MENJADI SAKSI KRISTUS, SANG TERANG, YANG TELAH DATANG

redaksi - Sabtu, 03 Januari 2026 15:26
 MENJADI SAKSI KRISTUS, SANG TERANG, YANG TELAH DATANGPater Gregor Nule SVD (sumber: Dokpri)

      Oleh: Pater Gregor Nule, SVD             

     (HR. Penampakan Tuhan A:Yes 60:1-6, Ef 3:2-3a.5-6; Mat 2:1-12)

Ilustrasi 

Dalam suatu rapat umum kaum muda di Inggris yang dihadiri oleh sejumlah utusan orang muda dari pelbagai belahan dunia. Mereka diskusikan tentang bagaimana Injil Yesus Kristus dapat diwartakan. 

Ada peserta yang bicara tentang propaganda lewat media cetak dan elektronik, lewat brosur, siaran radio, TV, lewat WA group, youtbe, FB atau lewat video-video. 

Kemudian seorang gadis, utusan Afrika Tengah, berbicara, katanya, “Jika kami di Afrika ingin  mewartakan Amanat Kristus ke suatu desa, kami tidak mengirim kepada mereka pengkotbah yang hebat atau buku-buku, atau selebaran atau brosur-brosur. 

Kami memilih keluarga-keluarga kristen yang baik dan setia beriman untuk pergi dan tinggal bersama mereka. Teladan hidup keluarga-keluarga itu yang didasarkan pada nilai-nilai Injil niscaya akan mempengaruhi dan mengubah desa itu. 

Hidup orang-orang di desa itu bisa berubah jadi baik dan benar: kebencian dan perang antar-suku mulai hilang, poligami dan perselingkuhan  berkurang, orang yang suka menipu, mencuri, mabuk-mabukan dan membunuh mulai bertobat. 

Semua ini menjadi buah dari teladan hidup keluarga-keluarga kristen yang setia menjalankan iman mereka dalam hidup sehari-hari. Ada sebuah pepatah tua mengatakan, “perkataan membangun, tetapi teladan menggerakkan. 

Refleksi 

Hari ini Gereja merayakan pesta Epifani atau Penampakan Tuhan. Ketiga orang Majus atau Raja dari Timur melambangkan semua bangsa manusia yang merindukan dan mencari sang Raja yang telah lahir. 

Sedangkan, kehadiran bintang, penujuk arah jalan ke tempat sang Raja  melambangkan identitas Raja yang telah lahir itu yakni Raja Terang. 

Sang Raja Terang yang telah lahir punya daya membebaskan orang-orang Israel dan seluruh bangsa manusia dari kegelapan dosa dan maut. Ketiga raja dari Timur dipanggil oleh sang Raja Terang supaya hidup dalam terangNya dan sekaligus menjadi saksi Terang kepada orang lain.

Nabi Yesaya bernubuat tentang kedatangan terang yang mengundang Yerusalem untuk menjadi saksi terang bagi bangsa lain. Yesaya berkata, “Bangkitlah, dan menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan Tuhan terbit atasmu”, (Yes 60:1). 

Terang inilah yang dinanti-nantikan oleh bangsa Israel. Melalui terang inilah bangsa Israel tidak akan lagi tinggal di dalam kuasa kegelapan dan maut.  Dan Yerusalem atau bangsa Israel diundang untuk menjadi terang dan sekaligus saksi terang bagi bangsa-bangsa lain. 

Injil hari ini juga berbicara tentang terang atau cahaya bintang yang bersinar di langit, namun tidak terlihat oleh semua orang lain, kecuali para Majus dari Timur. 

Mengapa demikian? Mengapa Herodes dan orang-orang Yerusalem lainnya tidak sanggup melihat cahaya bintang di langit? Alasannya adalah karena mata mereka telah dibutakan oleh pelbagai kepentingan dan ambisi untuk berkuas. 

Sebaliknya, hanya para Majus yang memiliki mata yang bening, yakni keikhlasan hati untuk mencari, menemukan dan memberikan hadiah yang paling berharga kepada Yesus, sang Raja Israel yang telah lahir. 

Itulah sebabnya ketika menemukan sang Bayi bersama ibuNya, hati mereka dipenuhi sukacita lalu menyembahNya. Mereka menyerahkan seluruh hidup dan milik kepunyaan kepada Yesus. Bagi para Majus dari Timur, Yesus kini bukan sekedar seorang Raja Israel, melainkan terutama, Anak Allah, yang patut disembah dan dimuliakan. 

Dan perjumpaan dengan Yesus  telah mengubah hati, cara pikir dan arah hidup ketiga Majus itu. Karena itu, “mereka kembali ke negeri masing-masing melalui jalan lain”, (bdk. Mt 2:12). Mereka telah menjadi manusia baru karena telah berjumpa dengan Yesus. 

Apa pesan pesta Penampakan Tuhan hari ini untuk kita? Sebagai orang beriman, hidup kita merupakan sebuah perjalanan menuju perjumpaan dan persatuan dengan Tuhan. 

Sebagaimana para Majus, kita pun ingin bertemu dengan sang Raja yang baru lahir, tetapi bukan di Betlehem, melainkan di dalam hidup dan karya kita sehari-hari. 

Mungkin terkadang kita tidak sanggup menemukan Yesus, sang Terang, lantaran kesibukan dan kebisingan hidup, atau karena kita tidak memiliki hati yang tulus. Kita bersikap dan bertindak seperti Herodes dan para pemuka agama Yahudi yang bicara suci dan bermulut manis, tapi berhati busuk. 

Maka kita perlu belajar dari para Majus yang dengan penuh iman dan ketulusan hati mencari Yesus sehingga pada waktunya kita boleh menjumpaiNya, bersimpuh di hadapanNya dan mempersembahkan diri kepadaNya sebagai lambang cinta kita yang ikhlas. 

Selain itu, pesta penampakan Tuhan menuntut kita menjadi misionaris  di tengah dunia ini atau menjadi saksi Terang kepada orang lain. Bagaimana kita bisa wujudkan misi kita sebagai saksi terang? 

Setiap orang kristen dipanggil untuk menjadi saksi terang, artinya menjadi Kitab Injil yang hidup, berjalan dan bertindak. Mungkin kita tidak pernah berbicara atau berkotbah sambil mengutip salah satu ayat Kitab Suci. 

Tetapi, teladan terpuji orang kristen akan menjadi satu-satunya Injil atau Khabar Sukacita yang akan dibaca, dimengerti dan dimaknai siapa saja termasuk mereka yang buta huruf sekalipun. 

Ini berarti kita menjadi misionaris yang diutus bukan untuk omong atau berkotbah tentang Injil dan iman kita, melainkan terutama kita hidup, bersikap dan bertindak sesuai dengan nilai-nilai Injil yaitu cinta kasih, persaudaraan, pengampunan, solidaritas, kerukunan dan damai sejahtera. 

Semoga kita mampu menjadi terang bagi orang lain yang mencari Yesus, sang Terang Dunia, dengan tulus dan penuh iman!  Amen.***

RELATED NEWS