Menelusuri Asal-Usul ‘Budaya Tenun Ikat’ Flores, NTT (Bagian 1)

redaksi - Sabtu, 14 Januari 2023 21:04
Menelusuri Asal-Usul ‘Budaya Tenun Ikat’ Flores, NTT (Bagian 1)Wanita Sikka, Flores sedang melakukan proses Tenun Ikat. (sumber: Istimewa)

JAKARTA (Floresku.com) - Songke Manggarai, Hoba Ngada dan Hoba Upa Pote Nage, Ragi Bay (Dhowik),  Telepoi Rendu, dan Duka Tonggo, Luka Lawo Ende-Lio, Lipa Sikka dan Kewatek Lamaholot adalah kain tenun buatan tangan yang sedang ‘naik daun’ dan semakin dikenal oleh warga  dunia. 

Apa yang dimulai sebagai pakaian sehari-hari tradisional di komunitas itu kini  berkembang menjadi produk tekstil yang secara fenomenal menguatkan identitas orang Flores atau orang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada umumnya.

Tapi, tahukah Anda kapan kerajinan menenun ‘muncul’ di Flores? Apakah itu lahir begitu saja, ataukah karena mendapat pengaruh dari masyarakat berkebudayaan lain?

Sejarah ‘Manusia Flores’

Sebelum kita membahas lebih jauh tentang budaya Tenun Ikat di Flores, barangkali baik kita menelusuri sekilas ‘sejarah’ keberadaan manusia atau Flores.

Kita mengetahui bahwa setiap komunitas atau suku di Flores memiliki narasinya masing-masing mengenai asal-usul ‘nenek moyang’nya. 

Namun, secara umum, kita juga memperoleh informasi dari hasil studi dan penemuan arkeologis mengenai keberadaan manusia purba di pulau kita, Flores.

Pada tahun 2003, para ahli menemukan  fosil hominid kecil  berumur antara 74.000 dan 13.000 tahun di Liang Bua, Manggarai. Mereka menamanya "Manusia Flores" (Homo floresiensis)

Hominid setinggi 3 kaki (91.44 cm)  ini dianggap sebagai spesies keturunan dari Homo Erectus  yang menyusut ukuran fisiknya selama ribuan tahun melalui proses terkenal yang disebut dwarfisme pulau. 

Semula,  Homo floresiensis diidentifikasi hidup pada periode waktu yang relatif baru yaitu sekira 14.000 tahun yang lalu. Namun pemeriksaan ulang terhadap sedimen telah merevisi tanggal tersebut dan hominid ini telah terbukti telah ada di bumi Flores setidaknya sejak 700.000 tahun yang lalu , sampai sekitar 60-50.000 tahun yang lalu. [ Brown, dkk., Nature, 2004].

Homo floresiensis dan Liang Bua, di Manggara (Sumber:www.dailymail.co.uk.)

Pada tahun 2010, para arkeologi menemukan peralatan dari batu di dataran So'a, Flores yang diyakini berusia1 juta tahun. Temuan itu merupakan bukti tertua di mana pun di dunia yang menguatkan keyakinan bahwa manusia purba memiliki teknologi untuk melakukan penyeberangan laut pada waktu yang sangat awal  [Savage, Sam, RedOrbit, 18 March 2010].

Pada sisi lain,  berdasarkan analisis atau sejumlah fosil,  paraarkeologi menyimpulkan bahwa antara 60.000 dan 45.000 tahun yang lalu kelompok manusia ‘modern awal' atau ‘homo sapiens awal’ mencapai Nusantara. Kelompok ini berasal dari ras pra-Austronesia. 

Konon, keturunan penduduk pra-Austronesia di Kepulauan Indonesia masih menjadi mayoritas di wilayah bagian timur, di pulau-pulau seperti New Guinea, Maluku, dan Nusa Tenggara Timur.

Selanjutnya,  disebutkan ada dua gelombang migrasi besar ras Astromelanesoid dan Mongoloid ke wilayah Nusantara. Mereka ini diyakini menjadi nenek moyang orang Indonesia, termasuk orang Flores yang lebih ‘modern’. 

Gelombang migrasi pertama, penutur Austroasiatik itu tiba di wilayah Nusantara sekitar 6.300-5.000 tahun yang lalu. Gelombang migrasi kedua tiba sekitar 4.000 tahun yang lalu.

Jadi, diperkirakan nenek moyang orang Flores yang ‘lebih modern’ dengan ciri-ciri Asutralomelanesid dan Mongoloid telah mendiami Pulau Flores  sejak lebih dari 3.500 tahun yang lalu. 

