Gerak Cepat Uluran Tangan Yayasan PBBK Bantu Mama Romana, Penghuni Gubuk Reyot

redaksi - Minggu, 29 Agustus 2021 16:08
Gerak Cepat Uluran Tangan Yayasan PBBK Bantu Mama Romana, Penghuni Gubuk ReyotDirektur PBBK, Benedikta Da Silva serahkan bantuan untuk mama Romana, penghuni Gubuk Reyot, Minggu (29/8). (sumber: Paul K)

RIANGPUHO (Floresku.com) - Pemberitaan media ini (Sabtu, 28 Agustus 2021) tentang Mama Romana Tupi Koten, wanita tua berstatus janda dengan tempat tinggal 'gubuk reyot' di Kampung Riangpuho,  Desa Waibao, Kecamatan Tanjung Bunga, Kabupaten Flores Timur (Flotim), viral dan menyita perhatian publik dan para relawan.

Salah satu relawan yang bereaksi cepat adalah Benedikta Da Silva, Direktur Yayasan Permata Bunda Berbelas Kasih (PBBK). Yayasan PBKK dengan misi sosial kemanusiaan ini merespon cepat saat membaca berita yang beredar di media sosial.

Benedikta Da Silva, Direktur Yayasan Permata Bunda Berbelas Kasih (PBBK) (Foto: Paul K)

Yayasan PBBK merupakan lembaga pertama yang turun di lokasi dan menuju langsung ke tempat Mama Romana Koten tinggal, Minggu, 29 Agustus 2021.

Ketika Yayasan PBKK tiba di depan gubuk reyot itu, sontak disambut hangat oleh Mama Romana. Dari raut wajahnya, tampak ada pancaran seberkas harapan yang tertimbun sejak lama, yaitu tiga tahun sesuai dengan usia ia menetap di gubuk reyot tersebut.

“Selamat siang mama Romana, bagaimana kabarnya hari ini,” sapa Direktur Yayasan PBKK, Benedikta Da Silva.

“Terima kasih banyak Ibu, sudah mau berkunjung. Maaf saya orang miskin. Kursi untuk ibu duduk tidak ada,”  jawab Mama Romana sambil bersalaman erat dengan direktur Yayasan PBKK, Benedikta Da Silva.

Saat berada di lokasi dan menyaksikan secara langsung kondisi mama Romana, Benedikta Da Silva rupanya menaruh rasa iba yang amat mendalam. Pasalnya kondisi gubuk reyot yang ditempati mama Romana sama sekali tak layak untuk dihuni.

Sebagai bentuk kepedulian nyata, Benedikta Da Silva menyerahkan bantuan berupa sembako dan perlengkapan alat tidur. Sesuai dengan kondisinya saat ini, beberapa bantuan tersebut sangat berarti untuknya.

“Hari ini saya melihat keadaan mama. Dalam waktu dekat ada teman-teman yang akan kesini. Mama jangan kurang hati dan tetap kuat,”  ujar Benedikta penuh iba.

Benedikta juga mengatakan, dalam waktu dekat beberapa fasilitas untuk keperluan rumah tangga dan perlengkapan lain akan dihantar sesegera mungkin.

"Nanti saya hantar selang air untuk mama. Kalau butuh sesuatu sampaikan sajah mama, jangan sungkan", katanya lagi.

Mama Romana masih butuh uluran kasih

Untuk memenuhi tuntutan hidup sehari-hari, Mama Romana Koten bertani mente dan menanam jagung di kintal berukuran kecil. Bermata pencaharian seperti ini tentu jauh dari kata sejahterah.

Deritanya saat bertani juga amat pelik. Saat menanam jagung di kintal kecil itu, tanaman jagung tersebut kerap terlahap hama. Sungguh miris hidupnya ini. Sudah tinggal di gubuk reyot, tanaman jagung dibasmi hama pula.

Sesekali, anak-anaknya datang berkunjung dan membantunya. Namun apalah daya. Salah seorang anak yang bermata pencaharian sebagai petani gurita, tentu tak mampu membangun rumah layak dan menjamin kebutuhan makanan untuk mama Romana. Semua anaknya sudah berkeluarga dan hidup bersahaja. Bantuan dari sang anak tentu seadanya saja.

“Anak-anak kadang membantu. Namun mereka juga berkeluarga dan hidup susah. Yang mereka beri ala kadarnya dan saya syukuri itu,”  kisahnya dengan mata berkaca.

Dengan kondisi gubuk reyot yang ditempatisaat ini, Mama Romana tentu membutuhkan uluran kasih dan kepedulian nurani semua pihak. Entah itu dari pihak manapun.  Sepatutnya,  kepahitan hidup Mama Romana, adalah tanggung jawab kita bersama.  (Paul Kebelen)

BACA JUGA: https://floresku.com/read/romana-topi-koten-janda-miskin-yang-terabaikan

 

Editor: Redaksi

RELATED NEWS