Ikan Diskip Diganti Ayam, MBG Wairklau Disorot

Redaksi - Sabtu, 18 April 2026 21:23
Ikan Diskip Diganti Ayam, MBG Wairklau DisorotKepala SD Inpres Wairklau, Maria Dua Nona (sumber: Silvia)

MAUMERE (Floresku.com)– Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di SD Inpres Wairklau, Maumere, Kabupaten Sikka, menjadi sorotan setelah muncul dua isu sekaligus: temuan ulat pada menu sayur siswa dan kebijakan “sementara” mengganti ikan dengan ayam dalam menu harian.

Kepala SD Inpres Wairklau, Maria Dua Nona, menjelaskan bahwa pihak dapur MBG dari SPPG Kota Uneng 4 Yayasan Atoin Nusa Amasat bersama aparat kepolisian datang langsung ke sekolah pada Kamis untuk melakukan klarifikasi atas temuan ulat dalam makanan siswa.

Menurut Maria, peristiwa itu terjadi pada Rabu lalu ketika siswa kelas 5 melaporkan adanya ulat yang sudah mati di dalam omprengan sayur. 

“Anak-anak setelah makan langsung lari ke saya dan menyampaikan bahwa mereka menemukan ulat di sayur. Walaupun ulatnya sudah mati, mereka merasa tidak nyaman,” ujarnya.

Ia mengakui belum sempat menyampaikan temuan tersebut kepada pihak dapur MBG karena kesibukan. 

Namun, informasi itu diduga menyebar dari cerita siswa kepada orang tua hingga akhirnya viral dan sampai ke pihak penyedia makanan serta aparat kepolisian.

Baca juga:

“Anak-anak mungkin cerita ke orang tua, lalu berkembang ke mana-mana. Akhirnya pihak dapur dan polisi datang untuk klarifikasi langsung,” katanya.

Dalam pertemuan tersebut, Maria juga menyoroti menu MBG yang dinilai kurang bervariasi. Ia mempertanyakan dominasi menu ayam dan telur, sementara ikan yang merupakan sumber protein lokal justru tidak pernah disajikan.

“Saya tanya kenapa setiap hari ayam atau telur. Padahal kita daerah penghasil ikan. Kenapa tidak ada ikan, atau mungkin daging sapi seperti rendang yang juga baik untuk anak-anak?” ungkapnya.

Menanggapi hal itu, pihak dapur MBG menyampaikan bahwa terdapat “semacam” aturan dari Badan Gizi Nasional yang mengarahkan agar ikan untuk sementara tidak disajikan dan diganti dengan ayam.

“Mereka bilang ikan di-skip dulu, diganti ayam. Alasannya tidak dijelaskan secara rinci,” kata Maria menirukan penjelasan pihak dapur.

SPPG Kota Oneng 4, Maumere

Selain itu, pihak dapur juga menegaskan bahwa tempe dan tahu menjadi menu wajib harian sebagai sumber protein nabati bagi siswa. Sementara untuk protein hewani, variasinya masih terbatas pada ayam dan telur.

Maria menambahkan, pihak sekolah akan menyampaikan informasi tersebut kepada para orang tua siswa, mengingat pengawasan terhadap program MBG tidak hanya dilakukan sekolah, tetapi juga keluarga di rumah.

“Orang tua juga selalu pantau. Anak-anak pulang sekolah cerita apa yang mereka makan. Jadi kami akan sampaikan juga bahwa ada kebijakan dari pusat terkait variasi menu ini,” ujarnya.

Sementara itu, media ini juga mengunjungi dapur MBG dan bertemu dengan salah satu petugas, Adin. Ia memastikan bahwa persoalan dengan pihak sekolah telah diselesaikan melalui pertemuan langsung.

“Sudah tidak ada masalah lagi. Kami sudah ke sekolah dan bertemu dengan kepala sekolah,” katanya singkat.

Terkait temuan ulat dalam sayur, Adin mengakui bahwa kondisi ketersediaan air di dapur masih terbatas, yang diduga memengaruhi proses pencucian bahan makanan.

“Memang air agak terbatas, itu jadi kendala,” ujarnya.

Kasus ini menjadi catatan penting bagi pelaksanaan program MBG di daerah, terutama terkait standar kebersihan dan variasi menu berbasis potensi lokal seperti ikan, yang justru belum dimanfaatkan secara optimal. (Silvia). ***

 

 

 

 

RELATED NEWS