Homili Bapa Suci Fransiskus di Basilika Santo Petrus Rabu, 2 Februari 2022

redaksi - Jumat, 04 Februari 2022 11:37
Homili Bapa Suci Fransiskus di Basilika Santo Petrus Rabu, 2 Februari 2022 Bapa Suci Fransiskus, pada Misa Hari Hidup Bakti Sedunia ke-26 di Basilika Santo Petrus, Rabu, 02 Februari 2022 petang. (sumber: Tangkapan Layar Video Vaticannews.va)

VATIKAN (Floresku.com) - Homili Bapa Suci Fransiskus pada Pesta Yesus Dipersembahkan di Bait Allah, Hari Hidup Bakti Sedunia ke 26 bersama Anggota Institut Hidup Bakti dan Konggregasi Kehidupan Apostolik.

Diterjemahkan dari teks asli bahasa Italia dengan perbandingan ke bahasa Inggris dan bahasa Jerman oleh Padre Marco SVD.  

Bapa Suci Fransiskus dalam Misa Hari Hidup Bakti Sedunia ke-26  di Basilika Santo Petrus, Rabu 02, Februari 2022 petang. (sumber: Tangkapan Layar Video Vaticannews.va).

Berikut petikan Homili Bapa Suci Fransiskus selengkapnya:

Dua orangtua, Simeon dan Anna, menunggu di Bait suci akan pemenuhan janji yang Tuhan lakukan kepada umat-Nya, yakni kedatangan Mesias. Tetapi penantian mereka tidak pasif, melainkan penuh dengan gerakan. Karena itu marilah kita mengikuti gerakan Simeon. 

Pertama-tama ia digerakkan oleh Roh, kemudian ia melihat keselamatan di dalam Anak dan akhirnya menyambutnya ke dalam pelukannya (bdk. Luk 2: 26-28). Mari kita berhenti pada tiga tindakan ini dan membiarkan diri kita dilintasi oleh beberapa pertanyaan penting bagi kita, khususnya untuk hidup bakti. Yang pertama: kita digerakkan oleh apa. 

Simeon pergi ke Bait suci "digerakkan oleh Roh" (ayat 27). Roh Kudus adalah aktor utama adegan. Dialah yang membuat keinginan Tuhan membara di dalam hati Simeon. Dialah yang menghidupkan kembali harapan dalam jiwanya. 

Dialah yang mendorong langkahnya menuju Bait Allah dan membuat matanya mampu melihat serta mengakui Mesias, sekalipun sang Mesias menampilkan dirinya sebagai anak kecil dan miskin. Inilah yang dilakukan Roh Kudus, yakni memungkinkan kita untuk melihat kehadiran Tuhan dan karya-Nya, bukan dalam hal-hal besar, dalam penampilan lahiriah, dalam demonstrasi kekuatan, tetapi dalam hal kecil dan dalam kerapuhan. 

Mari kita bermenung tentang salib yang juga menunjukan sebuah hal yang untuk sebagian orang nampak kecil, rapuh, bahkan sebuah drama. Tetapi justru di sana ada kekuatan Tuhan. Ungkapan "digerakkan oleh Roh" mengingatkan akan apa yang dalam spiritualitas disebut sebagai "gerakan rohani/spiritual". 

Gerakan itu berasal dari jiwa dan kita rasakan di dalam diri kita, dan bahwa kita merasa dipanggil untuk mendengarkan, untuk membedakan apakah itu berasal dari Roh Kudus atau sesuatu yang lain. Perhatikanlah dengan baik gerakan-gerakan batin dari Roh. Jadi kita bertanya pada diri sendiri: Oleh siapakah kita terutama membiarkan diri kita digerakkan: oleh Roh Kudus atau oleh roh dunia? 

Ini adalah pertanyaan yang kita semua harus pakai untuk mengukur diri kita sendiri, terutama kita orang-orang yang ditahbiskan atau yang menjalankan hidup bakti. 

Sementara Roh menuntun kita untuk mengenali Tuhan dalam kecil dan rapuhnya seorang anak, kita kadang-kadang justru mengambil risiko memikirkan pengudusan kita dalam hasil, impian, keberhasilan; kita bergerak mencari ruang, visibilitas atau panggung, angka. Itu semua adalah godaan. Roh, di sisi lain, tidak membutuhkan semuanya ini. 

