Geothermal Flores: Dari Audit Menuju Kepemilikan, Belajar dari Maori

Redaksi - Selasa, 08 September 2026 17:33
Geothermal Flores: Dari Audit Menuju Kepemilikan, Belajar dari MaoriMiliki potensi geotherma, PLN bangun PPLTP Ulumbu dan Mataloko (sumber: Istimewa)

Oleh Abraham Runga Mali 

LEBIH dari satu dekade lalu, saya berkunjung ke Selandia Baru. Sampai hari ini, ada satu pengalaman yang terus teringat. Bukan turbin panas bumi. 

Bukan pula tiang-tiang listrik yang berdiri di tengah bentang alam negeri itu. Yang paling membekas justru cara sebuah komunitas adat Māori mengelola sumber daya yang berada di tanah mereka. 

Awalnya, saya datang ke Selandia Baru untuk sebuah kegiatan peliputan yang berkaitan dengan final rugby internasional. Namun dalam perjalanan jurnalistik itu, perhatian saya justru tertarik pada geothermal. 

Bukan semata-mata karena teknologinya. Yang menarik adalah model bisnis di belakangnya. Saya melihat bagaimana masyarakat adat tidak hanya berdiri sebagai pemilik tanah yang kemudian menerima kompensasi.

Mereka membangun lembaga, masuk dalam struktur ekonomi, dan berusaha ikut memiliki nilai yang dihasilkan dari sumber daya tersebut. Pengalaman itu kembali terlintas ketika saya mengikuti polemik geothermal di Flores. 

Tetapi sebelum berbicara tentang kepemilikan, ada satu hal yang perlu saya tegaskan terlebih dahulu. Audit Dulu, Baru Berdebat Sikap saya terhadap geothermal di Flores sebenarnya sederhana: lakukan audit independen. 

Audit itu harus dilakukan oleh ahli dari berbagai disiplin ilmu—geologi, reservoir, seismologi, hidrologi, lingkungan, kesehatan, sosial, hingga ekonomi. 

Tujuannya bukan untuk membuktikan sejak awal bahwa geothermal baik atau buruk. Audit justru diperlukan agar kita mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Apakah geothermal layak dikembangkan di Flores? 

Apakah hanya layak di beberapa lokasi? Atau justru ada lokasi tertentu yang risikonya terlalu besar sehingga tidak seharusnya dikembangkan? 

Jawabannya harus datang dari bukti. Tanpa audit yang dapat dipercaya, kita mudah terjebak dalam pertarungan klaim. Pemerintah mengatakan aman. Penolak mengatakan berbahaya. Perusahaan membawa data. Masyarakat membawa pengalaman. Semua berbicara, tetapi belum tentu menggunakan dasar pengetahuan yang sama.

Bahkan, karena terus berulang cenderung menjadi omong kosong. Akibatnya, perdebatan dapat berlangsung bertahun-tahun tanpa benar-benar membawa kita lebih dekat kepada keputusan. 

Karena itu, audit adalah pintu pertama. Tetapi jika suatu lokasi akhirnya dinyatakan layak, pertanyaan berikutnya justru jauh lebih menarik: Siapa yang akan memiliki kekayaan yang dihasilkan geothermal tersebut? 

Bahasa yang Hilang dari Perdebatan Geothermal 

Selama ini perdebatan geothermal di Flores banyak berlangsung dalam dua bahasa. Bahasa pertama adalah bahasa energi: kebutuhan listrik, investasi, kapasitas pembangkit, ketahanan energi, dan target energi terbarukan. 

Bahasa kedua adalah bahasa masyarakat: tanah, air, lingkungan, risiko, hak masyarakat adat, serta keadilan. 

Kedua bahasa itu penting. Tetapi ada bahasa ketiga yang hampir tidak pernah terdengar. Bahasa kepemilikan. Siapa yang memiliki nilai ekonomi yang dihasilkan dari sumber daya tersebut? 

