Dunia di Titik Genting

MAR - Sabtu, 31 Januari 2026 05:00

Dunia hari ini berdiri di ambang yang rapuh. Ketegangan geopolitik yang meningkat, khususnya di Timur Tengah, bukan sekadar konflik antarnegara, melainkan cermin dari rapuhnya tatanan global yang selama ini diklaim stabil. Situasi di Iran—yang diapit tekanan internal dan ancaman eksternal—menjadi salah satu titik api paling berbahaya dalam lanskap dunia saat ini.

Ancaman perang bukan lagi sekadar retorika diplomatik. Pengerahan armada militer, latihan perang, sanksi ekonomi, dan saling tuding antarnegara besar menciptakan atmosfer yang sarat salah tafsir. Dalam kondisi seperti ini, satu keputusan keliru atau satu insiden kecil bisa menjadi pemicu konflik besar yang sulit dikendalikan.

Yang membuat situasi ini semakin genting adalah sifat konflik modern yang tidak lagi terbatas pada medan perang. Perang hari ini berdampak langsung pada harga pangan, energi, stabilitas ekonomi, hingga kehidupan masyarakat di belahan dunia lain. Jika konflik terbuka pecah di kawasan strategis seperti Teluk Persia, dunia akan menghadapi lonjakan harga minyak, inflasi global, dan krisis kemanusiaan yang meluas.

Lebih mengkhawatirkan lagi, dunia seolah belajar sedikit dari sejarah. Berkali-kali konflik dipicu oleh ego politik, unilateralisme, dan kegagalan diplomasi. Alih-alih memperkuat dialog, banyak negara justru memilih pendekatan koersif, seakan kekuatan militer masih menjadi solusi utama atas persoalan politik dan sosial yang kompleks.

Dunia di titik genting bukan hanya soal Iran atau Timur Tengah. Ini tentang sistem global yang semakin terpolarisasi, kepercayaan antarnegara yang menipis, dan melemahnya institusi internasional sebagai penengah. Ketika hukum internasional mudah diabaikan dan kepentingan nasional dijadikan pembenaran mutlak, maka perdamaian global menjadi taruhan.

Di tengah situasi ini, diplomasi seharusnya menjadi jalan utama, bukan pilihan terakhir. Negara-negara besar memikul tanggung jawab moral untuk menahan diri, membuka ruang dialog, dan mencegah eskalasi yang hanya akan membawa penderitaan massal. Dunia tidak membutuhkan perang baru, melainkan keberanian politik untuk berdamai.

Sejarah akan mencatat masa ini: apakah dunia memilih akal sehat dan kemanusiaan, atau kembali terjebak dalam siklus konflik yang tak berujung. Di titik genting seperti sekarang, pilihan itu menjadi semakin menentukan—bukan hanya bagi satu kawasan, tetapi bagi masa depan dunia seluruhnya. (Catatan Editorial/Redaksi)

Editor: MAR
Tags ASperangIranBagikan

RELATED NEWS