Pesan Inspiratif: Bahaya Pamer Kebajikan-Kebajikan Religius

Redaksi - Rabu, 17 Juni 2026 08:48
Pesan Inspiratif: Bahaya Pamer Kebajikan-Kebajikan ReligiusPater Gregor Nule SVD (sumber: Dokpri diedit AI)

Oleh Pater gregor Nule SVD

Motivasi menjadi penggerak, semangat, jiwa dan nantinya terwujud lewat pandangan, kata, sikap dan perbuatan tertentu. Itulah sebabnya dibutuhkan kesungguhan dan sikap kritis  ketika ingin melakukan sesuatu yang baik.

Dalam hidup sehari-hari kita jumpai banyak program, rencana dan kegiatan yang berasal dari orang - perorangan, lembaga swasta atau pemerintah dengan aneka ragam motivasi dan tujuan.

Mungkin ada yang tulus untuk kepentingan umum atau orang kecil. Tetapi, ada juga dengan niat tersembunyi untuk cari kepentingan pribadi atau kelompok.

Yesus memberikan awasan dengan berkata, "Hati-hatilah,  jangan sampai melakukan agamamu di depan orang, supaya dilihat. Sebab jika demikian, kalian tidak memperoleh upah dari Bapamu yang di surga", (Mat 6:1).

Tiga kebajikan utama menurut hukum Taurat adalah berdoa, memberi sedekah dan berpuasa. Doa, dan puasa merupakan ungkapan iman, cinta, kepasrahan dan syukur kepada Allah. Sedangkan, sedekah menjadi ungkapan kasih kepada sesama yang menderita.

Semua hal baik ini berkenan kepada Tuhan dan sesama ketika dilakukan dengan motivasi tulus. Pelaku merasa puas dan bahagia karena mampu melakukan sesuatu yang baik.

Sebaliknya, jika ada tujuan tersembunyi seperti pamer-pamer, mencari popularitas, dan supaya dilihat orang maka ia pasti akan bangga, sombong atau " hidung kembang" ketika orang angkat jempol dan namanya

Tetapi, apabila tidak ada yang beri komentar, pujian, apresiasi atau ucapan terima kasih maka ia pasti marah, tersinggung dan menuduh orang dengan cap macam-macam.

Berkaitan dengan memberi sedekah, kita dapat katakan bahwa  sedekah mempunyai nilai ganda.

Di satu pihak, untuk meringankan beban ekonomi dan membantu orang yang berkekurangan. Orang yang dibantu bisa hidup pantas dan melanjutkan hidup.

Di lain pihak, mengungkapkan karakter sosial manusia. Kita tercipta bukan hanya untuk urus diri sendiri, melainkan ada untuk kepentingan orang lain.

Dengan demikian, harta yang kita miliki kita dapatkan sebagai pemberian Tuhan untuk memenuhi kebutuhan pribadi, keluarga dan orang sekitar yang membutuhkan.

Kita bersyukur karena memiliki iman teguh dan cinta tulus kepada Allah yang dapat kita ungkapkan lewat doa, ibadah dan puasa.


Kita juga bersyukur karena memiliki tubuh dan jiwa yang sehat, pekerjaan yang menghasilkan buah, waktu yang baik, aman dan kondusif,  dan harta kekayaan.

Semuanya dapat memotivasi dan memampukan kita untuk mengungkapkan diri sebagai manusia bagi Tuhan dan manusia bagi orang lain.

Semoga Tuhan Yesus memberkati kita selalu!

Kewapante, 17 Juni 2026

RELATED NEWS