HOMILI, Minggu, 27 Februari 2022: Kata-Kata yang Terucap Menjadi Ungkapan Hati yang Terdalam

redaksi - Sabtu, 26 Februari 2022 22:23
HOMILI, Minggu, 27 Februari 2022: Kata-Kata yang Terucap Menjadi Ungkapan Hati yang TerdalamPater Gregor Nule SVD, Pastor Paroki Kewapante, Keuskupan Maumere, Flores. (sumber: Dokpri)

                          (Minggu Biasa VIII C: Sir 27: 4-7; 1Kor 15: 54-58; Luk 6: 39-45)

Ilustrasi: 

Suatu hari terjadi percakapan di antara seekor ikan dengan seekor kura-kura. 

Ikan bertanya, “mengapa setiap kali engkau mengalami masalah engkau selalu bersembunyi, masuk ke dalam cangkangmu? 

Kura-kura menjawab, “apa penting pertanyaan itu aku jawab?” Ikan menlanjutkan. “semua makhluk di perairan ini mempertanyakan sifatmu yang suka bersembunyi jika ada masalah”.

Kura-kura berkata, ”komentar makluk yang lain, apakah penting diperdulikan? Aku tidak pernah menghindar. Aku tidak lari dari masalah apa pun. Aku hanya mencari suasana yang lebih aman dan damai di dalam cangkangku”.

Lalu ikan berkata, “Tetapi, apakah engkau tidak peduli selalu menjadi bahan pembicaraan?” 

Kura-kura berkata,  “Inilah alasan mengapa aku lebih panjang umur daripada kalian. Kalian terlalu sibuk mengurusi kehidupanku sampai-sampai kalian lupa siapa diri kalian. Kalian terlalu sibuk memperhatikan diriku sampai kalian lupa urus diri sendiri”. 

Refleksi:

Ilustrasi di atas mengingatkan kita  tentang kecenderungan umum manusia yang suka mencurigai, berpikir buruk dan berkata-kata negatif tentang orang lain.

 Sadar atau pun tidak, sering kita buang cukup banyak waktu hanya untuk mengurusi hidup orang lain, akibatnya kita lupa memperhatikan diri sendiri. 

Karena itu, hendaknya kita belajar dari kura-kura untuk memelihara hati dan hidup agar selalu baik, dan biarkanlah orang lain berkomentar apa pun. 

Sebab orang yang menyukaimu tetap akan membenarkanmu sekalipun engkau keliru. Sebaliknya, orang yang membencimu kemungkinan besar akan selalu menyalahkanmu.

Kitab Putera Sirakh mengajak kita untuk belajar menjadi orang  bijaksana dalam mengucapkan kata-kata  dan membangun komunikasi dengan yang lain. Sebab kata-kata yang diucapkan mengungkapkan apa yang tersembunyi di dalam lubuk hati dan kualitas pribadi seseorang.  

Orang jahat akan menyatakan pikirannya yang jahat lewat kata-katanya. Sebaliknya, orang baik akan tampil dengan pikiran dan perkataan yang baik dan terhormat. 

Yesus dalam Injil mengajak kita untuk memandang orang lain dengan kasih tanpa kecurigaan dan prasangka buruk, sehingga kita tidak terlalu cepat menilai orang lain secara negatif. 

Sebab kecurigaan dan prasangka buruk itu laksana balok di mata kita, sedangkan perbuatan salah orang lain itu bagaikan selumbar. 

Karena itu, kita harus terlebih dahulu mengeluarkan balok dari mata kita agar kita bisa mengeluarkan selumbar dari mata orang lain. Dengan kata lain, hanya orang yang bebas dari kesalahan-kesalahan berhak mempersalahkan atau mengkritik orang lain. 

Tetapi, siapakah di antara kita yang bebas dari kekeliruan, salah dan dosa? Kita mesti jujur mengakui bahwa kita adalah manusia lemah, yang meskipun berniat melakukan kebaikan, tetapi acapkali yang kita lakukan justeru yang tidak baik atau yang jahat. 

Maka kita hendaknya berusaha agar tidak menghakimi orang lain hanya dari satu perbuatan saja, baik yang salah atau tampak buruk,  maupun yang baik atau tampak luhur. 

Kita melatih diri untuk tidak jatuh ke dalam kesalahan yang sama, suka menghakimi, karena merasa diri lebih baik dan lebih suci daripada yang lain. Kita belajar berkata, bersikap dan bertingkah laku baik dan benar sesuai dengan kebenaran sabda Allah. 

Yesus  juga mengingatkan kita bahwa sumber dari segala kebaikan dan kejahatan terletak di dalam diri dan hati kita. 

Yesus berkata, “Karena tidak ada pohon yang baik yang menghasilkan buat yang tidak baik, dan juga tidak ada pohon yang tidak baik yang menghasilkan buah yang baik”, (Luk 6:43). 

Ini berarti ucapan mulut mengungkapkan apa yang terkandung di dalam hati manusia, dan dari kata-kata yang diucapkan bisa dapat diketahui mutu orangnya. 

Karena itu, mari kita bersatu dengan Allah, sumber kebijaksanaan, sebagai jalan untuk mengalami Allah yang senantiasa berbelaskasih terhadap semua orang. 

Kita bersatu dengan Roh Kudus yang senantiasa mengilhami hati dan budi kita. Mari kita bersatu dengan Yesus Kristus, yang telah datang ke dunia bukan untuk menghakimi, melainkan untuk menyelamatkan seluruh umat manusia. Amen.

Kewapante, 27 Februari 2022. 

P. Gregorius Nule, SVD

RELATED NEWS