Pertanyaan ini menurut saya bahkan lebih penting daripada sekadar berapa megawatt listrik yang dapat dihasilkan. Sebuah daerah dapat memiliki sumber daya alam yang besar tetapi masyarakatnya tetap miskin. 

Mengapa? Karena memiliki sumber daya tidak sama dengan memiliki nilai ekonomi yang dihasilkan dari sumber daya tersebut. Di sinilah pengalaman Māori menarik untuk dipelajari oleh Flores. 

Bukan berarti Flores harus meniru mentah-mentah Selandia Baru. Struktur hukum, sejarah, dan masyarakatnya berbeda. Yang layak dipelajari adalah prinsipnya: masyarakat yang hidup bersama sumber daya tidak harus berhenti sebagai penerima kompensasi. 

Mereka dapat ikut menjadi pemilik kepentingan ekonomi dari sumber daya tersebut. 

Dari Pemilik Tanah Menjadi Pemilik Nilai 

Model pembangunan yang kita kenal selama ini relatif sederhana. Perusahaan membawa modal dan teknologi.

Masyarakat menyediakan tanah. Pemerintah memberikan izin dan regulasi. Perusahaan membangun pembangkit. Listrik kemudian dijual. Masyarakat memperoleh kompensasi, pekerjaan, dan program CSR. 

Model seperti ini tentu dapat sah secara hukum. Tetapi ada pertanyaan yang jarang diajukan: Mengapa hubungan masyarakat dengan proyek harus berhenti pada kompensasi, sementara proyek tersebut menghasilkan nilai selama puluhan tahun? 

Di sinilah perbedaan antara kompensasi dan kepemilikan menjadi penting.Kompensasi adalah pembayaran. Kepemilikan adalah bagian dari aset yang terus menghasilkan nilai. Uang kompensasi dapat habis. 

Pekerjaan konstruksi dapat berakhir. Program CSR dapat berganti. Tetapi pembangkit dapat terus beroperasi selama 30, 40, bahkan 50 tahun. Selama itu pula nilai ekonomi terus dihasilkan. 

Karena itu, pembicaraan mengenai geothermal seharusnya tidak berhenti pada berapa harga tanah atau berapa besar kompensasi. Kita juga perlu berbicara tentang kepemilikan aset, bagian pendapatan, dan partisipasi ekonomi jangka panjang. 

Apa yang Bisa Dipelajari dari Māori? 

Māori merupakan masyarakat asli Selandia Baru. Hubungan mereka dengan tanah, leluhur, dan lingkungan mempunyai posisi yang sangat penting dalam kehidupan sosial dan budaya mereka. 

Namun yang menarik, di sejumlah wilayah hubungan itu tidak berhenti pada perlindungan tanah. Masyarakat membangun lembaga seperti trust untuk mengelola kepentingan kolektif mereka. Tūaropaki Trust, misalnya, mengembangkan kepentingan ekonomi dalam geothermal Mōkai. 

Ada pula Tauhara North No. 2 Trust yang terlibat dalam pengembangan geothermal Rotokawa dan Ngā Awa Purua. Di Kawerau, Ngāti Tūwharetoa juga memiliki kepentingan pada aset geothermal dan menjalin hubungan dengan berbagai pengguna energi. Modelnya tidak sama. 

Tetapi ada satu benang merah yang tersambung jelas. Mereka tidak hanya bertanya: “Bagaimana tanah kami digunakan?” 

Mereka juga bertanya: “Bagaimana nilai ekonomi dari tanah dan sumber daya ini dapat kami miliki dan wariskan?” Pertanyaan semacam inilah yang menurut saya perlu mulai muncul di Flores. 

Bagaimana Kalau Masyarakat Flores Ikut Memiliki? 

Mari berandai-andai. Misalnya sebuah proyek geothermal membutuhkan investasi Rp5 triliun. Angka ini hanya contoh untuk menjelaskan mekanisme, bukan estimasi proyek Mataloko, Ulumbu, atau proyek tertentu di Flores. Anggap pembangkit tersebut mempunyai kapasitas 40 MW. 

