Memberi dengan Tulus dan Penuh Pengorbanan
redaksi - Senin, 30 Maret 2026 08:44
Pater Gregor Nule SVD (sumber: Dokpri)Pesan Inspiratif
Oleh: Pater Gregor Nule, SVD
olehYesus mengunjungi lagi sahabat-sahabatNya, Lazarus, Marta dan Maria di Betania. Banyak orang datang ke rumah Lazarus untuk menjumpai Yesus dan melihat Lazarus yang dibangkitkan Yesus dari kematian.
Ketiga bersaudara itu menjamu Yesus dan para muridNya. Ketika itu Maria mengambil setengah kati minyak narwastu murni yang sangat mahal harganya. Ia meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya.
Tindakan Maria ini adalah ungkapan kasih dan terima kasihnya dan saudara-saudaranya kepada Yesus, sahabat mereka yang telah membangkitkan saudaranya Lazarus dari kematian.
Maria mengurapi kaki Yesus dengan minyak narwastu dan menyekannya dengan rambutnya sebagai ungkapan kasih tulus tanpa perhitungan apa pun. Ia memberi yang sangat berharga. Minyak narwastu yang mahal dan merendahkan dirinya untuk melayani Yesus.
Sedangkan Yudas Iskariot punya tanggapan berbeda. Ia menilai tindakan Maria sebagai pemborosan. Ia justeru menginginkan agar minyak mahal itu dijual dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin.
Yudas mau memberi dengan perhitungan untung rugi. Ia melihat tindakan Maria sia-sia dan tidak punya arti apa pun. Hanya buang-buang uang. Sebab baginya Yesus adalah sekedar seorang Guru atau Rabi.
Sebaliknya Maria memberi yang teristimewa kepada Yesus karena Yesus adalah Sahabat Setia dan Tuhan yang berkuasa atas mati dan hidup. Yesus telah memberi dengan penuh kasih maka dibalas dengan tulus dan penuh kasih pula.
Yesus menolak pendapat Yudas Iskariot. Yesus membela tindakan Maria. Yesus melihat tindakan itu bukan sekedar sebagai ungkapan perhatian penuh kasih, tetapi terlebih sebagai ungkapan iman, yakni persiapan akan kematian dan penguburanNya.
Itulah sebabnya Yesus berkata, "Biarkanlah ia melakukan hal ini, mengingat hari penguburan Ku. Karena orang-orang miskin selalu ada padamu, tetapi Aku tidak selalu ada pada kamu", (Yoh 12: 7-8).
Dalam hidup sehari-hari kita temukan dua tipe manusia. Ada orang yang memberi dengan tulus, tetapi ada pula yang memberi dengan perhitungan untung rugi.
Ada orang yang memberi sebagai ungkapan perhatian, kasih dan solidaritas, tetapi ada yang memberi sambil bertanya saya dapat atau untung apa.
Kita belajar untuk memberi dan berbagi dengan tulus sebagai ungkapan kasih dan pengorbanan. Kita jauhkan hati yang tertutup, pelit yang hanya pikirkan kepentingan sendiri.
Kita beri barang, uang, waktu dan perhatian sebagai ungkapan kasih kepada orang lain yang sangat membutuhkan. Kita meneladani Maria, sebaliknya menjauhkan sikap Yudas.
Lebih lagi kita belajar untuk memberikan hati yang penuh kasih yang tulus kepada Yesus, Tuhan dan Juruselamat, yang telah mengorbankan Diri dan hidupNya untuk kebaikan, kebahagiaan dan keselamatan seluruh umat manusia.
Yesus adalah segala-galanya bagi keluarga Lazarus di Betania dan bagi kita. Maka Yesus mesti menjadi istimewa bagi diri, keluarga dan komunitas kita.
Karena itu, semoga kita berusaha agar selalu mengungkapkan iman dan kasih kita kepada Yesus sebab Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat kita,
Kewapante, 30 Maret 2026. ***

