Kata, Bahasa, dan Spiritualitas...

Redaksi - Minggu, 18 Oktober 2026 19:35
Kata, Bahasa, dan Spiritualitas...Pater Kons Beo,SVD (sumber: Dokpri)

Kons Beo, SVD

Der Spiegel di Jerman, L'Express di Prancis, Newsweek di Amerika,  Tempo di Indonesia, pasti tak bisa negasikan Time sebagai model. Henry Luce di tahun 1933, di Amerika, sudah terbitkan Time itu. Ada aura dan kesan tunggal di balik mingguan-mingguan itu. Iklim yang tercipta sepertinya biaskan gerak reaktif memberontak.

Mingguan Tempo di Indonesia, jelas-jelas ingin keluar dari gaya baku berbahasa. Ketika jiwa berbahasa dibikin kerdil oleh penguasa, Tempo ingin beritakan sesuatu, katakan sebuah peristiwa, dengan bebas, ramai, kocak, berbumbu, dan bercitra jenaka pula.

Kenapakah keseharian ini mesti dibikin kaku, kering dalam slogan gersang? Yang harus seperti itu sudah? Gaya seperti itu memang anti alternatif. Ia memusuhi tafsir. Kontemplasi pun disingkirkan sebab dianggap liar mengembara. Maka, di sinilah ada bentrok antara yang 'berpikir sepotong nan ringkas dan yang menjelajahi satu peristiwa dalam ragam aspeknya.

Tempo punya hasrat dan visi terbuka. 'Ingin menampilkan manusia dan peristiwa dalam konteks dan proses, dalam multi segi dan perubahan. Tak ada kisah final. Kemungkinan selalu dibuka untuk versi yang berbeda dari apa yang kita ketahui...'
Yang jadi pertanyaan kunci: Adakah kesediaan untuk dengarkan kebenaran dari orang yang berbeda?

Ketika satu tulisan dibuat, apalagi yang bersifat naratif, 'kaum doktrinal' tentu tak sanggup sembunyikan  tabiat kakunya. Varian kata dan ungkapan berbunga, 'il gioco delle parole,' permainan kata-kata amatlah tak berdaya pikat. Bahkan dianggap haram, dan tak berbobot.

Kisah dan gaya  berbahasa, kata-kata dalam kerygma Gereja pun ada dalam pertaruhan yang tak mudah. Dianggap kaku tak lentur. Penuh kepastian tanda seru. Karena itulah, misalkan Dan Brown dengan Da Vinci Code-nya, di tahun 2003 itu sekian tenar.

Walau sebatas Novel, Da Vinci Code dapat disimak  sebagai 'pahlawan pembebas pikiran dari kolonisasi dan okupasi kekangan kepastian-kepastian dan dogma-dogma yang dipaksakan.' Itu tentu berpautan dengan ajaran dalam cara berbahasa,  pilihan kata serta terminologia yang indoktrinatif, 'kaku, kering dan dogmatis.'

Fakta historis tak tersangkalkan. Pada beberapa dekade lalu itu memang telah mengalir arus Posmodernisme yang kental. Disinyalir, Masa Depan masyarakat manusia berakar kokoh pada 'kepastian absolut dalam kemajuan ilmu, teknologi. Dan daya cerah akal budi akan atasi semua serta lengserkan apapun masalah.'

Dan lagi?
'postur religiositas silam pra modern perlahan-lahan menguap dan jadi sirna. Peradaban sudah berkiblat (mutlak) pada kemajuan ekonomi dan politik. Perkara agama (keyakinan), moral atau dimensi artistik (seni) itu adalah ruang privat.' Tak elok untuk dijamah institusi atau hirarki.

Namun.....
Lihatlah pada kenyataan kekinian. Ternyata, tak ada yang sekian pasti dan sungguh memastikan. Semua yang berjalan dalam waktu dan berubah. Diklaim 'Selama paro pertama abad XX itu, pelan-pelan, hegemoni modernitas mulai keropos dan runtuh.'