Zaman ini disebut pula sebagai Zaman Logam (Perunggu) atau Masa Perundagian (3000SM -200M). Kata ‘Perundagian’ diambil dari kata dasar ‘undagi’ dari bahasa Bali untuk menggambarkan ‘manusia yang lebih modern’ karena  mempunyai keterampilan jenis usaha tertentu, misalnya membuat gerabah, perhiasan kayu, ataupun batu. 

Ciri-ciri manusia Indonesia yang berbudaya Logam (Perunggu) adalah  berkumpul di sebuat tempat tinggal atau ‘kampung’ secara menetap dengan jumlah penduduk yang meningkat karena orang yang mencapai usia tua meningkat;  memiliki keahlian kerja; mengenal sistem pembagian kerja; menghasilkan makanan dengan mengolah pertanian dan peternakan;  mampu membuat perahu, membuat benda dari tanah liat, batu, maupun logam;  mengenal kebiasaan tukar-menukar barang (berdagang); dan, mengenal kepercayaan dan sistem penguburan. 

Budaya Menenun dan Tenun Ikat dalam Sejarah Purba

Merujuk ke ciri-ciri manusia Zaman Perunggu sebagaimana disebutkan di atas, para ahli menduga kuat bahwa, sebagai tradisi tekstil tertua, Tenun Ikat sudah dikenal di manusia yang bermukim di kawasan Nusantara sekira 2000 tahun lalu atau antara 500 SM hingga 200 M.

Dalam skala dunia, para ahli meyakini,  ‘kebudayaan Tenun Ikat’  merupakan hasil evolusi sangat panjang dari ‘budaya atau karya seni menenun’  yang muncul secara naluriah sejalan dengan perkembangan evolusi spesies manusia.

 Tribeoftextiles.com menyebutkan bahwa sejarah menunjukkan kepada kita bahwa seni menenun telah dipraktikan manusia sejak puluhan ribu tahun silam.

Seni menenun muncul berbarengan dengan naluri manusia untuk memenuhi kebutuhan  hidupsehari-hari.  Karya seni ini awalnya berupa  kegiatan merangkai bahan-bahan alam seperti ranting dan daun untuk membentuk objek yang stabil seperti tempat berlindung atau keranjang. Secara perlahan karya seni ini berkembang menjadi kegiatan merangkai batang tumbuh-tumbuhan sejenis ilalang, serat-serat kulit pohon kayu, atau dedauan seperti  gebang, pandan dan lainnya. 

Pada yang lebih kemudian,  manusia purba menemukan cara membuat  tali atau ‘benang kasar’ dengan cara menyiapkan berkas tipis dari serat tumbuhan yang diregangkan. Lalu, tali atau benang kasar itu  itu dijalin sehingga membentuk selembar ‘kain’. Lama kelamaan kegiatan tersebut berkembang menjadi ketrampilan menenun lembaran kain untuk dijadikan bahan atau kain penutup tubuh. 

Eksperimen awal manusia dengan tali atau ‘benang kasar’ itu akhirnya menghasilkan tekstil tenun jari pertama. 

Kegiatan menenun dengan jari tangan atau menjalin  benang dan mengikatnya dengan  tali   masih dipraktikkan oleh banyak penenun hingga saat ini.

Para sejarawan juga mengatakan ada beberapa indikasi bahwa kegiatan menenun sudah dikenal  manusia sejak Zaman Paleolitik, sekitar 50.000 tahun yang lalu. 

Garis waktu sejarah kuno tenun (Sumber:www.tribeoftextiles.com)

Para arkeolog yang bekerja di situs Neanderthal di Abri du Maras di Prancis menemukan potongan kabel berusia 46.000 tahun — bukti langsung tertua dari teknologi serat. 

Temuan unik serat rami liar dari serangkaian lapisan Paleolitik Atas di Gua Dzudzuana, Georgia, menunjukkan bahwa pemburu-pengumpul prasejarah membuat tali untuk mengangkut perkakas batu, keranjang tenun, atau menjahit pakaian. 

Kesan tekstil yang tidak jelas juga ditemukan di dekat situs Pavlov & Dolní Věstonice di Republik Ceko. 

Menurut temuan tersebut, para penenun Paleolitik Muda membuat berbagai jenis tali pengikat, memproduksi keranjang anyaman dan kain tenunan rumit & tenunan polos. Artefak termasuk cetakan di tanah liat dan sisa-sisa kain yang terbakar.

Patung keramik seorang wanita di alat tenun backstrap - Jaina - Campeche - 700-900 SM - Instituto Nacional de Anthropologie e Historia (Sumber:www.tribeoftextiles.com).

