Kisah Sindi, Pedagang Es Kelapa Muda dari Waioti, Maumere

redaksi - Minggu, 25 Januari 2026 12:11
Kisah Sindi, Pedagang Es Kelapa Muda dari Waioti, MaumereSindi sedang melayani seorang pembeli. (sumber: Silvia)

MAUMERE (Floresku.com) -  Sindi adalah perempuan sederhana yang kini menggantungkan hidup dari segelas es kelapa.  Kisah Sindi merintis usaha mikro, kecil dan  menengah (UMKM) ini tidak terjadi secara serta merta.

Mula-mulai ia tinggal di Nangahale, Maumere. Namun Sindi bukan orang asli Naganhale Sikka. Ia berasal dari Saga, Lio, Ende. 

Sudah tiga tahun terakhir, Sindi menekuni usaha kecil ini bersama suaminya.

Awalnya, suaminya bekerja menjual kelapa buah menggunakan mobil pickup. Dari situlah Sindi mulai mengenal dunia dagang. 

Bersama suami, Sindi  sempat ikut tante ke Ende untuk berjualan es buah. Di sana, Sindi belajar melihat cara melayani pembeli, meracik minuman, dan memahami selera pasar.

Ketika pandemi COVID-19 melanda, Sindi dan suaminya memutuskan kembali ke Maumere. Kondisi sulit justru menjadi titik balik. Mereka memilih mencoba berjualan sendiri, memulai dari nol, dengan modal seadanya dan semangat untuk bertahan.

“Saya diajari langsung oleh suami cara meramu dan mengemas es kelapa,” cerita Sindi. Dari tangan suaminya, Sindi belajar memotong kelapa, mencampur es, gula, dan susu, lalu mengemasnya agar menarik dan higienis.

Baca juga:

Kini Sindi berjualan es kelapa di Waioti, di sepanjang Jalan Trans Maumere–Larantuka. Lokasi itu menurutnya cukup strategis. Banyak orang melintas setiap hari, dekat kampus, dan suasananya relatif aman.

“Di sini kami tidak dikejar-kejar Satpol PP. Dulu sempat diberi izin jualan di Taman Tsunami, tapi sepi. Kalau di sini lebih ramai,” katanya.

Pendapatan Sindi sangat tergantung musim. Saat musim panas, omzetnya bisa mencapai Rp700 ribu per hari. Namun di musim hujan seperti sekarang, penghasilannya turun drastis, kadang hanya sekitar Rp100 ribu.

Soal persaingan, Sindi tidak terlalu khawatir. Di seberang jalan memang ada gerai es krim modern, tapi menurutnya pasar mereka berbeda.

“Kalau es krim itu kebanyakan anak-anak. Es kelapa ini semua kalangan suka, apalagi kalau panas,” ujarnya sambil tersenyum.

Sindi memiliki tiga orang anak. Anak sulungnya baru tamat SMA dan kini sudah merantau untuk bekerja. Dua anak lainnya masih sekolah, satu di SMP dan satu di SD. Dari usaha kecil inilah Sindi membiayai kebutuhan rumah tangga dan pendidikan anak-anaknya.

Bagi Sindi, es kelapa bukan sekadar minuman. Ia adalah simbol perjuangan, kemandirian, dan harapan. Dari lapak sederhana di pinggir jalan, Sindi membuktikan bahwa wirausaha kecil bisa menjadi jalan hidup yang bermartabat. (Silvia). ***

RELATED NEWS