Flores sebagai Lanskap Budaya Berjalan
redaksi - Minggu, 04 Januari 2026 12:34
Situs Megalitik di Warloka, Manggarai barat (kiri) dan Situs Watu Cruz, Bola, Sikka. (sumber: File Floresku.com)MAUMERE (Floresku.com) - Flores adalah pulau yang tidak cukup dilihat dari balik jendela kendaraan. Ia harus dijalani dengan langkah kaki, dibaca melalui batu, gua, kampung adat, hutan, dan ritus yang hidup. Di pulau ini, berjalan berarti masuk ke dalam sejarah panjang manusia Flores—dari jejak prasejarah, mitologi leluhur, hingga iman yang menubuh dalam tradisi rakyat.
Menyusuri Flores sebagai cultural walking tour adalah menelusuri lanskap budaya berjalan, dari barat ke timur, dari gunung ke laut, dari masa purba hingga dunia modern.
Manggarai Barat: Megalit Warloka dan Awal Peradaban
Perjalanan budaya Flores dapat dimulai dari Manggarai Barat, tepatnya di Situs Megalitik Warloka, kawasan pesisir tua yang menyimpan jejak hunian manusia awal. Warloka bukan sekadar kampung nelayan atau gerbang menuju kawasan Komodo, tetapi ruang peradaban purba tempat batu-batu megalit berdiri sebagai penanda ingatan kolektif.
Struktur batu, teras-teras kuno, dan posisi strategis di pesisir menunjukkan bahwa wilayah ini telah lama menjadi simpul perjumpaan manusia, laut, dan kosmologi. Berjalan di Warloka berarti menyadari bahwa sejarah Flores tidak hanya lahir di pegunungan, tetapi juga di pesisir, dalam relasi manusia dengan laut sebagai sumber kehidupan dan jalur peradaban.
Manggarai: Wae Rebo, Liang Bua, dan Dunia Leluhur
Dari Manggarai Barat, langkah kaki bergerak ke wilayah Manggarai, tempat lanskap budaya Flores menampilkan kedalaman kosmologisnya. Di pegunungan Manggarai berdiri Wae Rebo, kampung adat yang hanya bisa dicapai dengan berjalan kaki menyusuri hutan.
Rumah adat berbentuk kerucut (mbaru niang) di Wae Rebo bukan sekadar arsitektur unik, melainkan simbol hubungan vertikal antara manusia, leluhur, dan Yang Ilahi. Batu-batu megalitik di tengah kampung menjadi pusat ritus dan pengikat identitas komunal.
Tak jauh dari sana, Situs Liang Bua membuka jendela ke masa yang jauh lebih purba. Penemuan Homo floresiensis di gua ini mengubah peta evolusi manusia dunia. Namun bagi masyarakat lokal, Liang Bua bukan sekadar situs ilmiah, melainkan bagian dari lanskap hidup—ruang yang menyimpan kisah, pantangan, dan makna spiritual.
Walking tour di Manggarai menghubungkan manusia purba, leluhur adat, dan komunitas masa kini dalam satu bentang sejarah yang utuh.

Manggarai Timur: Danau Rana Mese dan Etika Alam
Perjalanan berlanjut ke Manggarai Timur, wilayah yang ditandai oleh hutan adat, danau, dan bukit-bukit sunyi. Danau Rana Mese dipandang sebagai danau sakral, dijaga oleh mitos dan aturan adat yang berfungsi melindungi keseimbangan ekologis.
Di kawasan ini, berjalan berarti belajar etika: bagaimana manusia hidup berdampingan dengan alam tanpa merusaknya. Hutan bukan sekadar sumber daya, tetapi ruang moral, tempat manusia diuji kesetiaannya pada leluhur dan kehidupan.
Ngada: Lembah So’a dan Kampung Megalitik
Memasuki Ngada, perjalanan budaya Flores menyentuh salah satu wilayah prasejarah terpenting, yakni Lembah So’a. Situs ini menyimpan jejak aktivitas manusia ratusan ribu tahun silam, menegaskan bahwa Flores adalah pulau tua dalam sejarah kemanusiaan.
Jejak purba Lembah So’a menemukan kesinambungannya dalam kampung-kampung adat seperti Bena dan Luba. Menhir, ngadhu, dan bhaga berdiri sebagai simbol leluhur dan keseimbangan kosmos. Batu-batu itu bukan peninggalan mati, melainkan penjaga memori dan identitas.

