Hilarius Moa: Guru, Mentor dan Penjaga Nilai, Berpulang
Redaksi - Sabtu, 25 April 2026 20:00
Hilarius Moa (sumber: Very Awales)MAUMERE (Floresku.com) - Kabar duka itu datang seperti angin yang membawa kenangan perlahan, tapi sangat mendalam lagi menghanyutkan
Hilarius Moa, sosok guru, kepala sekolah, sekaligus mentor politik bagi banyak generasi di Kabupaten Sikka, telah berpulang.
Kepergiannya meninggalkan jejak mendalam di hati para murid, kolega, dan masyarakat yang pernah merasakan sentuhan keteladanannya.
Bagi banyak orang, Hilarius Moa bukan sekadar pengajar. Ia adalah pendidik sejati.
Di ruang-ruang kelas SMA St. Gabriel dan SMEA St. Gabriel, ia menanamkan lebih dari sekadar ilmu Bahasa Indonesia dan Bahasa Jerman. Ia membentuk karakter, menanamkan disiplin, dan membangun kepercayaan diri anak didiknya.
Baca juga:
- Bacaan Liturgis, Hari Minggu Paskah IV, Hari Minggu Panggilan
- YESUS KRISTUS, SANG GEMBALA YANG BAIK
- Kaum Muda Bukan Objek, Tapi Subjek Perubahan di Ngada
Sebagai kepala sekolah SMEA St. Gabriel, ia dikenal tegas namun penuh kasih. Sosoknya sederhana, bersahaja, tetapi memiliki wibawa yang kuat.
Para murid tidak hanya menghormatinya sebagai guru, tetapi juga mencintainya sebagai orang tua yang selalu hadir dengan nasihat dan perhatian.
Kenangan tentang beliau tak hanya tersimpan di bangku sekolah.
Di luar itu, Hilarius Moa adalah pribadi yang hangat seorang teman bermain bulu tangkis, sahabat diskusi, dan figur yang selalu membuka ruang dialog. Ia hadir dalam banyak sisi kehidupan, menjangkau orang-orang dengan ketulusan.
Dalam dunia politik, perannya tak kalah penting. Sebagai Sekretaris DPD Partai Golkar Kabupaten Sikka periode 1999–2004, ia menjadi bagian dari generasi pejuang yang menjaga eksistensi partai di masa-masa sulit awal reformasi.
Saat Golkar menghadapi tekanan dari berbagai arah, Hilarius Moa bersama tokoh-tokoh lain tetap teguh pada prinsip perjuangan: suara rakyat adalah suara Golkar.
Ia dikenal sebagai mentor politik yang membentuk kader dengan nilai-nilai PDLT (Prestasi, Dedikasi, Loyalitas, dan Tidak Tercela).
Nilai-nilai inilah yang kemudian mengantar banyak kader tumbuh dan berkiprah, bahkan hingga menduduki posisi penting dalam pemerintahan dan legislatif di Sikka.
Tak berlebihan jika dikatakan, bahwa hampir semua pejabat di Maumere pernah merasakan sentuhan didikan atau pengaruh pemikirannya.
Ia adalah “guru bagi banyak guru”, sosok yang bekerja dalam diam namun berdampak luas.
Kini, sosok itu telah pergi. Namun nilai-nilai yang ia tanamkan tetap hidup dalam ingatan, dalam tindakan, dan dalam perjalanan hidup orang-orang yang pernah disentuhnya.
Kepergian Hilarius Moa bukan hanya kehilangan bagi keluarga, tetapi juga bagi dunia pendidikan dan perjalanan sosial-politik di Kabupaten Sikka.
Selamat jalan, Bapak Guru, Bapak Kepala Sekolah, dan Mentor politik yang inspiratif.
Semoga damai menyertai langkahmu menuju kehidupan kekal.
Dan semoga Keluarga dan para pejuang muda serta para kader-kader Nian Tanah Sikka, Maumere Manise yang ditinggalkan mampu menjaga warisan nilai yang telah engkau tanamkan. (Very Awales/dari berbagai sumber)

