CERPEN: Di Ujung Belis
Redaksi - Selasa, 14 April 2026 14:23
Fr Boy Waro (sumber: Dokpri)Oleh: Boy Waro
LONCENG gereja di bawa lembah berdentang memecahkan sunyi di barisan bukit. Di pagi yang masih kaku dua insan mengingkarkan janji setia di sebuah gereja tua nan teduh.
“Saya Maria Sara menerima engkau Romanus Mbasa sebagai suami saya dalam untung maupun malang. Saya Romanus Mbasa menerima engkau Maria Sara sebagai istri saya dalam untung maupun malang.” Apa yang dipersatukan oleh Allah tidak diceraikan oleh manusia.
Di bawah langit yang perlahan meredup, kenangan itu terasa lebih tajam dari sembilu. Namanya adalah perjuangan, namun akhirnya hanyalah sebuah perpisahan yang dipaksakan oleh takdir.
Semuanya bermula di seragam putih abu-abu. Rian dan Sarah adalah dua kutub yang disatukan oleh mimpi. Di saat teman-teman mereka sibuk dengan pesta, keduanya duduk di perpustakaan, berbagi satu buku dan satu ambisi.
“Nanti, kalau kita sudah jadi orang, aku akan datang ke rumahmu dengan kepala tegak,” bisik Rian suatu sore di bawah pohon flamboyan yang berbunga merah darah. “Aku akan menunggumu, Rian. Seberapa lama pun itu,” jawab Sarah tulus.
Mereka pun berjuang. Rian kuliah sambil bekerja serabutan, sementara Sarah tekun menyelesaikan studinya di kebidanan. Mereka sukses. Sarah menjadi bidan yang dicintai masyarakat, dan Rian berhasil mendapatkan posisi mapan di kota.
Baca juga:
- Di Hari Lahir Seskab Teddy, Negeri Bersimpuh dalam Doa
- Pesan Inspiratif:Kuasa Roh Kudus Dalam Hidup Manusia
- Bacaan Liturgis Selasa Hari Biasa Pekan II Paskah
Namun, saat Rian datang meminang, sebuah kenyataan pahit menghantam: **Belis**. Harga diri adat yang dipatok keluarga Sarah begitu tinggi, tak tersentuh oleh tabungan yang Rian kumpulkan selama bertahun-tahun.
Rian tidak menyerah. Baginya, Sarah adalah muara. Ia memutuskan untuk merantau ke tanah seberang, meninggalkan Sarah yang menangis di dermaga.
Di perantauan, Rian menjadi manusia mesin. Ia bekerja siang malam, menahan lapar, dan tidur di kamar sempit hanya agar uangnya utuh untuk dikirim kembali ke kampung halaman.
Setiap malam, mereka hanya terhubung lewat suara di telepon yang sering terputus sinyal. “Sabar, Sayang. Sedikit lagi,” kata Rian setiap kali Sarah bertanya kapan ia pulang.
Tiga tahun berlalu. Rian pulang dengan tubuh yang lebih kurus, kulit yang legam terbakar matahari, namun dengan koper yang penuh dengan hasil keringatnya. Belis lunas. Adat terpenuhi. Pernikahan digelar dengan sangat megah, seolah-olah seluruh dunia ikut merayakan kemenangan cinta mereka atas tradisi.
Kebahagiaan itu terasa begitu sempurna saat Sarah mengandung. Rian menjaga istrinya seolah Sarah adalah permata yang paling rapuh di dunia. Ia sudah menyiapkan segalanya untuk menyambut buah hati mereka.
Hingga malam itu tiba. Malam yang seharusnya menjadi gerbang menuju kebahagiaan baru, justru menjadi pintu menuju duka abadi.
Sarah mengalami komplikasi hebat saat persalinan. Di puskesmas tempat Sarah dulu bekerja, kini ia berjuang untuk nyawanya sendiri.
Kebahagiaan itu terasa seperti hembusan angin yang terlalu singkat. Tak lama setelah menikah, Sarah hamil. Rian tidak mengizinkannya bekerja keras. Ia ingin Sarah menikmati hasil perjuangan mereka. Namun, memasuki bulan kesembilan, suasana berubah menjadi mencekam.
Malam itu, hujan turun sangat lebat, seolah langit tahu sesuatu yang buruk akan terjadi. Sarah mengalami kontraksi yang tidak wajar.