Nagekeo: Legenda Ebu Gogo dan Ruang Mitos
Di Nagekeo, lanskap budaya Flores bergerak ke wilayah mitos dan cerita lisan, terutama legenda Ebu Gogo—makhluk kecil penghuni gua dan hutan yang hidup berdampingan dengan manusia dalam kisah-kisah lama.
Legenda ini sering dikaitkan dengan temuan arkeologis di Flores, namun bagi masyarakat lokal, Ebu Gogo adalah cara memahami dunia lama, masa ketika batas antara manusia, alam, dan makhluk lain belum tegas.
Di sekitar Boawae dan Gunung Ebulobo, situs adat dan gereja tua berdiri berdampingan, menandai proses panjang perjumpaan mitologi purba dan iman Katolik.
Ende–Lio: Tradisi Kampung dan Imajinasi Bangsa
Di Ende dan wilayah Lio, lanskap budaya Flores bersentuhan langsung dengan sejarah nasional. Kampung adat Wologai mempertahankan struktur kosmologis yang kuat, sementara kota Ende mencatat masa pengasingan Bung Karno.
Di sini, tradisi lokal—tenun, hukum adat, bahasa—menjadi latar dialog tentang keadilan sosial dan kemanusiaan. Ende menunjukkan bahwa Indonesia lahir dari perjumpaan dengan kebudayaan lokal, bukan dari penghapusan identitas.
Sikka: Waer Noke Rua, Watu Cruz, dan Tenun Iman
Di Sikka, khususnya wilayah selatan, lanskap budaya Flores menemukan ekspresi khas melalui Waer Noke Rua dan Watu Cruz. Batu-batu sakral ini mencerminkan persilangan adat, kosmologi lokal, dan iman Katolik.
Watu Cruz, batu salib, menjadi simbol inkulturasi iman yang sangat Flores—iman yang tidak meniadakan adat, tetapi berakar di dalamnya. Bersama tradisi tenun ikat dan peran Seminari Ledalero, Sikka menghadirkan wajah Flores sebagai ruang dialog antara iman, intelektualitas, dan budaya perempuan.

Flores Timur: Ziarah dan Laut sebagai Kitab Hidup
Perjalanan budaya Flores berpuncak di Flores Timur. Larantuka, dengan tradisi Semana Santa, menjadikan berjalan sebagai doa. Ziarah dilakukan dengan tubuh, bukan sekadar kata-kata.
Di Adonara dan Lembata, kosmologi Lamaholot memandang laut sebagai ibu kehidupan. Gunung dan laut membentuk keseimbangan spiritual yang mengajarkan keberanian, pengorbanan, dan solidaritas.
Flores, Pulau yang Harus Dijalani
Dari megalit Warloka, Wae Rebo, Liang Bua, Lembah So’a, legenda Ebu Gogo, hingga batu salib di selatan Sikka, Flores tampil sebagai satu narasi panjang yang hanya bisa dipahami dengan berjalan.
Flores bukan destinasi instan. Ia adalah pulau yang menuntut kesabaran, kerendahan hati, dan kesediaan mendengar. Dalam langkah kaki, manusia belajar bahwa budaya bukan tontonan, melainkan relasi hidup.
Flores adalah lanskap budaya berjalan—dan setiap langkah adalah pelajaran tentang menjadi manusia yang seutuhnya. (Silvia). ***

