Bangkai Kapal Kuno Misterius di Pesisir Lagoi Bintan
redaksi - Sabtu, 07 Februari 2026 13:05
Sebuah lingkaran putih menandai lokasi ditemukannya kapal kuno di pesisir kawasan resor Lagoi, Pulau Bintan, Kepulauan Riau. (sumber: Kompas.id)BINTAN (Floresku.com) - Di pesisir kawasan resor Lagoi, Pulau Bintan, Kepulauan Riau, terbentang sisa-sisa bangkai kapal kuno yang selama bertahun-tahun hanya dikenal sebagai “kapal hantu”.
Warga setempat meyakini lokasi itu angker, sering dikaitkan dengan cerita mistis tentang suara aneh, penampakan, dan kemunculan kapal yang seolah datang lalu menghilang.
Dalam ingatan kolektif masyarakat Riau, bangkai kapal ini dikenal sebagai Lancang Kuning, kapal kerajaan yang identik dengan warna kuning pada layar atau lambungnya, simbol kebesaran dan kewibawaan.
Namun di balik kisah legenda tersebut, tersimpan jejak penting sejarah maritim Nusantara. Penelitian arkeologi mutakhir membuktikan bahwa bangkai kapal di Bintan bukan sekadar puing kayu tanpa makna, melainkan artefak teknologi perkapalan yang luar biasa untuk zamannya.

Riset ini dilakukan oleh Pusat Riset Arkeologi Lingkungan, Arkeologi Maritim, dan Budaya Berkelanjutan BRIN bekerja sama dengan University of Napoli L’Orientale, Italia, serta didanai oleh Kementerian Luar Negeri Italia dan International Association of Mediterranean and Oriental Studies.
Proyek ini merupakan bagian dari upaya pelestarian pengetahuan pembuatan kapal tradisional Indonesia yang kini terancam punah.
Investigasi dilakukan secara menyeluruh, baik di darat maupun di bawah air. Proses penggalian dimulai pada 30 Juli 2024 di Pantai Mayang Sari, dekat kawasan olahraga air Lagoi. Alqiz, arkeolog dari BRIN, menjelaskan bahwa tim berhasil mengungkap bagian atas kapal dengan kondisi relatif utuh.
Baca juga:
Hasil pengukuran menunjukkan kapal tersebut memiliki panjang sekitar 23,4 meter dan lebar sekitar 6 meter. Ukuran ini tergolong besar untuk konteks Asia Tenggara abad pertengahan dan menandakan bahwa kapal tersebut bukan perahu pesisir biasa, melainkan kapal samudra yang dirancang untuk pelayaran jarak jauh dan muatan besar.
Lebih jauh, tim peneliti menemukan berbagai artefak di sekitar lambung kapal, seperti tembikar Cina, pecahan keramik, benda kaca dan logam, serta objek menyerupai koin. Temuan ini menguatkan dugaan bahwa kapal tersebut merupakan bagian dari jaringan perdagangan internasional.

Bintan sendiri sejak lama dikenal sebagai jalur strategis yang menghubungkan Asia Timur, Asia Tenggara, dan Samudra Hindia. Selat Malaka dan perairan sekitarnya menjadi “jalan raya” maritim dunia kuno, tempat lalu lintas rempah, keramik, logam, dan komoditas berharga lainnya.
Artikel jurnal yang ditulis Agni Mochtar, Nahar Cahyandaru, Chiara Zazzaro, dan Chiara Visconti pada Agustus 2023 mencatat bahwa proyek penelitian ini telah dimulai sejak bangkai kapal pertama kali ditemukan pada 2016 di pantai yang secara lokal disebut Pantai Lancang Kuning.
Menurut penelitian sebelumnya, kondisi kapal dinilai sangat baik untuk ukuran tinggalan abad ke-12.
Bahkan, teknik konstruksinya tidak sepenuhnya mengikuti pola umum perahu Nusantara kuno seperti sistem ikatan pasak (lashed-lug). Sebaliknya, struktur rangka dan sambungan papan menunjukkan kombinasi teknologi lokal dengan pengaruh asing, kemungkinan dari jalur perdagangan Samudra Hindia.
Analisis terhadap sisa material kayu memperlihatkan bahwa para pembuat kapal memiliki pemahaman tinggi tentang sifat mekanik kayu, ketahanan terhadap air laut, serta keseimbangan kapal.
Ketebalan papan, bentuk lunas, dan pola rangka menunjukkan perhitungan matang untuk menghadapi gelombang besar.
Dengan dimensi 23,4 x 6 meter, kapal ini diperkirakan mampu mengangkut puluhan ton muatan dan belasan hingga puluhan awak kapal, menjadikannya bagian dari armada niaga besar pada masanya.
Dalam perspektif heritage, kisah Lancang Kuning Bintan menantang cara pandang lama yang sering mereduksi situs sejarah sebagai sekadar lokasi mistis. Apa yang dulu dianggap angker kini terbaca sebagai monumen peradaban maritim.
Ia membuktikan bahwa leluhur di kawasan ini telah menguasai teknologi pelayaran tingkat tinggi, jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa. Kapal ini juga menunjukkan bahwa Nusantara tidak pernah terisolasi, melainkan aktif terhubung dengan peradaban India, Cina, Timur Tengah, bahkan Mediterania.
Sayangnya, kondisi bangkai kapal saat ini masih memprihatinkan. Erosi pantai, perubahan garis laut, serta minimnya perlindungan membuat situs ini terancam rusak permanen.
Padahal, jika dikelola dengan baik, Lancang Kuning Bintan dapat menjadi pusat edukasi maritim sekaligus destinasi heritage unggulan. Ia bisa berfungsi sebagai “museum terbuka” yang mempertemukan legenda lokal, riset ilmiah, dan kesadaran publik tentang pentingnya warisan budaya bahari.
Bagi rubrik heritage Floresku.com, kisah kapal kuno Bintan memberi pelajaran penting: warisan budaya tidak selalu hadir dalam bentuk candi, benteng, atau istana megah. Terkadang ia tersembunyi di balik pasir, lumpur, dan mitos.
Dari Bintan hingga Nusa Tenggara,, Sulawesi dan Papua jejak kapal-kapal kuno membentuk satu narasi besar tentang manusia kepulauan yang hidup dari laut, berlayar melintasi batas geografis, dan meninggalkan jejak teknologi yang baru kita pahami berabad-abad kemudian.
Lancang Kuning bukan lagi “kapal hantu”, melainkan saksi bisu kejayaan peradaban maritim Nusantara.(Rofie, Batam). ***

