Pemerintah Narasikan Lokasi KTT ASEAN sebagai 'Tana Mori', Tokoh Masyarakat Golo Mori Protes Keras

redaksi - Rabu, 01 Februari 2023 14:06
Pemerintah Narasikan Lokasi KTT ASEAN  sebagai  'Tana Mori', Tokoh Masyarakat Golo Mori Protes KerasSarana dan Prasarana Meeting, Incentive, Convention and Exhibition (MICE) di Golo Mori, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT). (sumber: (Doc. PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (Persero) atau Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC)))

LABUAN BAJO (Floresku.com) -  Narasi pemerintah pusat tentang Tana Mori sebagai tempat pelaksanaan KTT ASEAN (Asean Summit) pada Mei 2023 diprotes warga masyarakat adat Golo Mori, Labuan Bajo,  Kabupaten Manggarai Barat. Pasalnya, nama asli desa tersebut adalah Golo Mori.

Seperti diketahui,  Golo Mori adalah nama sebuah desa yang terdapat di Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, provinsi Nusa Tenggara Timur. Desa ini memiliki luas wilayah 14.243 km² dengan jumlah penduduk tahun 2019 sebanyak 2.034 jiwa. 

 Desa Golo Mori adalah Kawasan Ekonomi Khusus (KEE) di Labuan Bajo. Di desa ini, pemerintah sedang membangun sejumlah sarana dan prasarana yang akan digunakan sebagai tempat pelaksanaan KTT ASEAN (Asean Summit) yang akan pada Mei 2023 mendatang. 

 Protes warga masyarakat adat

Tokoh masyarakat Golo Mori, Hasanuddin memprotes dan mengecam keras  pemerintah karena mengubah    nama Golo Mori menjadi Tana Mori.

"Sebagai putra asli Golo Mori tentu saya menolak perubahan nama Golo Mori menjadi Tana Mori. Mengubah Nama Golo Mori menjadi Tana Mori adalah pengkhianatan," tegas Hasanuddin di Labuan Bajo, Selasa, 31 Januari 2023 sebagaimana ditulis DetikBali.com.

Hasanuddin  menerangkan, nama Golo Mori adalah nama asli yang diberikan masyarakat adat lokal terhadap kawasan itu.

"Saya mengutuk bahkan menolak perubahan nama itu. Ini sama dengan pengkhianatan terhadap budaya dan nenek moyang kami terdahulu," ujar Hassanudin.

Menurut dia, perubahan nama Golo Mori menjadi Tana Mori tanpa melalui persetujuan masyarakat adat setempat.

"Oknum yang mengubah nama Golo Mori menjadi Tana Mori belum pernah meminta restu kepada kami. Saya hanya khawatir, nenek moyang kami  yang sudah berpulang, marah kepada oknum elit tersebut dan itu bisa berdampak pada kejadian yang tidak kita inginkan," ujarnya.

"Jujur, saya tidak alergi dengan kemajuan, tetapi paling tidak setiap agen pembangunan harus mematuhi dan menaati adat istiadat masyarakat adat setempat. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Itu hukum adatnya. Jangan sepelekan ini," pungkas Hasanuddin.

Sementara itu Kepala Desa Golo Mori, Samaila mengatakan, pemerintah desa dan masyarakat di sana menolak perubahan nama dari Golo Mori menjadi Tana Mori. Sebelumnya tak ada pembicaraan terkait dengan perubahan nama itu.

"Terkait nama Golo Mori itu tetap. Saya sebagai kepala desa maupun warga umumnya tidak pernah mengubah nama itu. Belakangan muncul nama Tana Mori kami tidak tau asal muasalnya," kata Samaila.

Ia mengaku pernah menyampaikan persoalan perubahan nama itu kepada sejumlah pejabat negara yang mengunjungi Golo Mori belakangan ini.

"Kami pernah sampaikan kepada orang yang berkunjung ke Golo Mori terutama dari pusat bahwa Golo Mori, bukan Tanamori," tegas dia.

Bupati Manggarai Barat Edistasius Endi mengatakan, perubahan nama menjadi Tana Mori itu bukan inisiasi atau keputusan pemeritah pusat atau ITDC yang mengelola kawasan itu. Nama Tana Mori, ungkap dia, mulanya adalah brand yang digunakan oleh pengembang (developer) di Golo Mori, sebelum diserahkan kepada ITDC.

"Mereka tidak tahu (sejarah nama itu). Jadi sekali lagi itu bukan inisiasi atau keputusan ITDC menamakan itu Tana Mori, maka itu kami usul kembali ke historinya yaitu Golo Mori," kata Bupati Edi Endi.

Bupati Edi Endi mengaku sudah menyampaikan ke pemerintah pusat untuk mengembalikan nama desa menjadi Golo Mori.

"Kami memberikan masukan kepada pemerintah pusat supaya kembalikan ke histori awalnya menjadi Golo Mori, ini sedang didiskusikan. Mudah-mudahan dalam waktu tidak terlalu lama itu sudah kembali ke brand awal yaitu Golo Mori," ujar Edi Endi.

Ia melanjutkan, pemerintah desa bersama tokoh masyarakat di Desa Golo Mori juga sudah pernah menyampaikan soal ini ke ITDC termasuk kepada dirinya dan DPRD Kabupaten Manggarai Barat. Pemerintah pusat, kata dia, menyambut baik permintaan untuk mengembalikan nama kawasan itu menjadi Golo Mori.

"Jadi pemerintah pusat ini tidak keberatan. Mereka juga tidak mau gara-gara terkait dengan nama lalu situasi itu menjadi tidak kondusif. Mereka sangat senang masukan yang disampaikan baik oleh masyarakat maupun pemerintah daerah," katanya.

Hanya saja, menurut Edi Endi, mengembalikan ke nama Golo Mori belum bisa dilakukan dalam waktu dekat ini karena event Asean Summit sudah di depan mata.

"Hanya saja tidak semudah membalikkan telapak tangan, mungkin untuk jangka pendek karena event di depan mata itu belum terwujud tapi setelah itu pasti akan diubah, ini sebenarnya hanya proses administrasi saja," pungkas Edi Endi. (Silvia). ***

 

Editor: redaksi

RELATED NEWS