HOMILI Pater Gregor Nule, SVD: Minggu Biasa IIIA, 22 Januari 2023

redaksi - Sabtu, 21 Januari 2023 18:17
HOMILI  Pater Gregor Nule, SVD: Minggu Biasa IIIA, 22 Januari 2023Pater Gregor Nule SVD (sumber: Dokpri)

KITA DIPANGGIL MENJADI PENERUS KARYA KESELAMATAN DI  DUNIA

Minggu Biasa IIIA: Yes 8:23b – 9:3; 1Kor 1: 10-13.17; Mat 4: 12 -23)

Ilustrasi: 

Bibi Sofi adalah seorang pembantu rumah yang baru saja dibaptis. Ia berkata bahwa tugasnya adalah membersihkan lantai dan berkotbah. Ke mana pun ia pergi, ia selalu bersaksi tentang Kristus, sang Juruselamat, kepada orang lain.

Suatu saat seorang ibu mengoloknya dengan mengatakan bahwa ia melihatnya beberapa waktu lalu berbicara tentang Kristus kepada sebuah patung kayu yang diletakkan di depan sebuah restauran. 

Bibi Sofi menjawab, “Mungkin saya telah melakukan itu. Sebab penglihatanku kurang baik. Saya tidak bisa melihat dengan jelas. 

Tetapi berbicara tentang Kristus kepada sebuah patung kayu tidak seburuk menjadi seorang kristen yang bersikap dan bertindak seperti patung kayu yang tidak pernah berbicara kepada orang lain dan bersaksi tentang Kristus”.

Refleksi:

Bacaan-bacaan hari ini mengajak kita untuk bekerja sama dengan Tuhan untuk membawa terang kepada dunia. Kita diminta untuk bersaksi tentang Allah dan kebaikanNya. Kita menjadi alat Tuhan untuk menghadirkan karya keselamatan Allah bagi dunia.

Dalam bacaan pertama Nabi Yesaya meramalkan bahwa di tengah penderitaan dan ketidakpastian, orang-orang Israel akan melihat dan mengalami di dalam diri Mesias yang akan datang suatu cahaya cemerlang yang membawa kegembiraan, kedamaian dan kemerdekaan sejati.

 Cahaya itu tinggal di antara mnausia, karena Dialah Imanuel, Allah Beserta Kita. Orang-orang Israel harus tetap percaya dan berharap.

Injil hari ini mewartakan tentang Yesus yang bertemu dengan calon muridNya di tengah situasi hidup sehari-hari.  Mereka dipanggil dengan nama masing-masing. Pertemuan para murid dengan Yesus dan panggilan mereka bersifat personal atau pribadi. 

Semua calon murid pertama dengan bebas, tahu dan mau melepaskan pekerjaan sehari-hari sebagai nelayan, lalu mempercayakan diri sepenuhnya kepada Yesus dan tugas baru yang diberikan Yesus kepada mereka. Tidak ada unsur paksaan apa pun.

Yesus memanggil empat orang nelayan untuk mengikutiNya dan menjadikan mereka rasul. Yesus mengubah  ofisi atau pekerjaan mereka dari penangkap ikan di danau Galilea untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan mempertahankan hidup keluarga menjadi nelayan manusia. 

Yesus berkata, “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia”, (Mat 4: 19). 

Yesus sangat perduli terhadap pola hidup, tingkah laku dan kualitas kepribadian dari murid-muridNya. Karena itu, Ia coba mendidik dan membentuk mereka melalui kata-kata atau pengajaran-pengajaran, baik langsung maupun tidak langsung, menunjukkan sikap hidup serta tindakan-tindakan  yang perlu mereka ikuti dan miliki.   

Yesus mendidik para murid   melalui pengalaman hidup bersama sehari-hari. Mereka melihat bagaimana Yesus, sang Guru, menyembuhkan orang sakit, mengusir roh jahat, menolong orang-orang sederhana dan miskin,  memberi makan kepada orang-orang lapar, mencari  mereka yang hilang dan tersingkirkan, dan memenuhi kerinduan orang-orang yang berusaha mencari makna hidup.  

Para murid tidak hanya menjadi penonton melainkan terlibat secara aktif di dalam hidup dan kegiatan misioner Yesus. 

Semua pengalaman di atas pelan-pelan membangkitkan sebuah kesadaran  dan keyakinan baru tentang siapa itu Yesus dan bagaimana seharusnya menjadi murid Yesus. Mereka percaya bahwa Dialah Tuhan dan Mesias, Dialah jalan, kebenaran dan hidup sejati bagi siapa saja yang percaya kepadaNya.

Selanjutnya, Yesus mengutus para murid untuk membawa terang kepada bangsa-bangsa, yakni mewartakan Kerajaan Allah dan menegakkan nilai-nilai Kerajaan Allah,  seperti nilai kerukunan, persatuan, persaudaraan,  kekeluargaan, kerja sama, kejujuran dan ketulusan, kesetiaan, keterbukaan, saling menghormati dan nilai-nilai kemanusiaan lainnya, yang justeru mempersatukan umat manusia, dan bukannya membeda-bedakannya serta  memecah-belah satu dengan yang lain. 

Para murid harus berjuang melawan kuasa kegelapan dan kejahatan  yang merajalela di mana-mana dan berusaha menggagalkan misi Yesus dan murid-muridNya. 

Karena itu, kepada murid-muridNya Yesus memberi kuasa mengusir dan mengalahkan roh-roh jahat. Sebab roh jahat dan kuasa kegelapan ada di mana-mana dan mengancam setiap orang yang berkehendak baik. 

Ada aneka kejahatan di mana-mana, seperti penyalahgunaan kuasa yang menindas orang lain, khususnya mereka yang kecil dan miskin; ada transaksi jual-beli manusia, khususnya wanita dan anak-anak; ada pertengkaran, perselisihan dan ketidaksetiaan dalam panggilan hidup, baik sebagai imam, biarawan/ti maupun sebagai suami-isteri. Inilah tanda-tanda kegelapan yang dialami manusia dalam hidup sehari-hari.

Hari ini  Yesus menjumpai kita di tengah keseharian hidup dan karya kita. Yesus berkata, “Ikutlah Aku”. Dengan kata-kata ini Yesus mau menyadarkan kita bahwa hanya ada satu hal yang terpenting, yakni mengikuti-Nya ke mana saja Ia pergi dan bersedia melaksanakan tugas perutusanNya di dunia. 

Kita membawa kedamaian bagi mereka sedang berselisih dan hidup dalam pertikaian. Kita menjadi terang bagi mereka yang tinggal dalam kegelapan dan jauh dari Allah.

 Kita memberikan ketenangan dan penghiburan bari mereka yang sakit dan bersusah. Kita menjadi alat Tuhan demi keselamatan dan kebahagiaan saudara-saudari kita di sini dan sekarang.  Amen. 

Kewapante, Minggu, 21 Januari 2023

P. Gregorius Nule, SVD 

 

 

RELATED NEWS