Dengan faktor kapasitas hipotetis 90 persen, produksi listriknya sekitar 315 juta kWh per tahun. Jika harga listrik rata-rata diasumsikan Rp1.200 per kWh, pendapatan kotornya secara sederhana dapat mencapai sekitar Rp378 miliar setahun. 

Misalnya setelah biaya operasi, pemeliharaan, pajak, royalti, pembiayaan, dan berbagai kewajiban lain, tersisa laba sekitar Rp100 miliar. 

Sekarang bayangkan masyarakat tidak hanya menerima kompensasi tanah. Mereka mempunyai sebuah Flores Geothermal Trust yang ikut menjadi pemegang saham. 

Sebagai contoh saja, struktur kepemilikannya dapat dibayangkan seperti ini: Flores Geothermal Trust 30 persen. Mitra geothermal strategis 35 persen. Investor institusional 20 persen. 

Pemerintah atau badan usaha daerah 10 persen. Kendaraan investasi masyarakat lainnya 5 persen. Ini tentu bukan proposal final. Angka tersebut hanya digunakan untuk menunjukkan sebuah prinsip. 

Perusahaan tetap memperoleh ruang untuk membawa teknologi dan pengalaman. Investor tetap memperoleh keuntungan yang wajar. Pemerintah tetap memperoleh penerimaan dan manfaat pembangunan. 

Tetapi masyarakat tidak lagi berdiri di luar proyek. Masyarakat ikut berada di dalam struktur kepemilikan. Jangan Buru-Buru Membagi Uangnya Misalkan laba yang dapat dibagikan mencapai Rp100 miliar per tahun. 

Jika separuhnya dibagikan sebagai dividen, tersedia Rp50 miliar. Dengan kepemilikan Trust sebesar 30 persen, bagian Trust sekitar Rp15 miliar setahun. Dalam 30 tahun, secara sederhana nilainya dapat mencapai Rp450 miliar. 

Itu pun belum memperhitungkan pertumbuhan nilai perusahaan, reinvestasi, ekspansi usaha, perubahan tarif, atau keuntungan dari investasi kembali. 

Tetapi menurut saya, uang itu juga tidak seharusnya langsung dibagikan seluruhnya. Kalau Rp15 miliar dibagi habis setiap tahun, beberapa tahun kemudian uang itu mungkin tinggal kenangan. 

Trust seharusnya bekerja sebagai mesin akumulasi modal antargenerasi. Sebagian keuntungan dapat dibagikan kepada masyarakat. Sebagian masuk pendidikan. 

Sebagian kesehatan. Sebagian diinvestasikan kembali. Sebagian menjadi dana cadangan. Sebagian lagi digunakan untuk riset dan perlindungan lingkungan. 

Dengan demikian, geothermal tidak hanya menghasilkan listrik. Ia menghasilkan modal finansial dan modal sosial.

Mengapa Tidak Membuat Dana Abadi Flores? 

Dari sini kita bahkan dapat membayangkan sesuatu yang lebih besar. Sebagian keuntungan geothermal dapat dimasukkan ke sebuah Flores Intergenerational Fund. 

Sederhananya: Dana Abadi Flores. Dana ini tidak digunakan untuk menutup belanja rutin pemerintah. Ia harus diperlakukan sebagai modal milik generasi sekarang dan generasi yang belum lahir. 

Uangnya kemudian dapat diinvestasikan ke berbagai sektor: energi, pertanian, perikanan, pariwisata, pendidikan, teknologi, infrastruktur, hingga perusahaan-perusahaan lokal. 

Dengan cara itu, alurnya berubah menjadi: geothermal → dividen → dana investasi → investasi sektor lain → diversifikasi ekonomi. Inilah cara kekayaan dari satu sumber daya dapat berubah menjadi modal yang bertahan lebih lama daripada sumber daya itu sendiri. 

Jangan Hanya Menghasilkan Listrik Ada pelajaran lain dari kawasan seperti Kawerau. Geothermal tidak harus berhenti pada pola: panas bumi → turbin → listrik. Panas dan listrik yang tersedia dapat menjadi dasar tumbuhnya industri baru. 

