Gadis Muslim Sematkan Selendang pada Arca Maria, Simbol Harmoni Golo Koe

Redaksi - Selasa, 04 Agustus 2026 21:18
Gadis Muslim Sematkan Selendang pada Arca Maria, Simbol Harmoni Golo KoeSeorng gadis Musli mengalungi arca Bunda Maria dalam proses di Festival Golo Koe 2026 (sumber: Vinsen Patno)

LABUAN BAJO, (Floresku.com) - Sebuah momen sederhana namun sarat makna mewarnai perjalanan ziarah Arca Bunda Maria Assumpta Nusantara di Keuskupan Labuan Bajo. 

Seorang gadis Muslim berjilbab dengan penuh hormat menyematkan selendang pada Arca Bunda Maria, menghadirkan pesan kuat tentang persaudaraan lintas iman di tengah rangkaian Festival Golo Koe 2026.

Peristiwa itu terjadi saat arca melintasi wilayah Paroki Sok Rutung. Tidak ada sekat yang terlihat di antara umat yang hadir. Sebaliknya, suasana yang tercipta justru memperlihatkan keharmonisan antara umat Katolik dan masyarakat Muslim yang hidup berdampingan di Labuan Bajo.

Momen tersebut menjadi simbol bahwa perbedaan keyakinan tidak harus melahirkan jarak, melainkan dapat menjadi ruang untuk saling menghormati, mengenal, dan berjalan bersama.

Arca Bunda Maria Assumpta Nusantara memulai perjalanan ziarahnya sejak 10 Juli 2026, mengunjungi paroki-paroki di wilayah Keuskupan Labuan Bajo sebagai bagian dari rangkaian menuju puncak Festival Golo Koe "Maria Assumpta Nusantara" yang akan berlangsung pada 10–15 Agustus 2026.

Sepanjang perjalanan, arca tidak hanya disambut umat Katolik, tetapi juga masyarakat lintas agama yang turut mengambil bagian dalam berbagai prosesi. Kehadiran mereka memperlihatkan wajah toleransi yang hidup dalam keseharian masyarakat Manggarai Barat.

Baca juga:

Vikep Labuan Bajo, Rm. Yuvens Rugi, menyebut Festival Golo Koe sebagai mozaik persaudaraan universal. Menurutnya, kebersamaan lintas agama yang terbangun selama festival bukan hanya memperlihatkan koeksistensi atau hidup berdampingan, tetapi berkembang menuju proeksistensi, yakni hidup bersama dengan saling mendukung agar setiap orang dapat bertumbuh.

"Kebersamaan lintas iman ini tidak hanya diperlihatkan dalam seremoni budaya, tetapi juga dalam perayaan iman," ujarnya.

Senada dengan itu, Pastor Paroki Sok Rutung, Rm. Ferdy Mayus, menilai keterlibatan umat Muslim dalam prosesi Arca Bunda Maria merupakan pengalaman religius yang memperlihatkan kedewasaan dalam beriman.

"Perbedaan bukan pertentangan, tetapi sarana untuk mengenal semakin dekat dan memperkaya satu sama lain," katanya.

Festival Golo Koe sendiri tidak hanya dikenal sebagai perayaan religius, tetapi juga festival budaya yang merangkul keberagaman. Berbagai pertunjukan seni, pameran budaya, kuliner, dan aktivitas masyarakat dipadukan dengan prosesi rohani sehingga menghadirkan ruang perjumpaan bagi berbagai kelompok.

Sebagai salah satu agenda Karisma Event Nusantara (KEN) 2026, Festival Golo Koe terus memperkuat citra Labuan Bajo sebagai destinasi yang tidak hanya menawarkan panorama alam kelas dunia, tetapi juga pengalaman hidup dalam keberagaman dan persaudaraan.

Momen gadis Muslim yang menyematkan selendang pada Arca Bunda Maria menjadi salah satu kisah yang paling menyentuh dari perjalanan ziarah tahun ini. Dari Labuan Bajo, lahir pesan sederhana namun kuat bagi Indonesia: perbedaan bukan tembok pemisah, melainkan jembatan untuk membangun persaudaraan dan kemanusiaan.

RELATED NEWS