Gawi di Persimpangan: Antara Lomba dan Kehilangan Jiwa

Redaksi - Selasa, 05 Mei 2026 07:33
Gawi di Persimpangan: Antara Lomba dan Kehilangan JiwaPara siswa MPN 4 Wolowaru di Wolojita yang menjuarai lomba gawi tingkat kabupaten Ende 2026 (sumber: Facebook.com--Halo NTT)

Oleh Abraham R.M

Ada yang terasa janggal setiap kali saya menyaksikan lomba gawi di Ende, juga dalam perhelatan yang digelar komunitas diaspora Ende-Lio di Jakarta. 

Di tengah semangat melestarikan budaya, muncul pertanyaan yang tak bisa lagi diabaikan: apakah yang kita tampilkan itu masih gawi, atau sekadar serpihan gerak dari sesuatu yang lebih utuh? 

Bahkan lebih jauh, apakah gawi semata-mata sebuah tarian?

Musik diputar, peserta masuk, lalu tubuh-tubuh bergerak melingkar dengan rapi mengikuti irama yang telah ditentukan. Penonton bertepuk tangan, juri mencatat, pemenang diumumkan. Selesai. 

Namun di balik semua itu, ada sesuatu yang hilang - dan kehilangan itu bukan perkara kecil. Ia adalah jiwa dari gawi itu sendiri.

Gawi bukan sekadar gerakan melingkar. Ia adalah peristiwa hidup. Sebuah ruang di mana suara manusia menjadi pusat, bukan pengeras suara. 

Di sana hadir sodha—suara solo yang memanggil, menghidupkan, dan menuntun seluruh dinamika gawi. 

Baca juga:

Sodha bukan hanya pembuka; ia adalah sumber energi, tempat lahirnya rasa, sekaligus penentu arah kebersamaan. 

Ketika sodha digantikan oleh rekaman, yang hilang bukan hanya teknik, melainkan pengalaman yang seharusnya diajarkan dan diwariskan.

Lebih dari itu, gawi adalah dialog. Ada syair yang dilantunkan dengan kedalaman makna—tentang hidup, relasi, sejarah, dan harapan. 

Ada koor yang menjawab, bukan sekadar mengisi, tetapi merespons dan menghidupkan suasana. Di situlah gawi menjadi milik bersama, bukan milik individu, apalagi milik panitia lomba.

Dalam format lomba hari ini, semua itu kerap dipadatkan. Syair menjadi tempelan, koor menjadi latar, sodha menghilang. Yang tersisa hanyalah gerakan yang dinilai: seberapa kompak, seberapa rapi, seberapa seragam. 

Tanpa disadari, kita merasa telah melestarikan kearifan lokal, padahal diam-diam sedang menyederhanakan - bahkan mengosongkannya.

Gawi sejatinya adalah sebuah ritual dalam bentuk tandak yang sarat makna. Gerakan melingkar dan hentakan kaki hanyalah pengiring dari suara melengking seorang solis, yang bersahut-sahutan dengan peserta dalam syair-syair adat bernilai tinggi. 

Di situlah kekuatan gawi: pada kata dan vokal, bukan semata pada gerak.

Saya tidak menolak lomba. Lomba dapat menjadi ruang apresiasi sekaligus regenerasi. Namun jika lomba justru menghilangkan unsur-unsur paling mendasar dari gawi, maka kita perlu berani bertanya: apa yang sebenarnya sedang kita jaga? 

Keindahan apa yang hendak diwariskan?

Tradisi tidak hidup dari kemasan, melainkan dari praktik yang utuh. Ia tidak bisa dipotong-potong lalu tetap disebut sama. Gawi tanpa sodha, tanpa syair yang hidup, tanpa koor yang responsif, adalah gawi yang kehilangan nadinya.

Bahkan dalam konteks ini, biarlah gerakan terjadi secara spontan - selama tetap melingkar dan bergandengan tangan. 

Kekuatan gawi bukan pada koreografi yang kaku, melainkan pada dinamika suara dan makna yang mengalir di dalamnya.

Ende-Lio memiliki kekayaan budaya yang luar biasa, dan gawi adalah salah satu napasnya. Bisa jadi, kehadirannya setua tradisi pemujaan masyarakat Lio terhadap Nusa Flores sebagai Nusa Nipa - Pulau Ular. 

Gerakan tandak yang melingkar, berputar, seakan merepresentasikan tubuh ular: menghadirkan ketegangan antara kepala dan ekor dalam satu kesatuan yang hidup.
Karena itu, menghadirkan gawi tidak bisa setengah-setengah. 

Jika ingin melombakannya, berilah ruang agar gawi tetap menjadi dirinya sendiri: biarkan sodha hidup, biarkan syair berbicara, biarkan koor merespons, dan biarkan dinamika itu mengalir tanpa dikunci oleh rekaman.

Sebab jika tidak, kita hanya akan mewariskan bentuk tanpa makna. Dan suatu hari nanti, mungkin kita masih melihat lingkaran itu bergerak - tetapi kita tidak lagi tahu untuk apa ia bergerak.

Kiranya ini menjadi catatan kecil yang dapat dipertimbangkan oleh para penggagas lomba gawi ke depan. Semoga! ***

Editor: Redaksi

RELATED NEWS