Kopi Flores, misalnya, dapat memperoleh fasilitas pengeringan, pengolahan, pengemasan, hingga ekspor. Pertanian dapat didukung greenhouse, cold storage, dan fasilitas pengolahan. 

Perikanan membutuhkan rantai dingin dan industri pengolahan. Pariwisata dapat berkembang menuju spa dan wellness. 

Bahkan sektor digital dapat tumbuh apabila tersedia energi yang andal untuk pusat data dan layanan digital. Dengan kata lain, satu proyek energi seharusnya tidak berdiri sendiri. Ia harus menjadi bagian dari ekosistem ekonomi. 

Kalau tidak, Flores hanya menjadi tempat pembangkit berdiri, sementara nilai ekonomi terbesar tumbuh di tempat lain. 

Mataloko Bisa Menjadi Laboratorium 

Karena itu, Mataloko sebenarnya dapat dilihat dari sudut yang berbeda. Pertanyaannya bukan hanya:Apakah geothermal Mataloko harus dilanjutkan atau dihentikan? 

Jika suatu hari bukti menunjukkan proyek itu layak, pertanyaannya harus bergerak lebih jauh: Bagaimana seharusnya Mataloko dikelola? 

Saya membayangkan lima tahap. Pertama, audit geothermal independen yang meliputi geologi, reservoir, seismologi, hidrologi, lingkungan, kesehatan, sosial, dan ekonomi. 

Kedua, keterbukaan pengetahuan kepada publik. Hasil audit tidak boleh berhenti sebagai dokumen teknis yang hanya dipahami para ahli. 

Ketiga, penguatan kelembagaan masyarakat. Warga membutuhkan kendaraan kolektif yang profesional dan transparan. Keempat, kemitraan kepemilikan. 

Jika proyek dinyatakan layak dan masyarakat menyetujuinya, lembaga masyarakat dapat masuk dalam struktur ekonomi proyek. Kelima, dana antargenerasi. 

Sebagian manfaat harus disimpan untuk anak dan cucu yang mungkin hidup puluhan tahun setelah proyek dimulai. Urutannya penting: audit → pengetahuan → musyawarah → persetujuan → kepemilikan → manfaat. 

Pengetahuan harus mendahului investasi. 

Dari Kedaulatan Pengetahuan ke Kedaulatan Ekonomi 

Masyarakat tidak mungkin mengambil keputusan secara bebas apabila pengetahuan mengenai proyek hanya dimiliki pemerintah dan perusahaan. Itulah mengapa audit penting. 

Tetapi audit saja juga tidak cukup. Audit tanpa dialog dapat berubah menjadi teknokrasi. 

Sebaliknya, dialog tanpa fakta dapat berubah menjadi pertarungan opini. Flores membutuhkan keduanya. Pengetahuan yang dapat diuji dan keputusan yang melibatkan masyarakat. 

Dari sinilah kedaulatan pengetahuan bertemu dengan kedaulatan ekonomi. Masyarakat memahami sumber dayanya. Masyarakat ikut menentukan. 

Dan jika proyek dijalankan, masyarakat juga ikut memiliki manfaat ekonominya. 

Flores Jangan Hanya Menjual Sumber Daya 

Gagasan ini berkaitan dengan sesuatu yang lebih besar yang saya sebut Flores Incorporated. 

Bukan berarti Flores dijadikan sebuah perusahaan. Maksudnya adalah Flores memerlukan lembaga yang memungkinkan masyarakat mengakumulasi aset secara kolektif. 

Flores Development Trust, misalnya, dapat mempunyai berbagai portofolio. Geothermal salah satunya. Energi surya dapat menjadi portofolio lain. 

Pariwisata, pertanian, perikanan, bahkan infrastruktur digital dapat masuk dalam portofolio yang sama. 

Dengan cara itu, Flores perlahan bergerak dari ekonomi yang hanya menjual komoditas menuju ekonomi yang ikut memiliki aset. 

