Jurnalis Senior Kompas Kornelis Kewa Ama Meninggal di Kupang
redaksi - Rabu, 11 Maret 2026 22:22
Kornelis Kewa Ama (sumber: Istimewa)KUPANG (Floresku.com) - Kabar duka datang dari dunia jurnalistik di Nusa Tenggara Timur. Mantan wartawan harian Kompas, Kornelis Kewa Ama, meninggal dunia pada Rabu (11/3) di Rumah Sakit Leona di Kupang, Pulau Timor.
Informasi mengenai wafatnya jurnalis senior kelahiran Adonara Barat, Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur itu pertama kali disampaikan wartawati BeritaSatuTV, Ayu Pugel, melalui pesan di WhatsApp Group Forum Wartawan NTT Sedunia di Jakarta pada Rabu malam.
“Berita duka. Ka Kornelis, wartawan Kompas di Kupang meninggal di RS Leona Kupang diantar oleh polisi. Mohon jika ada kenal keluarganya, mohon dibantu,” tulis Ayu dalam pesannya.
Kepergian Kornelis meninggalkan kenangan mendalam bagi rekan-rekan seprofesi. Mantan wartawan Kompas lainnya, Jannes Eudes Wawa, mengenang almarhum sebagai sosok jurnalis yang tekun dan memiliki naluri jurnalistik yang tajam.
Menurut Jannes, Kornelis dikenal sebagai wartawan yang rajin turun langsung ke lapangan untuk melaporkan berbagai persoalan sosial yang terjadi di tengah masyarakat.
Baca juga:
- Lapopu: Tirai Air Raksasa di Jantung Pulau Sumba
- Gubernur NTT Minta ASN Aktif Posting di Medsos, Ini Kata Pengamat
- DISARPUS Sikka Hadirkan GRAB bagi Lansia di Panti Jompo Padu Wau
“Penciuman Kornelis sebagai wartawan sangat tajam dalam mencermati persoalan sosial. Ia juga unik, karena sering memilih ‘daerah merah’ yang dihindari banyak jurnalis saat ini,” ujar Jannes di Kupang.
Jannes yang juga mantan Ketua Presidium PMKRI Cabang Kupang Santo Fransiskus Xaverius mengatakan Kornelis selalu bertanggung jawab terhadap isu yang diliputnya hingga tuntas menjadi laporan jurnalistik yang lengkap.
Selama berkarier di Kompas, Kornelis pernah bertugas di berbagai wilayah dengan tingkat risiko tinggi. Ia pernah meliput situasi konflik di Timor Timur pada masa gejolak keamanan serta menjalankan tugas jurnalistik di Papua.
“Selama berada di daerah penugasan seperti Timor Timur dan Papua, ia ibarat lepas dari mulut harimau, masuk ke mulut buaya,” kenang Jannes.
Dalam perjalanan kariernya, Kornelis juga sempat bertugas di Solo, Jawa Tengah selama enam bulan sebelum mengikuti pelatihan untuk diangkat sebagai karyawan tetap Kompas.
Pada 31 Desember 1999, ia dipindahtugaskan ke Jayapura untuk menggantikan wartawan Kompas Octo Mote. Selama enam tahun bertugas di Papua, ia aktif meliput berbagai dinamika sosial dan politik di wilayah tersebut.
Kemudian pada Juli 2006, Kornelis dipindahkan ke Kupang. Setahun kemudian, Agustus 2007, ia sempat menuju Dili, Timor Leste untuk meliput pemberontakan Mayor Alfredo yang saat itu menjadi perhatian internasional.
Sementara itu, mantan wartawan Tabloid NOVAS di Dili, Konradus Rupa Mangu, mengenang Kornelis sebagai jurnalis yang teliti dan gemar membaca.
“Ama Nelis itu jurnalis Kompas yang sangat teliti. Tulisan featurenya di Kompas selalu menarik dan sering kami baca bersama saat ngopi atau ketika liputan di Dili,” ujarnya.
Kepergian Kornelis Kewa Ama menjadi kehilangan besar bagi dunia jurnalistik, khususnya bagi komunitas pers di Nusa Tenggara Timur yang mengenalnya sebagai wartawan pekerja keras, independen, dan berdedikasi tinggi pada profesinya.
Kornelis Kewa Ama adalah lulusan Seminari Menengah San Dominggo, Hokeng (1985), dan belajar di STFK/Ledalero sekaligus menjadi warga Seminari Tinggi Santo Paulus Ledalero (1985-1991). (Sil). ***

