BELAJAR MEMBANGUN HATI YANG TULUS DAN PENUH BELASKASIHAN

Redaksi - Sabtu, 18 Juli 2026 15:03
 BELAJAR MEMBANGUN HATI YANG TULUS DAN PENUH BELASKASIHANOrang benar dan saleh harus berlaku baik dan penuh belaskasihan terhadap sesamanya yang lemah, rapuh dan mudah jatuh ke dalam dosa. (sumber: Katolikku.com)

HOMILI, Minggu Biasa XVI A: (Keb 12:13.16-19;Rom 8:26-27; Mt 13:24-30.36-43) 

Oleh Pater Gregor Nule SVD

Ilustrasi

Seorang ibu pernah menjumpai  pastor parokinya untuk mengungkapkan uneq-uneq hatinya. Hal utama yang dikeluhkannya adalah perilaku salah seorang anaknya yang tidak tahu diri, tidak tahu berterimakasih dan bahkan selalu membuat onar. 

Ia berkata, “Mengapa Tuhan mengizinkan saya melahirkan anak sejahat ini, pastor? Saya dan bapaknya adalah orang biasa. Kami baik-baik saja, dan selalu berusaha membangun hidup berkeluarga yang aman, damai dan tenteram. 

Namun, sikap dan perilaku anak kami tidak bisa ditolerir lagi. Dari mana dia dapat semuanya itu? Apakah tidak lebih baik kalau dia mati saja agar tidak menyusahkan kami dan banyak orang lain”. 

Mendengar keluh-kesah ibu itu, pastor paroki diam sejenak, menatap wajah ibu itu dan bertanya, “apakah ibu masih menganggap dia sebagai anak”? “Ya, ya pastor, biarpun sikap dan perilakunya begitu menjengkelkan, dia tetap anak kami”, jawab sang ibu. 

Pastor itu berkata, “terimakasih atas kebaikan hati ibu. Meskipun ibu jengkel dan marah besar, tetapi ibu tidak sampai hati membuang anak  sendiri. Maka saya minta ibu untuk bersabar dan terus berdoa untuk kebaikan anakmu. Yakinlah sekali kelak dia pasti akan berubah dan menjadi lebih baik”.   

Refleksi 

Penulis Kitab Kebijaksanaan berusaha mengarahkan pikran dan menenteramkan hati para pendengarnya yang marah dan memberontak ketika berhadapan dengan kejahatan dan ketidakberesan yang terjadi di mana-mana. Mereka inginkan kutukan atau hukuman dari Allah  bagi orang-orang yang berbuat jahat. 

Berhadapan dengan sikap negatif ini, penulis Kitab Kebijaksanaan mewartakan gambaran Allah yang berbeda. Allah yang menghendaki keselamatan bagi semua orang, baik orang saleh maupun orang berdosa. 

Semua orang diberi kesempatan untuk mengusahakan keselamatan dengan menata kembali hidup, insyaf terhadap sikap laku yang khilaf dan bertobat. 

Sebab Allah  sungguh adil dalam meneliti, memperlakukan dan mengadili manusia. Meskipun Dia mahakuasa tetapi Ia tidak pernah berbuat apa saja terhadap ciptaanNya. Ia  penuh belaskasihan, sabar dan bijaksana menghadapi manusia  yang rapuh dan mudah jatuh ke dalam dosa. 

Karena itu, Allah  menginginkan supaya manusia pun memiliki sikap hati yang sama terhadap sesamanya. Allah mengundang setiap orang untuk membangun sikap hati yang sabar, penuh belaskasihan, rela memahami dan mengampuni sesama. 

Itulah sebabnya Penulis Kitab Kebijaksanan berkata, “Tetapi, meskipun Engkau, Penguasa yang kuat, Engkau mengadili dengan belaskasihan, dan dengan sangat murah hati memperlakukan kami. Dengan berlaku demikian Engkau mengajar umatMu bahwa orang benar harus sayang akan manusia”, (Keb 12:18-19). 

Orang benar dan saleh harus berlaku baik dan penuh belaskasihan terhadap sesamanya yang lemah, rapuh dan mudah jatuh ke dalam dosa.

Pewartaan tentang Allah yang maha adil, sabar dan penuh belaskasihan diwartakan juga oleh santu Matius dalam perumpamaan tentang gamdum dan ilalang yang bertumbuh bersama di ladang yang sama. 

Dunia dan  manusia diciptakan Allah dalam keadaan baik adanya, tetapi selalu diincar-incar oleh pengaruh kekuatan jahat. Sebagaimana ilalang memiliki akar yang lebih dalam dan daya tumbuh yang lebih cepat, demikian pun pengaruh kejahatan terhadap dunia dan manusia. 