Perubahan paradigmanya sederhana tetapi besar: dari ekonomi berbasis sumber daya menuju ekonomi berbasis kepemilikan. 

Jangan Sampai Kaya Sumber Daya, Miskin Pemilik 

Banyak daerah di dunia memiliki sumber daya alam berlimpah. Tambang beroperasi. Produksi meningkat. Investasi datang. Tetapi masyarakat di sekitarnya tetap tidak mempunyai kekayaan yang berarti. 

tidak selalu semata-mata korupsi. Kadang masalahnya lebih mendasar. Masyarakat tidak pernah mempunyai kendaraan untuk ikut memiliki aset yang menghasilkan keuntungan tersebut. 

Flores harus belajar sebelum terlambat. Karena itu jangan hanya bertanya: Berapa megawatt geothermal yang bisa dihasilkan? 

Tanyakan juga: Berapa besar nilai ekonomi yang akan tinggal di Flores? Dan lebih penting lagi: Berapa bagian dari nilai itu yang benar-benar menjadi milik masyarakat Flores? 

Pada akhirnya geothermal bukan hanya persoalan teknologi. Ia adalah persoalan hubungan antara sumber daya, pengetahuan, modal, dan kekuasaan. Jika masyarakat hanya menerima kompensasi, mereka tetap berada di luar struktur ekonomi proyek. 

Jika masyarakat ikut memiliki kepentingan ekonomi, posisi mereka berubah. Mereka bukan lagi sekadar pihak yang tanahnya digunakan. Mereka menjadi pemilik nilai. 

Jika kepemilikan itu dikelola melalui lembaga yang profesional, transparan, dan berpikir antargenerasi, geothermal dapat menjadi salah satu sumber pembentukan kekayaan Flores. 

Dan jika kekayaan itu terus diinvestasikan, ia dapat menjadi pintu menuju diversifikasi ekonomi. Itulah pelajaran paling penting yang saya bawa pulang dari Māori. Bukan tentang bagaimana mengebor panas bumi. 

Tetapi tentang bagaimana mengubah sumber daya menjadi kepemilikan. Flores tidak harus dipaksa memilih antara geothermal atau masyarakat. 

Jika suatu proyek memang terbukti aman, layak, dibutuhkan, dan diterima masyarakat, ada pilihan yang lebih baik: geothermal bersama masyarakat. Perusahaan membawa teknologi. Investor membawa modal. 

Pemerintah mengatur dan mengawasi. Ilmuwan memastikan bukti tetap menjadi dasar keputusan. Dan masyarakat Flores ikut menjadi pemilik.

 Sehingga ketika listrik telah mengalir selama 30, 40, atau 50 tahun, yang tertinggal bukan hanya sumur, pipa, turbin, dan kabel transmisi. 

Yang tertinggal adalah modal. Modal yang dimiliki. Modal yang diinvestasikan. Dan modal yang diwariskan. Itulah perbedaan antara sekadar membangun proyek energi dan membangun ekonomi. 

Karena itu, mungkin pertanyaan yang paling penting mengenai masa depan geothermal Flores bukan lagi: “Apakah geothermal akan dibangun?” 

Tetapi: “Jika memang layak dibangun, bagaimana memastikan kekayaan geothermal menjadi milik masa depan Flores?” 

Sangat disayangkan apabila sumber daya alam yang terbukti layak dikembangkan justru—meminjam bahasa Hernado de Soto--dibiarkan menjadi dead capital—modal yang tidak pernah benar-benar berubah menjadi kemampuan ekonomi masyarakat. 

Terlebih ketika pada saat yang sama kita terus berbicara tentang kemiskinan, minimnya lapangan kerja, anak muda yang harus meninggalkan kampung, dan para perantau yang mencari kehidupan jauh dari Flores. 

Kalau kekayaan itu memang ada, layak dimanfaatkan, dan dapat dikelola secara aman, pertanyaannya bukan sekadar bagaimana mengambilnya. Pertanyaannya adalah bagaimana memastikan orang Flores ikut memilikinya. ***

RELATED NEWS