Bapa Suci Fransiskus dalam Misa Hari Hidup Bakti Sedunia ke-26  di Basilika Santo Petrus, Rabu 02, Februari 2022 petang.  (Sumber: Tangkapan Layar Video Vaticannews.va).

Dia ingin kita memupuk kesetiaan setiap hari, patuh pada hal-hal kecil yang telah dipercayakan kepada kita. Betapa indahnya kesetiaan Simeon dan Anna! Setiap hari mereka pergi ke Bait Allah, setiap hari mereka menunggu dan berdoa, bahkan jika waktu berlalu dan sepertinya tidak ada yang terjadi. Mereka menunggu sepanjang hidup mereka, tanpa putus asa dan tanpa mengeluh, tetap setia setiap hari dan menyalakan api harapan yang telah dinyalakan oleh Roh di dalam hati mereka. 

Kita, saudara dan saudari, dapat bertanya pada diri kita sendiri: Apa yang menggerakkan keseharian kita? Cinta apa yang mendorong kita untuk maju? Roh Kudus atau kegairahan sementara? Yang mana dari keduanya? Bagaimana kita bergerak dalam Gereja dan masyarakat? 

Terkadang, bahkan di balik penampilan karya yang baik, cacing narsisme atau hasrat protagonisme dapat disembunyikan. Ada persoalan-persoalan lain lagi, misalnya, sementara melakukan banyak hal, komunitas biara kita tampaknya lebih tergerak oleh pengulangan mekanis – dalam arti melakukan sesuatu karena kebiasaan, hanya sekedar untuk melakukannya - daripada oleh karena antusiasme untuk mengikuti Roh Kudus. Adalah lebih baik bagi kita semua untuk memeriksa motivasi batin kita pada hari pesta ini. 

Marilah kita melihat gerakan rohani-spiritual, karena pembaruan hidup bakti pertama-tama berangkat dari sini. Pertanyaan kedua: Apa yang dilihat oleh mata kita. Simeon, digerakkan oleh Roh, melihat dan mengenali Kristus. 

Dan dia berdoa sambil berkata: "Mataku telah melihat keselamatanMu" (ayat 30). Inilah mukjizat iman yang agung: Ia membuka matanya, mengubah pandangan, mengganti penglihatan. 

Seperti yang kita ketahui dari banyak cerita perjumpaan Yesus di dalam Injil, iman sejatinya lahir dari tatapan belas kasih, dengannya Tuhan memandang kita, mencairkan kekerasan hati kita, menyembuhkan luka-luka-Nya, memberi kita mata baru untuk melihat diri kita sendiri dan dunia. 

Pandangan baru terhadap diri kita sendiri, terhadap orang lain, terhadap semua situasi yang kita hadapi dan jalani, bahkan yang paling menyakitkan sekalipun. Ini bukan pertanyaan tentang penampilan yang naif, tidak, ini adalah sapiential atau yang bersifat bijak. 

Sebuah tampilan naif melarikan diri dari kenyataan atau berpurapura tidak melihat masalah; sebaliknya, ini adalah pertanyaan tentang mata yang tahu bagaimana "melihat ke dalam" dan "melihat ke luar"; yang tidak berhenti pada penampilan luar, tetapi juga tahu bagaimana memasuki celah-celah kerapuhan dan kegagalan dalam upaya melihat kehadiran Tuhan. 

Mata tua dari Simeon, meskipun sudah dimakan usia, bisa melihat Tuhan, melihat keselamatan. Dan kita? Setiap orang dapat bertanya pada diri sendiri: Apa yang dilihat oleh mata kita? Visi apa yang kita miliki tentang hidup bakti? Dunia sering melihatnya sebagai "sia-sia": "Tapi lihat, anak laki-laki yang baik itu menjadi seorang biarawan", atau "anak gadis yang baik itu menjadi biarawati... Itu – kata merekasia-sia. 

Jika setidaknya itu buruk atau jelek ... Tidak, mereka sebenarnya baik, tetapi itu sia-sia ”. Itu pikiran kita. Dunia mungkin melihatnya sebagai sebuah realitas masa lalu, sesuatu yang tidak berguna. Tapi kita, komunitas Kristiani, biarawan dan biarawati, apa yang kita lihat? 

Sebagian biarawawati  dalam Misa Hari Hidup Bakti Sedunia ke-26  di Basilika Santo Petrus, Rabu 02, Februari 2022 petang. (sumber: Tangkapan Layar Video Vaticannews.va).

