Karina KWI dan Caritas Italiana Verifikasi Program Inklusi Disabilitas di Mabar

Redaksi - Selasa, 23 Juni 2026 11:09
Karina KWI dan Caritas Italiana Verifikasi Program Inklusi Disabilitas di  MabarCaritas Indonesia dan Italia Verifikasi Program Bantuan bagi Difabel di Keuskupan Labuan Bajo, Manggarai Barat. (sumber: Vinsen Patno)

LABUAN BAJO (Floresku.com)  – Komitmen membangun masyarakat yang inklusif bagi penyandang disabilitas terus diperkuat di wilayah Keuskupan Labuan Bajo. 

Selama empat hari, 16–19 Juni 2026, Caritas Indonesia (Karina KWI) bersama Caritas Italiana melakukan kunjungan lapangan dan verifikasi data Program Community Based Inclusive Development (CBID) di Kabupaten Manggarai Barat.

Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya bersama untuk mendorong terwujudnya komunitas yang lebih inklusif, tangguh, dan berkeadilan bagi penyandang disabilitas melalui pendekatan berbasis masyarakat.

Program CBID merupakan model pemberdayaan yang menempatkan penyandang disabilitas sebagai subjek pembangunan. 

Program ini bertujuan memperkuat pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas, meningkatkan partisipasi mereka dalam kehidupan sosial, serta memperluas akses terhadap berbagai layanan publik. 

Pendekatan tersebut sejalan dengan Konvensi Hak-Hak Penyandang Disabilitas (CRPD) dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

Baca juga:

Uskup Labuan Bajo, Mgr Maksimus Regus, menyambut baik inisiatif tersebut. Ia berharap kerja sama antara Caritas Indonesia, Caritas Italiana, dan Keuskupan Labuan Bajo dapat menghadirkan perhatian yang lebih nyata bagi kelompok rentan, khususnya kaum difabel.

Menurut Uskup Maksimus, program tersebut sejalan dengan visi pastoral Keuskupan Labuan Bajo yang menempatkan kaum kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan difabel sebagai bagian penting dalam pelayanan Gereja.

Direktur Caritas Keuskupan Labuan Bajo, RD Yuvens Rugi, menegaskan pihaknya siap menjalankan program tersebut di tingkat akar rumput. 

Ia mengungkapkan bahwa koordinasi telah dilakukan dengan paroki-paroki, pemerhati difabel, serta komunitas penyandang disabilitas yang tersebar di wilayah Kabupaten Manggarai Barat.

“Kami telah mengumpulkan data dasar dan selanjutnya akan dilakukan asesmen yang lebih mendalam untuk memetakan kebutuhan serta menentukan bentuk intervensi yang tepat,” ujarnya.

Selama kunjungan berlangsung, tim gabungan melakukan serangkaian kegiatan strategis. Mereka berdialog dengan Uskup Labuan Bajo, pimpinan Caritas Keuskupan, serta staf terkait guna memperoleh gambaran umum mengenai kondisi penyandang disabilitas di wilayah tersebut.

Selain itu, tim juga mengunjungi lima keluarga yang memiliki anggota penyandang disabilitas. Kunjungan ini bertujuan melihat secara langsung berbagai tantangan yang dihadapi penyandang disabilitas dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari akses pendidikan, kesehatan, hingga keterlibatan sosial.

Tim juga mengadakan diskusi dengan tujuh Organisasi Penyandang Disabilitas (OPD). Pertemuan tersebut menjadi ruang untuk mendengarkan pengalaman, masukan, serta rekomendasi dari para penyandang disabilitas guna memperkuat desain program yang lebih partisipatif dan inklusif.

Dalam kerja sama ini, Caritas Indonesia berperan sebagai koordinator pelaksanaan program sekaligus verifikator data lapangan. 

Sementara itu, Caritas Italiana memberikan dukungan teknis, pendampingan strategis, serta berbagi pengalaman dan praktik baik dari berbagai program pemberdayaan penyandang disabilitas yang telah dijalankan di sejumlah negara.

Keuskupan Labuan Bajo sendiri berperan penting dalam penyediaan data, koordinasi dengan mitra lokal, serta memastikan keberlanjutan program di tingkat komunitas.

Hasil verifikasi lapangan ini akan menjadi dasar dalam menentukan sektor prioritas, bentuk kegiatan, serta kelompok sasaran yang akan dilibatkan dalam implementasi Program CBID ke depan.

Melalui proses tersebut, diharapkan lahir pemahaman bersama dan sinergi yang semakin kuat antar-lembaga dalam membangun sistem pelayanan yang lebih ramah, inklusif, dan berkeadilan bagi penyandang disabilitas.

Kegiatan ditutup dengan sesi refleksi bersama untuk mengevaluasi temuan lapangan dan merumuskan langkah-langkah strategis ke depan. 

Keuskupan Labuan Bajo berharap Program CBID dapat menjadi sarana membangun komunitas yang semakin tangguh, inklusif, dan mampu memastikan setiap warga, termasuk penyandang disabilitas, memperoleh kesempatan yang sama untuk berkembang dan berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat. (Vinsen Patno)*

RELATED NEWS