Dan lihatlah kini! Alur Post Truth deras mengalir. Itu bukan istilah baru. Nyaris tiga puluh tahun lebih silam Steve Tesich, dalam tulisannya 'The Government of Lies' dalam majalah The Nation sudah memperkenalkannya. Singkat kisah, Post Truth mengacu pada sesuatu 'yang seolah-olah benar, padahal tak ada kebenarannya. Nihil data.

Ini bukan soal kata, permainan kata, atau logika  dengan segala hukum berpikir. Namun, bagaimana satu atau deretan kepalsuan, kebohongan diulang dan terus diulang sampai pada klimaks ketidakberdayaan publik untuk pasrah meyakininya sebagai 'kebenaran.'

Dalam era digital kepalsuan telah dirakit telak dalam kata - kalimat - suara yang dipublikasi masif dan diproduksi berulang-ulang. Maka, kebenaran pun jadi labil. Dia dipaksa turun takhta. Siapapun merasa berhak mengkreasi kebenaran. Kisah demi kisah dikaroseri dalam kausalitas yang dipaksakan. Kebenaran itu 'bukan punya siapa tertentu dan eksklusif.' Tidak!

Tetapi, lihatlah kini! Ali-ali demi proklamasi kata dan bahasa, yang terjadi adalah belepotanlah berita sampah, info palsu, suara penyesatan. Semuanya jadi murah meriah sebagai 'bisnis jawabi dahaga rasa ingin tahu' tak terkendali. Manusia telah didera banyak kesibukan untuk tak punya waktu dan jeli lagi dalam cek fakta.

Maka di persimpangan jalan aneka kata, bahasa dan suara yang 'bebas merdeka, ramai ragam sudut pandang dan menyebarnya interpretasi liar, orang ingin kembali ke jiwa kata dan aura bahasa yang sejuk dan teduh. Yang  mendamaikan dalam jabat tangan  dan pintalan tali kasih.

Publik telah jenuh dan muak pada kata dan bahasa yang terpolusi racun provokatif, dendam, fitnah, kebencian, polarisasi sempit, dan tindak ekstremis yang mengarah pada keretakan, perpecahan serta kehancuran.

Dunia kini sebenarnya rindukan kata dan bahasa yang mempertautkan. Manusia impikan suara yang 'memanggil pulang, dan tersentuh untuk kembali.'

Diyakini sungguh, ratusan ribu insan beriman yang berkumpul di setiap 'kehadiran Paus Leo XIV' di Turki, Lebanon, Monako, Aljazair, Kamerun, Angola, Guinea Ekuatorial, Spanyol, San Marino, Prancis, dapat terbaca sebagai kerinduan dan kehausan untuk mendengarkan: seruan kata, kalimat, bahasa, yang meneguhkan. 

Demi menangkap kembali daya pengharapan dalam ziarah hidup. Semua orang bersama dan bersatu demi menangkap kembali pesan-pesan Kasih dan Perdamaian.
Itu bukanlah sebuah 'show of faith' murahan dan dangkal.

Dalam khazana kekristenan, kata - bahasa dan suara tetaplah berdaya injili, Kabar Baik. Semuanya berdaya ketika terpintal dan terhubung dengan Sang KATA, FIRMAN yang telah menjadi Manusia, 'Dan diam di tengah-tengah manusia' (Yohanes 1: 1-18).

Di kisah hidup yang kita paling nyata:
Ingin rujuk, berdamai, kembali bersahabat, ingin rebut kembali aura spontan  penuh ceriah? Maka perhatikanlah kata, bahasa, dan cara kita berbicara dengan dan tentang sesama. Di situ mesti terpancarlah Spiritualitas Kata, Bahasa dan Bicara yang semestinya. 
Yakinlah!

Verbo Dei Amorem Spiranti

Collegio San Pietro
R o m a
 

‌‌
‌‌

RELATED NEWS