Apakah kita melihat ke belakang, bernostalgia dengan apa yang sudah tidak ada lagi atau apakah kita mampu memandang jauh ke depan, diproyeksikan ke dalam dan ke luar? Memiliki kebijaksanaan untuk melihat - ini diberikan oleh Roh -: melihat dengan baik, mengukur jarak dengan baik, memahami kenyataan.

 Sangat menyenangkan bagi saya melihat pria dan wanita hidup bakti yang lanjut usia, yang terus tersenyum dengan mata cerah, memberi harapan kepada orang muda. Mari kita renungkan, kapan kita bertemu wajah seperti itu dan kita mengangungkan Tuhan oleh karena hal itu. 

Tatapan mereka adalah tatapan harapan, terbuka untuk masa depan. Dan mungkin ada baiknya kita, pada hari-hari mendatang ini, melakukan kunjungan kepada sama saudara-sama saudari sekongregasi kita yang sudah lanjut usia, untuk melihat mereka, untuk berbicara, bertanya, untuk mendengar apa yang sedang mereka pikirkan. 

Saya yakin, ini akan menjadi obat yang baik. Saudara dan saudari, Tuhan tidak pernah gagal memberikan kita isyarat yang mengundang kita untuk mengembangkan visi hidup bakti yang diperbarui. Dia menginginkan hal itu untuk kita, tetapi di bawah terang, di bawah gerakan Roh Kudus. 

Kita tidak bisa berpura-pura, seolah-olah tidak melihat tanda-tanda ini atau seolah-olah tidak ada yang terjadi, mengulangi hal yang sama seperti biasa, menyeret diri kita sendiri oleh kelalaian ke dalam bentuk-bentuk masa lalu, dilumpuhkan oleh ketakutan akan perubahan. 

Saya sudah mengatakannya berkali-kali: Zaman ini, godaan untuk mundur, supaya aman, karena takut, demi menjaga iman, menjaga karisma pendiri ... Ini adalah godaan, yakni godaan untuk kembali dan menjaga "tradisi" dengan kaku. 

Mari kita camkan ini: Kekakuan adalah penyimpangan, dan di bawah setiap kekakuan, ada masalah serius. Baik Simeon maupun Anna kedunya tidak kaku, tidak, mereka bebas dan memiliki sukacita untuk merayakan. Simeon memuji Tuhan dan bernubuat dengan berani kepada Maria, ibu Yesus. Anna, seperti layaknya seorang wanita tua yang baik, bergerak dari satu sisi ke sisi lain sambil berkata: "Lihat ini, lihat ini!". 

Keduanya memberikan pewartaan dengan gembira, mata mereka penuh harapan. Tidak ada kelalaian masa lalu, tidak ada kekakuan. Mari kita buka mata kita: melalui krisis - ya, benar, ada krisis -, jumlah berkurang - "Bapa, kami tidak punya panggilan lagi, sekarang kami akan pergi ke pulau di Indonesia itu untuk melihat apakah kami bisa menemukan seseorang di sana" -, kekuatan yang berkurang, Roh mengundang kita untuk memperbarui hidup kita dan komunitas kita. 

Dan bagaimana kita melakukan ini? Dia akan menunjukkan jalan kepada kita. Kita membuka hati dengan keberanian, tanpa rasa takut. Kita membuka hati. 

Mari kita memandang kepada Simeon dan Anna: Sekalipun mereka sudah lanjut usia, mereka tidak menghabiskan hari demi hari untuk menyesali masa lalu yang tidak pernah kembali, tetapi mereka membuka tangan untuk masa depan yang datang dan menemui mereka. 

Saudara dan saudari, janganlah kita menyia-nyiakan hari ini dengan melihat hari kemarin yang tidak pernah akan kembali atau memimpikan hari esok yang tidak akan pernah datang, tetapi marilah kita menempatkan diri kita di hadapan Tuhan, dalam penyembahan, dan memohonkan mata yang tahu melihat yang baik dan menemukan jalan-jalan Tuhan. Ia akan memberikannya kepada kita kalau kita meminta. 

Dengan sukacita, dengan semangat, tanpa rasa takut. Akhirnya, pertanyaan ketiga: apa yang kita pegang di tangan kita. Simeon menyambut Yesus dalam pelukannya (lih. ayat 28). 

