Perantau Nagekeo Ketuk Hati Bupati Simpli Terkait Sinyal Telpon yang Sulit

Redaksi - Selasa, 28 Juli 2026 09:35
Perantau Nagekeo Ketuk Hati Bupati Simpli Terkait Sinyal Telpon yang SulitIlustrasi: Para siswa di Nagekeo 'berburu' sinyal internet di bukit. Foto ini memperlihatkan bahwa sinyal internet dan telepon masih merupakan 'barang langka' bagian sebagian warga Nagekeo. (sumber: Istimewa)

MALAYSIA (Floresku.com) – Kerinduan seorang perantau kepada keluarga di kampung halaman melahirkan sebuah surat terbuka yang menyentuh sekaligus menyentil. Setelah 15 tahun bekerja di Malaysia, Aurelius Meze Tegewin, warga asal Desa Ulupulu Ndora, Kecamatan Nangaroro, Kabupaten Nagekeo, menyampaikan permohonan terbuka kepada Pemerintah Kabupaten Nagekeo agar serius mengatasi persoalan jaringan telekomunikasi di kampungnya.

Aurelius, yang akrab disapa Aurel, saat ini bekerja di RS Vin SDN BHD, sebuah perusahaan di Malaysia Barat yang bergerak di bidang transportasi dan logistik, khususnya operasional serta perawatan kendaraan berat.

Jarak ribuan kilometer yang memisahkannya dengan keluarga ternyata bukan hambatan terbesar. Yang lebih menyulitkan justru lemahnya sinyal telekomunikasi di kampung halaman.

"Kadang kalau mau berkomunikasi dengan keluarga, mereka harus memanfaatkan WiFi sekolah. Rumah hanya sekitar 500 meter dari SDI Malawona, tetapi kalau terlalu jauh dari titik WiFi, sambungan langsung terputus," tutur Aurel kepada Floresku.com.

Akibatnya, komunikasi sederhana pun menjadi penuh tantangan.

"Kalau saya kirim pesan jam delapan malam, balasannya bisa jam sepuluh atau sebelas malam, tergantung kapan mereka berhasil mendapat jaringan dari WiFi sekolah," katanya.

Bahkan, ketika ada keperluan yang mendesak, warga harus pergi ke Danga hanya untuk mendapatkan sinyal telepon yang memadai.

Sulit Menyampaikan Aspirasi

Keprihatinan itulah yang mendorong Aurel menulis surat terbuka kepada Bupati Nagekeo.

Ia mengaku sempat berusaha mencari kanal resmi Pemerintah Kabupaten Nagekeo melalui internet untuk menyampaikan aspirasinya.

"Awalnya saya cari website resmi Kabupaten Nagekeo di Google supaya bisa menyampaikan keluhan. Yang saya temukan justru aplikasi WBS Inspektorat. Sementara saya sendiri bahkan belum memiliki KTP elektronik, jadi bingung harus menyampaikan aspirasi lewat mana," ujarnya.

Karena itulah, ia memilih menulis surat terbuka yang kemudian dibagikan kepada publik.

"Sinyal Datang Seperti Tamu Undangan"

Dalam suratnya, Aurel menggambarkan kondisi jaringan telekomunikasi di Rendu Malawona dengan bahasa sederhana namun menggelitik.

"Di kampung tempat tinggal mertua saya, sinyal masih seperti tamu undangan, datang kalau lagi mau saja, habis itu menghilang tanpa pamit."

Ia juga menulis bahwa untuk melakukan panggilan telepon, keluarganya terkadang harus berjalan ke lokasi tertentu, seolah sedang mengikuti perlombaan mencari harta karun demi mendapatkan satu garis sinyal.

Menurut Aurel, kerinduan seorang perantau kepada keluarga juga membutuhkan jaringan telekomunikasi yang memadai.

"Sebagai menantu yang jauh dari keluarga, saya tentu ingin bisa menghubungi mertua kapan saja. Bukan karena mau mengawasi, tetapi karena rindu juga butuh jaringan, bukan cuma perasaan."

Sinyal Bukan Lagi Kemewahan

Dalam surat tersebut, Aurel berharap Pemerintah Kabupaten Nagekeo dapat bekerja sama dengan penyedia layanan telekomunikasi untuk meningkatkan kualitas jaringan di wilayah pedesaan.

Baginya, akses internet dan telekomunikasi kini telah menjadi kebutuhan dasar masyarakat.

"Di zaman sekarang, sinyal bukan lagi kemewahan, melainkan kebutuhan untuk pendidikan, pekerjaan, usaha, layanan kesehatan, dan komunikasi keluarga," tulisnya.

Ia menutup surat itu dengan kalimat yang menyentuh sekaligus menyindir kondisi yang masih dihadapi sebagian masyarakat pedesaan.

"Semoga suatu hari nanti yang naik ke atas bukit cukup sapi mencari rumput. Warganya tidak perlu lagi naik bukit hanya untuk mencari satu batang sinyal."

Surat terbuka Aurel menjadi potret bahwa di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, masih ada wilayah di Kabupaten Nagekeo yang menghadapi keterbatasan akses telekomunikasi. Bagi warga perantauan, persoalan sinyal bukan sekadar urusan teknologi, melainkan jembatan yang menghubungkan kerinduan dengan keluarga di kampung halaman. (Silvia). ***

Bagikan

RELATED NEWS