Pemuda WA Didakwa Rencanakan Aksi Teror

redaksi - Minggu, 01 Maret 2026 18:18
Pemuda WA Didakwa Rencanakan Aksi TerorJayson Joseph Michaels bekerja di sebuah perusahaan kerikil di Bindoon selama beberapa bulan. (sumber: Facebook/abc.net.au.)

BINDOON, AUSTRALIA (Floresku.com) – Seorang pria muda bernama Jayson Joseph Michaels (20) didakwa menyiapkan aksi teror “mass casualty” di Australia Barat.

 Ia menjadi orang pertama di negara bagian tersebut yang dijerat pasal persiapan tindakan terorisme oleh Kepolisian WA.

Menurut laporan ABC, Michaels sebelumnya merupakan siswa di St Stephen's School, sebuah sekolah Kristen di wilayah utara Perth. Ia keluar pada 2021 saat duduk di kelas 10 untuk melanjutkan pendidikan ke TAFE dengan mengambil bidang teknologi informasi.

Catatan properti menunjukkan keluarganya pernah tinggal di Tapping sebelum pindah ke Bindoon, kawasan Wheatbelt, sekitar 65 kilometer timur laut Perth. Di Bindoon, Michaels sempat bekerja selama beberapa bulan di perusahaan keluarga Bindoon Hill Gravel Supply sebagai buruh.

Pemilik usaha tersebut, Ian Hall, mengaku terkejut atas penangkapan mantan karyawannya. Ia menggambarkan Michaels sebagai sosok pendiam dan tertutup. “Dalam interaksi kami, tidak pernah ada tanda pandangan radikal,” ujarnya.

Baca juga:

Polisi menduga Michaels teradikalisasi secara daring dan menyimpan rencana serangan dalam sebuah buku catatan di rumah keluarganya di Bindoon. Dalam catatan tersebut, ia diduga merancang serangan terhadap Markas Besar Kepolisian WA di East Perth, Gedung Parlemen Australia Barat, serta sejumlah tempat ibadah Muslim di wilayah metropolitan Perth.

Komisaris Polisi WA Col Blanch menyatakan pihaknya telah memantau Michaels sejak Januari. Dalam penggerebekan pekan ini, polisi menyita tujuh senjata api, senjata api tiruan, rompi antipeluru, masker gas, peralatan pembobol kunci, serta koleksi pisau dalam jumlah besar.

Perdana Menteri WA Roger Cook menyebut dugaan motif pelaku terkait ideologi supremasi kulit putih. Ia menegaskan bahwa kebencian berbasis agama maupun ras tidak memiliki tempat dalam masyarakat Australia.

Sejumlah warga Bindoon mengaku terkejut atas kasus ini. Kawasan tersebut dikenal sebagai destinasi akhir pekan yang tenang dengan toko produk lokal dan toko roti populer, serta menjadi pilihan “tree change” bagi keluarga muda yang pindah dari kota.

Kasus ini masih dalam proses hukum. Polisi menegaskan tidak ada ancaman langsung terhadap publik saat ini, namun penyelidikan akan terus berlanjut untuk memastikan keamanan masyarakat. (Leoni- Sumber:www.abc.net.au ). 

RELATED NEWS