Name Dropping: Ada Bagusnya Dicegah atau…? (sekadar satu senggolan saja)

redaksi - Rabu, 31 Januari 2024 06:31
Name Dropping: Ada Bagusnya Dicegah atau…?  (sekadar satu senggolan saja)Kons Beo SVD (sumber: Dokpri)

 

“Beberapa orang menyukaimu, beberapa orang tidak. Pada akhirnya kamu hanya harus menjadi dirimu sendiri”

(Andres Iniesta – pesepak bola Spanyol)

P. Kons Beo, SVD

Ada yang khas di setiap kesempatan bicara. Ini hanya merujuk pada sebatas gaya bicara yang terkesan ‘omong besar, omong tinggi, omong hebat.’ Soal bobot atau isinya? Ya sabar dululah. Ada pola dan kecenderungan bicara yang terkonek dengan ‘hal-hal istimewa, luar biasa, atau elitis.’ Singkatnya, dengan yang bukan level ‘debu pinggiran jalan.’ Artinya?

Di lintasan gaya bicara seperti ini isi cakap-cakap dikaitkan dengan pribadi istimewa dan terkenal. Atau juga bahwa hal itu dihubungkan dengan institusi atau lembaga tertentu ‘yang punya nama.’ Dari hal-hal yang praktis harian, hingga suasana yang sedikit ‘berat’ bisa tertangkap adanya  gaya bicara ‘bawa-bawa nama.’

Teringat lagi di tahun 1980-an saat masih di  Seminari  Todabelu - Mataloko. Kisahnya sederhana saja. Biar secara fisik tak meyakinkan tapi masih punya sedikit rasa PD (Percaya Diri). Sebab saya tetap terhitung ‘anak Ende, anak kota dan malah anak polisi lagi.’ Maksudnya?’

Konek-konek dengan ‘Ende, Kota, Polisi’ seperti ini memang ada maksud. Agar teman-teman sekelas saya yang berasal dari ‘kampung’ (bukan dari kota, bukan anak tangsi), seperti dari Malasera, Bengga, Pusu atau Mabhapisa, misalnya, sedikitnya agak segan dan kena mental begitu. Ada-ada saja.....  Ini kayanya seperti orang yang berasal atau tinggal di ‘muka gunung’ tidak reken memang orang-orang yang datang dari belakang gunung apalagi yang datang dari pulau-pulau seberang sana.

Pakai ‘nama orang  atau pakai nama institusi dan segala hal yang lain memang sering terjadi. Dan bahkan hal itu sudah jadi kebiasaan atau kelekatan. Dalam zona psikologi (sosial) itu yang disebut dengan istilah “name dropping.” 

“Name dropping” itu lurus diterjemahkan sebagai  ‘turunkan nama.’ Dalam kamus proken ditangkap maknanya sebagai modus ‘pakai nama, catut nama, atau jual nama, atau juga bawa-bawa nama orang terkenal atau lembaga elit’ agar terkesan mentereng dan luar biasa.  

Sudahlah, bila seseorang sekian kecanduan agar ia  dihubung-hubungkan dengan ‘artis ini atau pejabat sipil itu, dengan nama jendral TNI ini dan itu, atau bahkan dengan lembaga agama atau pemimpin agama yang punya nama. Tentu ini ada maksud di baliknya, baik yang disadari maupun tak disadari (lagi) karena telah terbenam dalam ‘alam bawah sadar’ namun nyata.

Namun, disinyalir, kecanduan dalam Name Dropping atau dompleng nama itu bisa berakibat buruk bagi integritas diri dan tenunan karakter. “Catut atau pakai nama” terus-menerus adalah tanda bahwa seseorang lagi insecure dengan dirinya sendiri. Individu lagi kurang PD. Dan karenanya ia merasa  amat butuh untuk ‘diangkat-angkat dengan memakai nama orang besar. Orang yang haus pujian dan gila hormat pasti konsumtif dalam Name Dropping.

Katanya, ada lagi dampak sikap berbohong secara terus-menerus. Walau sebenarnya tak terlalu mengenal seorang pejabat atau petinggi (sipil, militer, agama) seseorang bisa bertindak sebagai atau seolah-olah ‘kenal baik dan kenal dekat’ dengan pejabat itu. Akibatnya? Pembohongan publik di media sosial, misalnya, mudah terjadi dan bahkan digencarkan.

