkan oleh kolektivitas, struktur, kecerdasan ruang, dan kemampuan sebuah tim untuk bergerak sebagai satu tubuh.

Messi berdiri tepat di ambang perubahan itu. Ia lahir dalam era superstar, mencapai puncak sebagai pusat permainan, lalu menua ketika sepak bola memasuki zaman kecerdasan kolektif. Ia bukan sekadar bintang terakhir dari sebuah generasi; ia adalah jembatan antara dua cara memahami permainan.

Adiós, Leo

Setelah kekalahan di final, mudah untuk berkata bahwa Leo Messi seharusnya segera meninggalkan sepak bola. Namun, keputusan untuk berhenti atau terus bermain adalah hak seorang atlet yang telah memberikan hampir seluruh hidupnya kepada permainan. Yang dapat dilakukan pencinta sepak bola hanyalah menyadari bahwa perjalanannya telah mendekati ujung.

Ketika Messi akhirnya mengucapkan selamat tinggal, yang berpamitan bukan hanya seorang pemain. Yang perlahan berakhir adalah sebuah era kebintangan individual yang mendominasi sepak bola selama hampir dua dekade—era ketika perdebatan tentang Messi dan Cristiano Ronaldo menjadi salah satu pusat percakapan olahraga dunia.

Adiós, amigo. Selamat jalan, Leo. Kami tidak menangis karena engkau pergi. Kami tersenyum karena pernah hidup pada zamanmu. Mungin tak lama lagi engkau akan bernyanyi: I ride to the Rio, where my life I must spend. Adios compadre, what must be must be. 

Sebuah ucapan syukur bahwa kami pernah menyaksikan anak kecil dari Rosario mengubah lapangan menjadi kanvas. Kami pernah menahan napas setiap kali bola tiba di kaki kirinya. Kami pernah melihat sepak bola berubah menjadi puisi—bukan puisi yang ditulis dengan pena, melainkan dengan langkah-langkah kecil, keseimbangan tubuh, dan sentuhan yang hampir mustahil.

Kini panggung perlahan menjadi milik generasi baru. Namun, seperti semua maestro, Messi tidak benar-benar meninggalkan lapangan. Ia tinggal dalam ingatan, dalam cara orang memahami permainan, dan dalam keyakinan bahwa sepak bola dapat menjadi seni.

“Don’t cry for me, Argentina.” Seorang legenda tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya berpindah dari lapangan rumput ke ruang abadi sejarah, tempat setiap sentuhan bolanya akan terus hidup dalam ingatan manusia.

Ronaldinho—seniman sepak bola Brasil yang pernah menjadi mentor Messi di Barcelona—pernah mengingatkan dunia bahwa sulit memahami kebencian terhadap Messi apabila seseorang benar-benar memahami keindahan sepak bola. 

Pada akhirnya, mungkin itulah warisan terbesar Messi: ia membuat jutaan orang percaya bahwa kemenangan dapat dikejar tanpa kehilangan keindahan. 

Akhirnya Leo, silakan nyanyikan lagu ini hingga lirik terakhir:  Adios compadre, le us shed no tears.  May all your mananas bring joy through the years,  Away from these memories, my life I must spend. Adios amigo, adios my fiend. 

 

Catatan data: Statistik dan capaian utama dalam artikel ini diselaraskan dengan catatan resmi FC Barcelona, FIFA, Major League Soccer, dan Inter Miami CF hingga 20 Juli 2026.

 

RELATED NEWS