Sering kita alami bahwa pengaruh kejahatan dan ide-ide buruk atau negatif seolah-olah bertumbuh  lebih cepat dan mudah meracuni hati banyak orang dibandingkan  dengan hal-hal yang baik, benar dan positif. 

Mungkin kita sebutkan contoh dalam hidup sehari-hari, seperti, ajaran-ajaran sesat yang disebarluasakan melalui internet dan media social. Atau sikap dan perilaku buruk, seperti melawan  ketertiban umum, aturan lalulintas, serta menciptakan kegaduhan dan keributan di mana-mana. 

Berhadapan dengan kenyataan kelam ini terkadang kita merasa seolah-olah kekuatan jahat dan pengaruh kegelapan lebih dominan dibandingkan dengan kuasa Allah dan kekuatan kebaikan dalam dunia dan hidup manusia. 

Maka muncul sikap dan reaksi yang berbeda-beda. Ada yang cepat menilainya sebagai jahat, buruk dan kurang ajar serta berusaha menghadapinya dengan kekuatan dan kekerasan. Ada pula  yang merasa tidak berdaya dan mulai meragukan kuasa Allah untuk kekuatan jahat di atas bumi. Ada yang bersikap masabodoh membiarkan saja semuanya terjadi.

Sebagai pengikut Kristus  kita dipanggil untuk membangun sikap dan perilaku bijaksana yang dijiwai nilai-nilai Injil ketika menjalani hidup sehari-hari dan menghadapi kenyataan ketidakberesan yang terjadi di atas bumi. 

Pertama, tidak gegabah menghakimi sesama dan mencapnya sebagai orang jahat. Sering tanpa disadari kita membuat pemisahan antara orang baik dan orang jahat, antara yang benar dan yang salah, antara yang saleh dan yang berdosa, antara yang bersih dan najis, dst. 

Kita bertindak sebagai hakim atas orang lain dan otomatis merasa diri lebih baik, benar, suci, dan bebas dari hal-hal yang tidak beres. Padahal kita juga adalah manusia biasa yang tidak luput dari kelemahan dan kerapuhan. 

Kita ingat nasihat tuan kebun gandum kepada para pekerjanya agar tidak  gegabah memisahkan ilalang dari gandum sebelum musim menuai. Keduanya dibiarkan bertumbuh bersama. Sebab tindakan mencabut ilalang sebelumnya dapat mengganggu bahkan merugikan proses pertumbuhan gandum. 

Sedangkan, penulis Kitab Kebijaksanaan menunjukkan kepada kita sikap benar dan bijkasana  ketika berhadapan dengan orang-orang yang khilaf dan tindakan kejahatan, yakni sabar, tulus dan jujur untuk memahami dan merangkul, memberikan mereka kesempatan untuk menyadari kekhilafan, membenahi diri, bertobat dan kembali kepada yang baik dan benar yakni Allah sendiri. 

Kedua, menyadari tanggungjawab dan tugas panggilan kita untuk menata kembali hidup sendiri, sesama manusia dan dunia yang telah rusak dan suram menjadi lebih baik, manusiawi dan bersahabat. 

Kita tidak boleh saling mempersalahkan, melemparkan tanggungjawab atau saling mengkambinghitamkan. Karena sadar atau pun tidak, semua kenyataan yang kita alami, yang baik dan tidak baik, tidak lepas dari tanggungjawab kita bersama.

Ketiga, mempercayakan hidup dan keselamatan kepada penyelenggaraan Allah. Sebab hanya Allah yang dapat memperhatikan, menyelidiki dan menghakimi hidup kita secara tepat. Tidak ada sesuatu pun yang luput dari pengetahuan, penglihatan dan pemeliharaan Allah. 

Santo Paulus mengingatkan kita bahwa manusia tak dapat hidup dan berkarya secara baik dan benar tanpa penyelenggaraan Allah. Sering kita tidak tahu bagaimana bertahan terhadap pengaruh jahat dan godaan dunia. Roh Allah menuntun dan berdoa dalam diri kita.

Karena itu, kita diajak membuka hati dan membiarkan kuasa Allah mengubah kesulitan, penderitaan dan sakit hati kita menjadi sukacita dan kegembiraan yang membias untuk menghadirkan Kerajaan Allah di tengah keluarga, komunitas biara, masyarakat dan lingkungan hidup kita. Amen.

Kewapante, 19 Juli 2026 .

 

 

RELATED NEWS