Jalan Panjang Capt Sorindra Menuju Bungku
Redaksi - Rabu, 14 Oktober 2026 22:07
Capt Sorindra Nahkoda Baru KUPP Bungku (sumber: Yos N.)OlehYosef F. Naiobe *
SETAHUN menunggu, berkali-kali mendengar kabar pelantikan, lalu kembali menelan ketidakpastian. Bagi Capt Sorindra, perjalanan menuju kursi Kepala UPP Kelas III Bungku bukan sekadar soal jabatan, melainkan juga tentang kesabaran, doa, dan tanggung jawab yang kini menanti.
Kabar itu sudah lama beredar. Mula-mula terdengar seperti kepastian, lalu menguap menjadi tanda tanya. Bulan berganti bulan, tetapi pelantikan yang ditunggu tak kunjung datang.
“Dalam waktu dekat.”
“Bulan depan.”
“Akhir tahun.”
Begitulah kabar yang berulang kali sampai ke telinga Capt Sorindra, S.H., M.M., M.Mar. Setiap kali informasi itu muncul, harapan kembali menyala. Namun, ketika hari yang dijanjikan lewat tanpa kepastian, ia harus kembali menata kesabaran.
Hingga Rabu, 14 Oktober 2026, penantian itu akhirnya berujung.
Dari Jakarta, melalui layar Zoom, Sorindra resmi dilantik sebagai Kepala Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) Kelas III Bungku, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah. Jabatan yang selama lebih dari setahun diisi pelaksana tugas itu kini memiliki pemimpin definitif.
Bagi sebagian orang, pelantikan mungkin hanya sebuah seremoni kedinasan. Bagi Sorindra, hari itu menandai berakhirnya satu perjalanan panjang sekaligus awal dari tanggung jawab baru.
Ia akhirnya tiba di Bungku—setidaknya secara resmi.
Kabar yang Tak Kunjung Menjadi Kepastian
Cerita ini bermula pada Juli 2025, ketika Dr. Andi Abbas, S.H., M.H., M.Si., memasuki masa purna bakti dari jabatan Kepala UPP Kelas III Bungku.
Sejak saat itu, kursi pimpinan kantor tersebut kosong dari pejabat definitif. Tugas kepemimpinan dijalankan secara bergantian oleh pelaksana tugas, mulai dari Ilyas, S.E., kemudian Ibrahim, hingga Andi Arwin Yunus, S.H.
Di tengah pergantian itu, nama Sorindra kerap disebut sebagai calon pengganti. Saat itu, ia menjabat Kepala Seksi Kesyahbandaran di Kantor UPP Kelas I Molawe, Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara.
Baca juga:
Kabar tentang kemungkinan kepindahannya ke Bungku terus beredar. Ada yang menyebut pelantikan tinggal menunggu waktu. Ada pula yang memperkirakan keputusan segera turun dari Jakarta.
Namun, kabar tetaplah kabar sebelum dituangkan dalam keputusan resmi.
Bagi Sorindra, keadaan itu menuntut satu hal: tetap bekerja di tempat tugasnya, tanpa larut dalam berbagai kemungkinan yang belum pasti.
Hari-hari berjalan seperti biasa. Urusan kesyahbandaran di Molawe tetap harus diselesaikan. Tanggung jawab yang ada di depan mata tidak bisa ditinggalkan hanya karena harapan terhadap jabatan baru.
Di situlah kesabaran diuji. Bukan dengan berhenti berharap, melainkan dengan terus menjalankan kewajiban ketika hasil yang dinanti belum juga datang.
Jabatan, Sebuah Amanah
Ketika dihubungi melalui sambungan telepon pada Rabu (14/10), Sorindra menyampaikan rasa syukurnya atas kepercayaan yang diterima.
“Terima kasih atas doanya selama ini,” katanya singkat.
Ia tidak banyak bicara tentang panjangnya penantian. Sorindra justru menekankan beratnya tanggung jawab yang kini berada di pundaknya.
“Jabatan ini adalah amanah dan tanggung jawab berat. Namun, dukungan dari keluarga, sahabat, maupun rekan-rekan kerja merupakan motivasi dan motor penggerak yang menyemangati saya,” ujarnya.
Kalimat itu memperlihatkan bahwa baginya, jabatan bukan semata-mata pencapaian pribadi. Ada tanggung jawab institusional yang harus dijalankan dan ada orang-orang yang selama ini memberi dukungan di belakangnya.
Pelantikan memang berlangsung secara daring. Tetapi, tanggung jawab yang menyertainya tidak bisa dijalankan dari balik layar semata.
