Data BPS Per Juli 2026 Pariwisata RI Meroket, Benarkah Rakyat Kecil Kecipratan?

Redaksi - Kamis, 03 September 2026 22:10
Data BPS Per Juli 2026 Pariwisata RI Meroket, Benarkah Rakyat Kecil Kecipratan?Wisatawan memadai Pantai Labuan Bajo, sebelum bencana gempa Flores (sumber: Instagram)

JAKARTA (Floresku.com) — Sektor pariwisata nasional diklaim makin tancap gas. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) tembus 8.978.626 secara kumulatif sepanjang Januari hingga Juli 2026. 

Namun, di balik selebrasi angka-angka fantastis ini, publik patut mempertanyakan sejauh mana dampak riilnya terhadap ekonomi warga di daerah destinasi.

Baca juga:

Tren wisman sempat tertatih di awal tahun—dimulai dari 1,18 juta pada Januari, anjlok ke 1,15 juta di Februari, hingga menyentuh titik terendah 1,08 juta pada Maret. Grafik baru berbalik mendaki sejak April hingga melesat ke puncaknya di bulan Juli dengan 1,52 juta kunjungan.

Pergerakan Domestik Fantastis, Siapa yang Untung?

Di sisi lain, wisatawan nusantara (wisnus) digadang-gadang jadi motor penggerak utama. BPS merekam angka perjalanan domestik yang fantastis: 737,85 juta perjalanan dalam tujuh bulan.

Februari: Sempat melandai di angka 81,15 juta perjalanan.

Maret: Melonjak drastis hingga 126,33 juta perjalanan, ditopang momentum libur keagamaan.

Juli: Bergerak stabil di angka 107,43 juta perjalanan.

Catatan Kritis: Jangan Cuma Manis di Atas Kertas

Kepada Floresku.com, pemerhati pariwisata, Adrian Rusmin mengatakan, mobilisasi warga lokal memang menggerakkan putaran uang daerah, seperti di Kabupaten Manggara Barat. 

Capaian ini seolah mengonfirmasi bahwa pariwisata nasional tak cuma memikat pasar asing, tapi juga disokong kuat oleh daya beli masyarakat domestik.

Namun, katanya lagi, pemerintah dan pelaku industri tak boleh cepat puas dengan sekadar menumpuk angka statistik. 

Tanpa pemerataan infrastruktur, keterjangkauan harga tiket, dan transparansi aliran dana ke komunitas lokal—khususnya di pelosok daerah seperti Nusa Tenggara Timur dan Indonesia Timur lainnya—lonjakan jutaan kunjungan ini berisiko hanya menjadi angka manis di atas kertas yang gagal menyejahterakan rakyat di akar rumput. (Leoni). ***

Editor: Redaksi

RELATED NEWS