HOMILI, P. Gregor Nule, SVD, Minggu, 18 Juni 2023

redaksi - Minggu, 18 Juni 2023 06:14
HOMILI, P. Gregor Nule, SVD, Minggu, 18 Juni 2023Pater Gregorius Nule, SVD, Pastor Paroki Ratu Rosari Kewapante, Keuskupan Maumere, (sumber: Dokpri)

DIPANGGIL UNTUK MEWARTAKAN KERAJAAN ALLAH

 (Minggu Biasa IX A: Kel 19:2-6a; Rom 5:6-11; Mat 9:36-10:8)

Ilustrasi:

Editha, seorang gadis, berusia 15 tahunan, pernah diminta untuk bercerita tentang seorang misionaris yang pernah dia kenal. 

Beberapa nama misionaris terlintas dalam benaknya. Tetapi kemudian ia memutuskan untuk bercerita tentang ibunya, karena ia tidak cukup mengenal misionaris yang lain. 

Ia berkata, “Ibuku adalah seorang misionaris. Dia adalah seorang yang baik, setia dan tekun dalam melaksanakan tugas hariannya. Mungkin hal ini kedengaran lucu dan ganjil. 

Tetapi untuk menjadi misionaris, seseorang tidak perlu harus menjadi imam, bruder dan suster.

Misi ibuku adalah menjadi ibu rumah tangga yang baik, serta ibu bagiku dan bagi keluarga kami. Ibuku tidak pernah memikirkan dan mengutamakan dirinya sendiri. 

Sejak bangun pagi hingga malam ia bekerja sungguh-sungguh untuk menjamin kehidupan kami sekeluarga. Saya tidak pernah kelaparan dan hidup tanpa perhatian dan cintanya yang tulus.

Dan seperti para misionaris besar, ibuku sungguh berani, punya komitmen tinggi dan setia dalam tugas setiap hari.

 Sebenarnya ia bisa pergi bermain bingo atau bercerita dengan ibu-ibu tetangga  sekedar untuk menyenangkan diri. Tetapi ia tidak pernah tinggalkan saya dan keluarga kami. 

Aku sangat beruntung memiliki ibu yang punya hati yang baik dan penuh kasih. Ia  adalah seorang misionaris sejati.

Refleksi:

Yesus memanggil sekelompok orang dan menetapkan mereka sebagai utusanNya untuk mewartakan bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. 

Peristiwa ini berawal dari keprihatinan Yesus ketika melihat begitu banyak orang yang datang kepada-Nya dan mengikuti-Nya.

Mereka lelah dan terlantar laksana domba tak bergembala. Yesus sungguh tergerak hatinya oleh cinta dan belaskasihan terhadap mereka.

Maka Yesus memanggil murid-muridNya dan mengumpulkan mereka menjadi sebuah persekutuan. Yesus  mengajar dan mendidik mereka. 

Yesus juga memberi mereka kuasa untuk mengajar dan melakukan perbuatan-perbuatan ajaib, serta menunjukkan banyak hal tentang rahasia Kerajaan Allah dan ajaran-ajaranNya. 

Akhirnya Yesus mengutus mereka untuk membagikan dan mewartakan apa yang telah mereka  dengar, lihat dan alami. 

Yesus mengutus para murid untuk mencari yang hilang dan tersesat dari bangsa Israel guna membagikan kepada mereka pengalaman kasih Allah yang meneguhkan dan menghibur. Para murid mewartakan iman dan keyakinan mereka kepada orang-orang yang dijumpai. 

Yesus mengutus para muridNya untuk membebaskan manusia dari kuasa setan dan belenggu-belenggu kejahatan. Maka mereka mesti menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati, menyembuhkan orang kusta dan mengusir setan-setan. 

Semua pekerjaan baik ini hendaknya dilaksanakan tanpa menuntut upah dan imbalan apa pun. Sebab  mereka telah menerima semuanya cuma-cuma, maka mereka pun hendaknya membagikannya secara cuma-cuma pula.  

Tugas perutusan keduabelas rasul telah selesai dan sukses. Kini tugas perutusan Yesus dan para rasul diteruskan oleh setiap orang yang telah dibaptis. Kita semua dipanggil dan diutus menjadi misionaris.

Dan, syarat penunjang keberhasilan kita dalam misi adalah berpegang penuh pada inti panggilan dan perutusan, yaitu Yesus dan Kerajaan Allah. 

Kita mesti memiliki sikap  lepas bebas sebagai seorang utusan Allah agar tidak mengandalkan diri sendiri, lalu melupakan intervensi dan penyelenggaraan Tuhan. 

Seorang murid sejati harus pusatkan perhatian pada Kerajaan Allah dan percaya pada penyelenggaraan ilahi. Karena misi para murid Yesus adalah terutama perkara Allah dan bukan sekedar urusan manusia.

Yesus mengutus para murid untuk mewartakan Kerajaan Allah dan menegakkan nilai-nilainya seperti nilai kerukunan, saling menghormati, persatuan,persaudaraan,  kerja sama, kejujuran dan nilai-nilai kemanusiaan lainnya yang justeru mempersatukan manusia dan bukan memecah-belah dan membeda-bedakannya.

Tetapi para murid harus berjuang melawan kuasa kegelapan  yang merajalela di mana-mana yang berusaha menggagalkan misi Yesus dan murid-muridNya. 

Karena itu, Yesus memberi kita kuasa mengusir dan mengalahkan roh-roh jahat itu. Roh jahat dan kuasa kegelapan mengancam setiap orang dan hidup bersama kita. 

Ada kejahatan di mana-mana, penyalahgunaan kuasa yang menindas orang lain, khususnya mereka yang kecil dan miskin. Ada tranksasi jual-beli manusia khususnya wanita dan anak-anak. 

Ada pertengkaran, perselisihan dan ketidaksetiaan dalam hidup perkawinan dan panggilan sebagai imam, bruder, suster dan biarawan/wati. Ada ketidakberesan dan kekacauan di mana-mana. Banyak orang  hidup tertekan dan terancam.

Oeh karena itu, sebagaimana keyakinan sang gadis dalam cerita di atas bahwa ibunya adalah sungguh-sungguh misionaris di dalam rumah tangga dan keluargannya, maka kita pun mesti sadar dan yakin bahwa kita juga adalah  misionaris dan utusan Tuhan di tengah dunia dan lingkungan di mana kita hidup, berkarya dan berbagi kasih. 

Kita mesti berjuang melawan pengaruh roh jahat dan kejahatan yang terjadi di mana-mana, sehingga Kasih dan Damai Allah meraja atau memenhui hati semua orang di mana saja. 

Semoga Tuhan Yesus memberkati seluruh misi perutusan kita di kita hidup dan bertugas. Amen.

Kewapante, Minggu 18 Juni 2023.

P. Gregorius Nule, SVD. ***

 

 

 

Editor: redaksi

RELATED NEWS