MUKJIZAT PENTAKOSTA

Redaksi - Sabtu, 23 Mei 2026 16:41
  MUKJIZAT PENTAKOSTAMukjizat Pentakosta (sumber: Katolikku.com)
HOMILI; (Minggu Pentakosta A: Kis 2:1-11; 1Kor 12:3b.-7.12-13; Yoh 20: 19-23)

Oleh Pater Gregor Nule, SVD

Kisah pentakosta yang kita dengarkan hari ini perlu mendapat perhatian khusus sehingga bisa membantu kita untuk memahami arti dan pesannya dalam kehidupan umat kristen. 

Asal usul pesta pentakosta di kalangan bangsa Israel berasal dari pesta syukur  atas hasil panen. 

Selanjutnya pesta rakyat ini berubah makna  dan menjadi pesta syukur atas penyelenggaraan Allah bagi bangsa Israel. Pentakosta lalu dihubungkan dengan peristiwa Sinai, khsususnya pemakluman dan pemeberian  kesepuluh perintah Allah kepada bangsa pilihan melalui Musa. 

Di zaman Raja-raja pesta ini juga merupakan peringatan pembaharuan perjanjian antara bangsa Israel dengan Allah.   

Karena itu, bagi St. Lukas pembaruan janji dan penyatuan kembali jemaat Perjanjian Baru  dihubungkan dengan peristiwa Pentakosta, di mana  setelah Yesus  naik ke surga Ia mengutus Roh-Nya, sebagai awal berlakunya  hukum baru, yakni hukum kasih  bagi seluruh umat manusia.

Kisah para Rasul menceritakan secara dramatis peristiwa turunnyaRoh Kudus. Tiba-tiba turunlah bunyi dari langit seperti tiupan angin keras memenuhi rumah di mana para murid berkumpul untuk berdoa. Muncul pula lidah-lidah api bertebaran dan hinggap di atas para Rasul. 

Saat itulah mereka dipenuhi oleh Roh Kudus sehingga mereka mulai berani keluar dari persembunyian dan mulai berbicara kepada semua orang tentang Yesus dari Nazaret yang telah mati di salib, tetapi kini bangkit dan hidup, tanpa gentar atau takut sedikit pun. 

Anugerah  Roh Kudus yang sama juga menyanggupkan semua orang dari segala suku, bangsa dan bahasa untuk memahami pewartaan para Rasul. Mereka menerima pewartaan mereka dan percaya kepada Yesus.

Inilah mukjizat Pentekosta. Inilah kuasa Rohkudus yang membuat para rasul, orang-orang sederhana dan tak berpendidikan tinggi dari Galilea dan yang takut mengalami nasib yang sama seperti Yesus, tampil begitu meyakinkan untuk  berbicara dan mewartakan  Yesus yang telah mati,namun bangkit dan hidup.. 

Bukan hanya itu. Mereka juga dikobarkan oleh Roh Kudus untuk pergi memberitakan Kabar Sukacita kepada semua orang sampai ke ujung bumi. 

Yesus bersabda, “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu”. Dan sesudah berkata demikian, Ia menghembusi mereka dan berkata, “Terimalah Roh Kudus”,(Yoh 20:21-22). 

Bagi kita mukjizat Pentakosta dan karya Roh Kudus masih tetap nyata saat ini bahkan sampai akhir zaman. Roh Kudus tetap melanjutkan karya keselamatan Allah di tengah dunia ini melalui hidup dan karya seluruh anggota Gereja dan kita sekalian. 

Melalui  kuasa Roh Kudus, Allah menetapkan seluruh umatNya menjadi tanda kehadiranNya yang menghibur, meneguhkan dan menyelamatkan.

Tugas dan kepercayaan ini hanya dapat  dilaksanakan jika setiap orang beriman senantiasa membiarkan diri dipenuhi, dijiwai dan dirasuki oleh kuasa Roh Kudus.

 Sebab sebagaimana para Rasul dan umat Gereja perdana dahulu, Gereja zaman ini pun tentu  mengalami dan menghadapi aneka tantangan, kesulitan dan hambatan dalam melaksanakan tugas perutusan Yesus. 

Mungkin dewasa ini Gereja tidak mengalami penganiayaan dan pembunuhan ketika mewartakan Injil Yesus atau melaksanakan tugas perutusan, khususnya di wilayah sekitar kita ini. 

Tetapi tidak kurang pula sikap, perilaku dan kata-kata tertentu dari orang-orang dekat atau umat sendiri atau orang beragama lain yang mengganggu atau menyurutkan semangat untuk menjadi saksi Yesus di tengah dunia dan lingkungan hidup sehari-hari. 

Akhir-akhir ini juga cukup banyak  umat Katolik yang menunjukkan sikap masa bodoh dan ketidakperdulian terhadap ajaran Yesus dan perintah-perintah Allah. 

Ada  banyak umat Katolik yang tidak merayakan hari Minggu sebagai Hari Tuhan. Hari minggu menjadi hari libur keluarga atau hari kerja seperti hari-hari lain. 

 Ada pula yang hanya bersemangat iman “napas”, alias Natal dan Paskah. Yang lain baru ingat Tuhan dan berpaling kepada-Nya apabila mengalami tantangan dan kesulitan besar, seperti sakit, malapetaka dan kematian.

Mungkin kita juga hidup di tengah dunia yang terpecah-pecah dan dikotak-dikotakkan oleh pelbagai alasan:  politis, ekonomis, religius dan kepentingan-kepentingan lainnya.

Tetapi, kita percaya bahwa kuasa Allah dan daya Rohkudus yang membarui dan menghidupkan tetap nyata selamanya. Allah rela terlibat dan mengintervensi dalam hidup dan karya manusia dengan memberikan Roh Kudus untuk menolong, menghibur, memberi terang dan menguatkan. 

Karena itu, dalam semangat Pentakosta ini hendaknya kita sadar bahwa kitapun dipanggil untuk mengemban tugas perutusan Yesus. 

Maka kita hendaknya nyatakan dan tunjukkan kepada siapa saja yang dijumpai iman yang mantap, teguh dan hidup, bahwa di tengah ancaman perpecahan sebagai akibat perbedaan suku, bangsa, bahasa, agama dan partai politik,serta di tengah ketidakpedulian dan sikap masa bodoh dari umat Katolik, Allah tidak pernah berhenti berkarya untuk membebaskan dan menyelamatkan kita, umatNya. 

Kita mesti percaya bahwa Roh Kudus akan selalu menyertai dan menjiwai kita dengan karunia-karuniaNya. 

Persoalan hidup dan ancaman bahaya apa pun tidak boleh membuat kita panik dan mengerdilkan iman, sebaliknya api Roh Kudus akan senantiasa membakar semangat kita untuk berani memberi kesaksian kepada dunia bahwa Tuhan kita hidup dan meraja sampai akhir zaman. 

Mari kita ingat pesan Yesus saat perpisahan dengan para muridNya, yang sungguh meneguhkan hati kita. “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. 

Damai sejahteraKu, Kuberikan kepadamu.  Jangan gelisah dan gentar hatimu.,…(Yoh 15:27-28). Aku menyertai kamu sampai akhir zaman. Amen.

Kewapante, 24 Mei 2026. ***

RELATED NEWS