Ini adalah pemandangan yang lembut dan bermakna, unik dalam Injil. Allah menempatkan Putra-Nya dalam pelukan kita karena menyambut Yesus adalah hal yang esensial, pusat iman. 

Kadang-kadang kita berisiko untuk tersesat dan tercerai-berai dalam seribu hal, memusatkan diri pada aspek sekunder, atau membenamkan diri dalam hal-hal yang harus dilakukan, tetapi pusat dari segalanya adalah Kristus, disambut sebagai Tuhan atas hidup kita. 

Ketika Simeon memeluk Yesus, bibirnya mengucapkan kata-kata berkat, pujian, ketakjuban. Dan kita, setelah bertahun-tahun hidup bakti, apakah kita kehilangan kemampuan untuk takjub? Atau apakah kita masih memiliki kemampuan ini? 

Mari kita telusuri ini, dan jika seseorang tidak menemukannya, mintalah anugerah ketakjuban, kekaguman akan keajaiban yang Tuhan lakukan di dalam diri kita, tersembunyi seperti yang terjadi di dalam Bait Allah, ketika Simeon dan Anna bertemu Yesus. 

Jika kaum hidup bakti kekurangan kata-kata untuk memuliakan Tuhan dan melakukan yang baik bagi sesama, jika tidak ada sukacita, jika tidak ada gerakan hati, jika hidup persaudaraan hanya melelahkan melulu, jika tidak ada perasaan kagum…. itu semua bukan karena kita adalah korban dari seseorang atau sesuatu. Alasan sebenarnya adalah bahwa lengan kita tidak cukup erat merangkul Yesus. 

Suasana Misa Hari Hidup Bakti Sedunia ke-26  Sebagian biarawawati  dalam Misa Hari Hidup Bakti Sedunia ke-26 di Basilika Santo Petrus, Rabu 02, Februari 2022 petang. (sumber: Tangkapan Layar Video Vaticannews.va). 

Dan ketika lengan kaum tertahbis dan hidup bakti tidak memegang Yesus, mereka memegang kekosongan yang mereka coba isi dengan hal-hal lain, tetapi tetap ada kekosongan. Genggamlah Yesus dengan tangan kita: inilah tandanya, inilah jalannya, inilah "resep" untuk pembaruan. 

Jadi, ketika kita tidak memeluk Yesus, hati tertutup dalam kepahitan. Sedih melihat mereka yang menjalankan hidup bakti yang menderita dalam kepahitan hidup: Mereka menutup diri dengan mengeluh tentang hal-hal yang tidak berjalan sebagaimana mestinya. 

Mereka selalu mengeluh tentang sesuatu: pemimpin, atasan, sama saudara dan saudari, komunitas, dapur ... Seolah-olah jika mereka tidak memiliki keluhan, mereka tidak bisa hidup. 

Tetapi kita harus memeluk Yesus dalam penyembahan dan memohon diberikan mata yang tahu bagaimana melihat yang baik dan menemukan jalan Tuhan. Kalau kita menyambut Kristus dengan tangan terbuka, kita juga akan bisa menyambut orang lain dengan kepercayaan dan kerendahan hati. 

Dengan demikian, permusuhan tidak bertambah parah, jarak tidak memisahkan dan godaan untuk melecehkan dan melukai martabat sama-saudara dan sama-saudari kita lenyap. 

Mari kita membuka tangan kita untuk Kristus dan untuk saudara-saudari! Di sana ada Yesus. Saudara dan saudari yang terkasih, marilah kita memperbarui hidup bakti kita hari ini dengan antusias atau kerinduan dan semangat! 

Marilah kita bertanya pada diri sendiri: motivasi apa yang menggerakkan hati dan tindakan kita, visi baru apa kita dipanggil untuk menumbuhkembangkannya, dan di atas segalanya, kita merangkul Yesus. Bahkan jika kita mengalami keletihan dan kelelahan - ini hal biasa: bahkan kekecewaan, itu juga biasa terjadi -, kita lakukan seperti Simeon dan Anna, yang dengan sabar menanti kesetiaan Tuhan dan tidak membiarkan diri mereka dirampok dari sukacita perjumpaan. 

Mari kita berjalan menuju kegembiraan akan perjumpaan: Ini sangat indah! Mari kita tempatkan Tuhan kembali di pusat hidup kita dan maju dengan sukacita. Semoga! ***

RELATED NEWS