Baca juga:
https://floresku.com/read/buku-nautika-karya-capt-sorindra-segera-terbit
Di Bungku, pekerjaan nyata telah menunggu: memastikan pelayanan kepelabuhanan berjalan tertib, mengawasi keselamatan pelayaran, dan menjalankan fungsi kesyahbandaran sesuai ketentuan.
Morowali bukan kawasan yang bisa dipandang sebelah mata. Aktivitas ekonomi dan industri di wilayah ini membuat keberadaan pelabuhan memiliki arti penting bagi pergerakan orang dan barang.
Di tempat seperti itu, kepala kantor tidak cukup hanya memastikan urusan administrasi selesai. Ia juga dituntut membangun koordinasi, menjaga kualitas pelayanan, dan memastikan aturan keselamatan tidak menjadi sekadar dokumen di atas meja.
Pelabuhan Bukan Hanya Tempat Kapal Bersandar
Sorindra datang dengan latar belakang yang cukup beragam. Ia merupakan perwira pelayaran niaga dengan keahlian nautika dan gelar Master Mariner (M.Mar.). Ia juga memiliki gelar Sarjana Hukum (S.H.) dan Magister Manajemen (M.M.).
Sebelum ditugaskan memimpin UPP Bungku, ia telah menjalankan tugas sebagai Kepala Seksi Kesyahbandaran di UPP Kelas I Molawe.
Pengalaman tersebut menjadi bekal untuk memahami bahwa pelabuhan memiliki banyak sisi. Ada kapal yang harus dilayani, keselamatan yang harus dijaga, aturan yang mesti ditegakkan, dan kepentingan berbagai pihak yang perlu dipertemukan.
Namun, Sorindra juga ingin melihat pelabuhan dari sudut pandang yang lebih luas: kehidupan masyarakat di sekitarnya.
Baginya, pelabuhan tidak semestinya hanya dipahami sebagai tempat kapal bersandar atau barang dibongkar dan dimuat. Pelabuhan juga menjadi bagian dari denyut ekonomi masyarakat, termasuk warga pesisir dan buruh yang menggantungkan penghidupan pada kegiatan kepelabuhanan.
Karena itu, ia berharap kepemimpinannya kelak tidak berhenti pada pelaksanaan tugas rutin. Ia ingin membangun sinergi yang lebih kuat dengan Pemerintah Kabupaten Morowali, membuka komunikasi dengan masyarakat sekitar, serta memberi perhatian terhadap kondisi sosial warga dan buruh pelabuhan.
Gagasan itu masih berupa harapan. Pelaksanaannya tentu membutuhkan program yang jelas, koordinasi lintas sektor, dan dukungan dari berbagai pihak. Namun, arah yang ingin dituju mulai terlihat: menjadikan pelayanan publik lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat.
Perjalanan Baru Justru Dimulai
Menjadi kepala kantor definitif bukan akhir dari perjalanan. Justru di situlah ukuran sesungguhnya dari sebuah penantian mulai terlihat.
Selama lebih dari setahun, Sorindra menunggu kepastian tentang Bungku. Kini, setelah keputusan itu datang, ia harus membuktikan bahwa kepercayaan yang diterimanya dapat diterjemahkan menjadi kerja nyata.
Harapan masyarakat terhadap sebuah kantor pelayanan tidak selalu hadir dalam tuntutan besar. Kadang-kadang, harapan itu sesederhana pelayanan yang jelas, urusan yang tidak berbelit-belit, keselamatan yang diperhatikan, serta pejabat yang bersedia mendengar.
Di kawasan pelabuhan, hal-hal sederhana semacam itu bisa berarti banyak bagi mereka yang setiap hari bekerja di sekitar kapal dan dermaga.
Sorindra tentu tidak dapat menyelesaikan seluruh persoalan sendirian. Tetapi, kepemimpinan dapat dimulai dari kesediaan mendengar, kemauan berkoordinasi, dan keberanian menjadikan kepentingan publik sebagai bagian dari pekerjaan sehari-hari.
Kini, perjalanan panjang menuju Bungku telah sampai di ujungnya. Kabar yang dahulu hanya beredar dari mulut ke mulut akhirnya berubah menjadi keputusan resmi.
Namun, bagi nahkoda baru UPP Kelas III Bungku itu, pelantikan bukanlah garis finis.
Ia baru saja meninggalkan satu masa penantian untuk memasuki babak yang lebih menantang: membuktikan bahwa amanah bukan sekadar gelar di depan nama, melainkan tanggung jawab yang harus dirasakan manfaatnya oleh banyak orang.
Sebab, pada akhirnya, keberhasilan seorang pemimpin tidak hanya dikenang dari berapa lama ia menunggu sebuah jabatan, tetapi dari apa yang ia kerjakan setelah jabatan itu berada di tangannya.
*Penulis adalah jurnalis senior, pemimpin redaksi Porostimur.co.

