Destinasi Ekowisata di Flores dan Pulau-Pulau Sekitarnya
redaksi - Sabtu, 03 Januari 2026 14:08
Ekowisata di Puncak Wolobobo, Ngada, Flores. (sumber: Instagram)MAUMERE (Floresku.com) - Pulau Flores dan gugusan pulau di sekitarnya merupakan salah satu kawasan ekowisata paling menarik di Indonesia bagian timur.
Lanskap vulkanik yang dramatis, keanekaragaman hayati laut dan darat, serta budaya lokal yang masih hidup menjadikan Flores sebagai destinasi ideal bagi wisatawan yang mengedepankan keberlanjutan, konservasi, dan pengalaman autentik.
Berikut ini adalah sejumlah destinasi ekowisata unggulan di Flores dan pulau-pulau sekitarnya, beserta nilai ekologis dan sosial yang menyertainya.

1. Taman Nasional Komodo (Flores Barat)
Sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO, Taman Nasional Komodo dikenal luas sebagai habitat alami komodo (Varanus komodoensis). Namun kawasan ini juga melindungi savana, hutan mangrove, terumbu karang, dan ekosistem laut dengan tingkat biodiversitas tinggi.
Daya tarik ekowisata:
- Trekking berpemandu dengan aturan ketat demi keselamatan dan konservasi
- Snorkeling dan selam dengan program perlindungan terumbu karang
- Pembatasan jumlah pengunjung dan pengawasan oleh ranger
Ekowisata di Komodo menjadi contoh nyata bagaimana pariwisata dapat berjalan seiring dengan upaya konservasi dan kesejahteraan masyarakat lokal.

2. Taman Nasional Kelimutu (Flores Tengah)
Taman Nasional Kelimutu terkenal dengan Danau Tiga Warna di puncak Gunung Kelimutu yang warnanya dapat berubah akibat aktivitas mineral. Kawasan ini juga sarat makna spiritual bagi masyarakat Lio yang meyakini danau tersebut sebagai tempat bersemayamnya arwah leluhur.
Daya tarik ekowisata:
- Jalur pendakian ramah lingkungan
- Pemandu lokal berbasis komunitas
- Wisata burung dan jelajah hutan
Kunjungan ke Kelimutu tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga pemahaman terhadap kearifan lokal.

3. Taman Wisata Perairan 17 Pulau Riung (Flores Utara)
Kawasan 17 Pulau Riung merupakan destinasi bahari yang relatif tenang dan belum ramai. Terdiri dari pulau-pulau kecil tak berpenghuni, kawasan ini memiliki terumbu karang yang sehat dan perairan yang jernih.
Daya tarik ekowisata:
- Snorkeling dan island hopping berbasis masyarakat
- Ekosistem laut yang masih alami
- Minim pembangunan massal
Riung cocok bagi wisatawan yang mencari pengalaman bahari berkelanjutan dan jauh dari keramaian.

4. Desa Adat Wae Rebo (Manggarai)
Wae Rebo adalah desa adat di pegunungan Flores Barat yang terkenal dengan rumah adat berbentuk kerucut, Mbaru Niang. Desa ini sering disebut sebagai model sukses pariwisata berbasis komunitas.
Daya tarik ekowisata:
- Homestay dikelola langsung oleh warga
- Pelestarian budaya melalui kunjungan terbatas
- Trekking alam dengan panorama pegunungan
Pariwisata di Wae Rebo diatur secara ketat untuk menjaga keseimbangan antara budaya, alam, dan kunjungan wisata.

5. Pulau Padar (Taman Nasional Komodo)
Pulau Padar dikenal dengan panorama perbukitan dan tiga teluk berpasir dengan warna berbeda. Meski tidak berpenghuni, pulau ini berada dalam kawasan konservasi yang dilindungi.
Daya tarik ekowisata:
- Jalur trekking resmi untuk mencegah kerusakan lingkungan
- Aturan ketat pengelolaan sampah
- Pemandangan matahari terbit dan terbenam yang ikonik
Pulau Padar menawarkan wisata alam yang menekankan apresiasi, bukan eksploitasi.

6. Kepulauan Alor (Timur Laut Flores)
Kepulauan Alor semakin dikenal sebagai destinasi selam kelas dunia dengan pendekatan pariwisata berkelanjutan. Arus laut yang kuat mendukung ekosistem karang yang sangat kaya.
Daya tarik ekowisata:
- Penginapan ramah lingkungan
- Operator selam berbasis komunitas
- Keanekaragaman hayati laut yang luar biasa
Alor cocok bagi wisatawan petualang yang mengutamakan kualitas lingkungan dan pengalaman otentik.

7. Ekowisata Kabupaten Sikka
Kabupaten Sikka menawarkan potensi ekowisata yang memadukan lanskap pesisir, pegunungan, serta kekayaan budaya masyarakat adat dan tradisi Katolik yang kuat. Wilayah ini relatif belum tersentuh pariwisata massal, sehingga sangat ideal untuk pengembangan ekowisata berbasis komunitas.
Destinasi dan daya tarik utama:
- Pantai Koka dan Pantai Tanjung dengan ekosistem pesisir alami dan potensi wisata bahari berkelanjutan
- Pegunungan Egon–Ilimedo untuk trekking, wisata alam, dan edukasi vulkanologi
- Kampung adat dan tradisi budaya Sikka-Krowe, termasuk tenun ikat sebagai warisan budaya
- Wisata ziarah ekologis Kajuulu, yang mengaitkan spiritualitas, sejarah misi Katolik, dan pelestarian alam
Nilai ekowisata:
Pelibatan aktif masyarakat lokal sebagai pemandu, pengelola homestay, dan perajin
Penguatan ekonomi kreatif berbasis tenun, kuliner lokal, dan produk ramah lingkungan
Potensi besar untuk pendidikan lingkungan dan wisata berbasis nilai (value-based tourism)
Pengembangan ekowisata di Sikka membuka ruang bagi model pariwisata yang tidak hanya menjaga alam, tetapi juga merawat identitas budaya dan spiritual masyarakat setempat.
Tips Berwisata Bertanggung Jawab di Flores
Agar ekowisata di Flores tetap lestari, wisatawan diharapkan untuk:
- Menggunakan jasa pemandu dan penginapan lokal
- Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai
- Mematuhi aturan kawasan konservasi
- Menghormati adat, budaya, dan kepercayaan setempat
Penutup
Flores dan pulau-pulau sekitarnya bukan sekadar tujuan wisata, melainkan ruang belajar tentang harmoni antara manusia dan alam.
Dari danau vulkanik, desa adat, hingga terumbu karang yang kaya, ekowisata di Flores menunjukkan bahwa pariwisata dapat menjadi kekuatan pelestarian sekaligus pemberdayaan.
Bagi wisatawan yang mencari pengalaman berkelanjutan, bermakna, dan autentik, Flores adalah jawaban yang tepat.
Berwisata ekologi di Flores menuntut sikap bertanggung jawab dan penuh hormat. Gunakan jasa pemandu lokal dan menginap di homestay warga untuk mendukung ekonomi setempat.
Kurangi sampah plastik, patuhi aturan kawasan konservasi, serta jangan merusak flora dan fauna.
Hormati adat, budaya, dan kepercayaan lokal, termasuk tata krama di kampung adat dan situs sakral. Pilih aktivitas wisata yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. (Silvia). ***