Di Benua Amerika

Bukti kehadiran budaya menenun purba juga ditemukan di di Gua Guitarrero, Peru, Amerika Selatan. Di sana , para arkeolog menemukan bukti keberadaaan tekstil purba berupa  sisa-sisa dari enam tekstil tenunan halus dan tali pengikat. 

Tenunan yang terbuat dari serat tanaman ini diyakini berasal dari tahun 10.100 dan 9.080 SM. 

 

Kesibukan manusia pada zaman Neoliikum (sumber:idkuu.com)

Bukti lain dari adanya produksi tekstil Neolitikum  adalah sepotong kain yang ditenun dari rami, di situs Çatalhöyük di Anatolia Selatan diperkirakan berasal dari sekitar 7000 SM. 

Tenunan tua lainnya ditemukan di Amerika Utara, tepatnya  di Situs Arkeologi Windover di Florida. Tenunan tersebut diyakini  berasal dari 4900 hingga 6500 SM, dan terbuat dari serat tanaman. 

Para pemburu-pengumpul Windover menghasilkan tekstil tenunan polos dan tenunan yang "dibuat dengan halus".

Fragmen lain dari era Neolitikum ditemukan di Fayum, di sebuah situs yang bertanggal sekitar 5000 SM. Rami adalah serat utama di Mesir (3600 SM) dan terus populer di Lembah Nil. 

Penemuan lebih lanjut berasal dari peradaban Neolitikum yang diawetkan di tumpukan tempat tinggal di Swiss. Tenun sutera dari kepompong ulat sutera telah dikenal di Cina sejak sekitar 3500 SM. 

Sutra yang ditenun dan diwarnai dengan rumit, menunjukkan kerajinan yang dikembangkan dengan baik, telah ditemukan di sebuah makam Tiongkok yang berasal dari tahun 2700 SM. Wol menjadi serat utama yang digunakan dalam budaya lain sekitar tahun 2000 SM.

Beberapa temuan sebagaimana disebut di atas memperkuat keyakinan bahwa selama Era Neolitikum (10.000 -2.200 SM) umat manusia telah mengembangkan banyak keterampilan hebat, termasuk ketrampilan  menenun kain. Pada masa itu, diduga setiap rumah tangga memproduksi kain untuk kebutuhannya masing-masing. 

Budaya Tenun Ikat Masuk ke Kepulauan Nusantara

Budaya atau tradisi  Tenun Ikat adalah buah evolusi dari kebudayaan menenun dari zaman Neolitikum. Sejarah Tenun Ikat memang menarik.  Pasalnya, Tenun Ikat mencermina keinginan bawaan umat manusia untuk memperindah kain dengan desain dan warna. 

Evolusinya selama berabad-abad sama menariknya karena menceritakan kisah kreativitas manusia, berbagi dan transmisi teknik yang diperoleh melalui perdagangan dan kontak antarbangsa dan tradisi budaya.

Mengingat penyebarannya yang luas, tidak mudah untuk membidik waktu dan tempat yang tepat asal Tenun Ikat.

Namun, banyak sejarawan berpendapat bahwa  contoh Tenun Ikat India gaya Odia tertua telah ditemukan di makam Firaun di Mesir, berusia 5.000 tahun yang lalu. Dengan demikian, para sejarawan menduga kuat bahwa budaya Tenun Ikat lahir paling awal di bumi India.

Para sejarawan juga meyakini bahwa budaya Tenun Ikat menyebar dari India ke wilayah Nusantara bersamaan dengan terjadinyamigrasi ras penutur Austroasiatik gelombang satu dan dua yaitu pada periode 6000 hingga 3000 tahun silam. 

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa pada era sekitar 2000 tahun yang lalu, penduduk di wilayah Nusantara (termasuk di Flores) sudah memiliki  budaya Tenun  Ikat. 

Untuk mendukung hal tersebut, sejarawan menunjuk adanya tenun ikat dengan ragam hias budaya Dongson seperti motif geometris, pepohonan, flora, fauna bahkan manusia yang memberi pengaruh pada sejumlah motif kain tenun Ikat di sejumlah daerah di Indonesia. 

Pengaruh seni tenun dari budaya  Dongson dengan desain asimetris berupa hewan atau manusia, tampa nyata pada Tenun Ikat Dayak, Tenuun  Ikat Toraja, Tenun Ikat Batak (Ulos), dan sejumlah Kain Tenun Ikat di Flores, Sumba dan Timor. (MAP/dari berbagai sumber).(Bersambung) ***

Editor: redaksi

RELATED NEWS