BPBD dan Dinsos Sikka: Untuk Siapa Anggaran Bencana Itu?

Redaksi - Senin, 15 Juni 2026 10:16
BPBD dan Dinsos Sikka: Untuk Siapa Anggaran Bencana Itu?Ilustrasi: Yosef Beato, putra Watukruz, mengayuh hidupnya di atas motor GL Max tua. (sumber: Kreasi AI)

Oleh  Mardi da Gomez

TIGA PULUH ENAM  tahun sudah Yosef Beato, putra Watukruz, mengayuh hidupnya di atas motor GL Max tua. 

Dulu, tahun 1989, penjual ikan keliling pakai motor masih barang langka di jalur Bola Raya dari Hokor, Mapitara, sampai Doreng. 

Motor itu dibelinya dari hasil panen kelapa, keringat sendiri. Bukan bantuan, bukan proyek.

36 tahun. Dari bujang sampai berkeluarga. Dari gubuk reyot sampai berhasil menyekolahkan anak. Hampir semua sarjana. 

Salah satunya, Reynaldi, bahkan menorehkan nama Manggarai Timur di tingkat nasional sebagai penulis cerpen terbaik di salah satu SMA Borong.

Ini kisah ketekunan. Kisah rakyat yang tidak menunggu negara untuk bertahan.

Lalu badai datang. Force majeure. Atap terbang, dinding roboh. Rumah Yosef Beato rata dengan tanah.

Lalu negara datang. Dalam wujud Dinas Sosial Kabupaten Sikka dan BPBD

Mereka berkunjung. Foto mungkin diambil. Form mungkin diisi. Tapi bantuan material untuk membangun kembali rumah? Nihil.

Baca juga:

Kunjungan darurat itu, kata orang tuanya Reynaldi, terasa "ala kadarnya". Sekadar menunaikan formalitas perjalanan dinas. 

Mengambil hak SPPD, lalu pulang. Meninggalkan puing dan keluarga yang trauma.

Di sinilah keadilan berubah jadi lipstik.

Dinsos dan BPBD hadir bukan untuk menghapus air mata, tapi untuk memoles wajah birokrasi. Seolah-olah negara sudah hadir. Padahal yang hadir hanya stempel dan daftar hadir.

Ironis. Yosef Beato 36 tahun tidak merepotkan negara. Dia jualan ikan, bayar pajak kendaraan, sekolahkan anak sampai berprestasi nasional. Giliran dia tertimpa musibah, negara yang dia biayai lewat pajak justru datang hanya untuk "melihat-lihat".

Pertanyaannya: untuk siapa sebenarnya anggaran penanggulangan bencana itu ? Untuk korban, atau untuk biaya kunjungan pejabat ?

UU No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana jelas menyebut negara wajib memberi bantuan darurat dan pemulihan. Bukan kunjungan seremonial. Rumah roboh butuh seng, kayu, paku. Bukan sekadar simpati yang difoto.

Yosef Beato sudah membuktikan diri, orang kecil bisa besar tanpa negara. Dia ajarkan anaknya jadi penulis, jadi sarjana. 

Tapi negara gagal membuktikan diri saat orang kecil tertimpa bencana kecilnya nasib, negara tidak ada.

Kalau kunjungan tanpa solusi jadi kebiasaan, maka Dinsos bukan lagi lembaga sosial. Ia hanya salon  kecantikan birokrasi. 

Memoles wajah penderitaan rakyat dengan lipstik bernama "kami sudah turun ke lapangan", gile namanya.

Dan rakyat seperti Yosef Beato? Tetap harus membangun rumahnya sendiri. Dari nol. Dengan GL Max tua dan ikan yang harus tetap dijual besok pagi.

Karena hidup tidak menunggu belas kasihan yang cuma mampir.***

RELATED NEWS