Di kisah nyata pun, sekian banyak orang dapat gunakan ‘nama-nama orang dalam dan kuat’. Ini maksudnya agar segera dilancarkan segala urusannya atau segera difasilitasi. Tak boleh dipersulit! Dan terlebih, walau individu itu salah atau eror, ia tak boleh diapa-apakan atau disentuh. Sebab, ia ‘ia ada hubungan dengan dalam yang punya pengaruh atau titipan ataupun titisan dari orang kuat dan punya kuasa.

Katanya juga, yang gemar mainkan Name Dropping itu umumnya telah sekian trampil untuk satu dramatisasi alur cerita atau kisah. Bahasa pasarnya begini: efek ‘name dropping’ menjebak dan mengakali pendengar dengan ‘tambah-tambah bumbu’  agar alur kisahnya semakin memikat demi  keuntungan pribadi. Ambil saja satu kisah nyata: 

Biar tak pernah sekolah di Israel, dan benar-benar sebatas  hanya ‘kuasai satu dua kata bahasa Ibrani yang tak jelas-jelas juga’ tapi berlagak seolah-olah ‘tahu banyak dan kuasai mutlak isi Alkitab.’ Yang menyedihkan lagi bahwa publik  sekian mudah digiring ke sana ke mari dalam penjelasan buta, tapi dikibuli sebagai valid, sah, dan resmi. Ini hebatnya orang ‘sekelas Ustad Kaimana.’

Dan lagi, bahwa terdapat apa yang disebut sebagai  ‘kepribadian hyper narsistik.’ Terdapat individu yang cenderung berat untuk tempatkan atau tampilkan diri sendiri sebagai protagonista atau center of attention. 

Inilah type orang yang overweight (kelebihan beban) untuk sungguh mau jadi pusat cerita. Yang selalu tempatkan diri sendiri sebagai nominativus, yang selalu disandingkan dengan para pejabat, pembesar atau petinggi pun orang-orang terkenal yang disisip-sisip sebagai ablativus (pelengkap penyerta). 

Mari kita bergeser ke alur politik…

 Apakah terdapat arus ‘Name dropping’ juga kah di zona politik? Itu misalnya Gibran Rakabuming Raka, yang begitu mulusnya untuk lolos jadi Cawapres. Apakah di baliknya ada faktor X ‘kejatuhan nama’ (Name Dropping) Jokowi, ayahnya, yang kebetulan saja lagi menjabat di posisi RI 01? Dan bahwa sang Paman Usman kebetulan juga lagi  bertakhta di kursi empuk sebagai Ketua MK, lalu dengan demikian aturan mudah didaur-daur ulang? Entahlah!

Atau katakan juga seperti Pak Prabowo, yang disinyalir kurang prima dalam tampilaan publik, jika tak memakai nama Jokowi. Opini publik pada yakin bahwa nama besar, popularitas serta jabatan Jokowi sebagai Presiden yang selalu ‘diekori’ Prabowo demi mendulang simpati (suara) publik, dengan imperasi kata kunci lanjutkan! Mungkinkah Prabowo lagi di posisi insecure sehingga nama Jokowi terus dibawa-bawa?

Ataukah justru Jokowi sendiri sebenarnya yang lagi tak nyaman dengan posisi dan situasinya di akhir masa jabatannya? Dan akhirnya Jokowi ‘harus’ berlindung di dalam pusaran ‘name dropping’ popularitas ‘Jokowi,’ namanya sendiri,  yang terpaksa dititipkannya pada Prabowo dan Gibran demi kepentingannya?

Itulah sudah. Demi tenar, demi kepentingan, demi kekuasaan, segala cara bisa saja dihalalkan dan ‘diamini.’ Bagaimana pun gejolak dan geliat ‘name dropping’ mesti dicegah atau disingkirkan jauh-jauh jika memang terindikasi teramat narcistik, berpusat pada diri serta hanya demi kepentingan sendiri.

Kata-kata Marc Newson, seorang designer Australia  ingatkan, “Jika kamu bisa menjadi diri sendiri maka kamu harus orisinal, karena tidak ada yang sepertimu.” Maka, tak usalah selalu berlindung di bawah bayang-bayang kebesaran siapapun dan apapun…

Verbo Dei Amorem Spiranti

 

 

  

 

 

 

Editor: redaksi

RELATED NEWS