Rian melarikannya ke rumah sakit, tempat di mana Sarah biasa menyelamatkan nyawa orang lain. Namun kali ini, tidak ada yang bisa menyelamatkannya.
“Rian... dingin sekali...” bisik Sarah di atas ranjang persalinan. Wajahnya pucat pasi, namun matanya tetap menatap suaminya dengan cinta yang sama seperti di SMA dulu. Dokter keluar dengan wajah tertunduk.
“Terjadi emboli air ketuban. Kita harus memilih, Pak.” Rian berteriak histeris, “Selamatkan keduanya! Ambil nyawaku saja, jangan dia!”
“Rian... jaga anak kita,” bisik Sarah, suaranya nyaris hilang di sela deru napas yang pendek. “Bertahanlah, Sarah! Kita sudah melewati semuanya! Belis, jarak, waktu... jangan menyerah sekarang!” raung Rian sambil menggenggam tangan istrinya yang mulai mendingin.
Namun Tuhan punya skenario yang tidak bisa ditawar. Suara tangis bayi perempuan yang melengking memecah keheningan koridor rumah sakit tepat pada pukul tiga dini hari.
Bayi itu lahir, mungil dan cantik, dengan jemari yang menggenggam erat telunjuk ayahnya. Tapi di sampingnya, Sarah telah menghembuskan napas terakhir.
Ia meninggal tepat setelah mendengar tangis pertama anaknya, meninggalkan senyum tipis di bibirnya yang membiru.
Rian kini berdiri di pemakaman yang masih basah. Di tangannya, ia mendekap bayi mungil yang dibalut kain tenun pemberian Sarah. Ia menatap nisan istrinya dengan pandangan kosong.
Segala harta yang ia kumpulkan di perantauan, segala emas dan uang yang ia serahkan sebagai Belis, kini terasa tidak ada artinya. Ia telah membayar adat dengan harta, namun semesta menagih bayaran yang lebih mahal: nyawa wanita yang ia cintai.
Laki-laki itu menangis tanpa suara. Ia tersadar bahwa ia pulang bukan untuk menua bersama Sarah, melainkan hanya untuk menjemput sebuah titipan. Ia memandang wajah putrinya yang sangat mirip dengan ibunya, lalu berbisik pelan di tengah isak tangisnya:
“Nak, ibumu adalah harga paling mahal yang pernah ayah bayar untuk memilikimu.
Dunia Rian kini berhenti berputar. Suksesnya terasa hambar, rumah besarnya terasa sunyi. Ia menang, namun kehilangan segalanya.
Di bawah langit yang sama dengan masa SMA mereka dulu, Rian kini hanya memiliki seorang anak perempuan dan sebuah lubang di hati yang takkan pernah bisa tertutup oleh harta apa pun di dunia ini.
Kini, Rian berdiri di pinggir pantai, tempat mereka dulu sering duduk bersama. Di gendongannya, seorang bayi perempuan bernama Sarina—gabungan nama Sarah dan Rian—sedang tertidur.
Rian memandang hamparan laut luas. Ia teringat betapa kerasnya ia bekerja di Malaysia untuk mengumpulkan uang Belis. Ia teringat betapa bangganya ia saat bisa melunasi adat itu. Namun kini, ia tersadar akan sebuah kebenaran yang menyakitkan.
“Aku menghabiskan masa mudaku berjuang mengumpulkan harta untuk memilikimu secara adat, Sarah. Tapi aku lupa meminta pada Tuhan agar kita bisa menua bersama.”
Harta melimpah, rumah mewah yang ia bangun dari keringat rantau, dan jabatan suksesnya kini terasa seperti tumpukan kertas tanpa arti. Ia telah membayar Belis yang diminta keluarga, namun ia juga harus membayar “Belis Nyawa” kepada takdir.
Setiap kali Sarina menangis, Rian melihat bayangan Sarah. Setiap kali Sarina tersenyum, hatinya hancur berkeping-keping karena menyadari bahwa kecantikan itu dibayar dengan nyawa ibunya.
Rian kini sukses sebagai seorang ayah dan pengusaha, namun ia adalah laki-laki paling kesepian yang berjalan di muka bumi, membawa sebuah janji SMA yang kini hanya tersisa di atas batu nisan yang dingin. (*).

