Aduh, Camat Kota Waingapu Bunuh Diri

redaksi - Selasa, 20 Juli 2021 21:59
Aduh, Camat Kota Waingapu Bunuh DiriCamat Waingapu, DRM Meninggal Dunia (sumber: FB/Yan Sabarua)

JAKARTA (Floresku.com). “Aduh, Bapa camat. Turut berduka yang mendalam”. Begitu reaksi seorang facebooker, Yulianti Lodo, atas unggahan facebooker Yan SabaruaWaingapu Fans Club, Selasa, 20 Juli, siang ini.
Hingga pukul 21.35, Selasa (20//7), akun Yan Sabarua disebut 2,500 emoji tanda duka, dan 1,500 ucapan belansungkawa. 

Kabar mengenai  DRM (45), Camat Kota Waingapu, Kabupaten Suma Timur yang ditemukan tak bernyawa dalam keadaan sedang tergantung, Selasa, 20 Juli 2021 siang, memang cepat tersiar melalui media sosial.
Sejumlah media segera merilis berita. Menurut para kerabat, DRM ditemukan di dalam kamar bagian belakngan rumah panggun milik orang tua korban di Kampung Haumara, Kelurahan Mauliru, Kambera, kabupaten Sumba Timur.

Menurut  cerita para kerabat almarhum, sebelum ditemukan sudah dalam keadaan tak bernyata, DRM meminta bantuan Klemens Ngunju Ratu (17) dam Lukas Lunggihala untuk menutup semua pintu dan jendela rumah panggung dengan alasan ia hendak istirahat.

Korban kemudian menyuruh kedua kerabatnya itu pergi bermain di bengkel tidak jauh dari rumah panggung tersebut. Selang beberapa lama, datang seorang kerabat lainnya, Kornelis Jawarai (40) yang baru kembali dari kebun. Namun, Lukas memperingatkan agar Kornelis membuka pintu secara perlahan-lahan agar tidak mengganggu istirahat DRM. 

Kornelis yang berhasil masuk, tidak menemukan DRM di tempat tidur. Ia hanya menemukan sandal milik korban dan tikar yang tergelatak di ruang tengah rumah panggung.

Oleh karena tidak menemukan DRM, Kornelis memanggil Klemens dan Lukas untuk mencari DRM. Mereka kemudian menemukan DRM dalam posisi tergantung dekat dinding kamar dengan wajah yang sudah lebam. Melihat hal itu, mererka spontan berteriak histeris dan menangis sejadi-jadinya.

Kornelis pun segera ke luar rumah untuk memberitahu Marieti Kaborang, saudari kandung DRM. 
Kemudian, Kornelis berbalik lakgi ke dalam rumah, lalu mengambil parang dan memotong tali yang terikat di leher korban.

Selanjtunya, Kornelis berama kerabat yang lain mengevakuasi korban dan membanringkannya di balai-balai rumah, dan berusaha melakukan upaya pertolongan pertama. Oleh karena kondisi DRM sudah tak bisa ditangani, para kerabatnya membawanya ke Rumah Sakit Kristen Lindimarai, Waingapu menggunakan kendaraan miliki korban sendiri.

Setibanya di  rumah sakit, petugas medis mencoba memberikan pertolongan, namun DRM sudah dalam keadaan tidak bernyawa lagi.

Atas kejadian tersebut, kerabat korban segera melapor ke Polres Sumba Timur. “Setelah mendapat laporan itu, beberapa apparat kepolisian segera ke tempat kejadian perkara (TKP),” demikian keterangan Kaplores Sumba Timur, AKBP Handrio Wicaksono, saat dikonfirmasi, rakyatntt.com, Selasa (20/7) malam.
Handrio mengemukakan, ada surat yang ditemukan di  kantong baju DRM. Berdasarkan surat itu pihak kepolisian akan melakukan penyelidikan lebih lanjut.

Namun diduga, DRM mengambil aksi nekad mengakhiri hidupnya akiabt stress lantaran istirinya baru saja meninggal dunia akibat Covid-19. (MAR)

Editor: Redaksi

RELATED NEWS