Pesan Inspiratif: Jangan Mencari Kehormatan di Mata Manusia
Redaksi - Sabtu, 22 Agustus 2026 08:18
Pater Gregor Nule SVD (sumber: Dokpri)Oleh Pater Gregor Nule SVD
Manusia umumnya cenderung mencari nama besar, kehormatan, pujian dan perlakuan istimewa dari orang lain.
Sering orang berusaha keras untuk mencapai prestasi luar biasa atau melakukan hal-hal besar dalam hidup dan karier. Tetapi, ketika namanya tidak disebut-sebut, dipuji atau disanjung-sanjung maka ia tersinggung dan marah besar.
Inilah tipe manusia yamg haus akan kehormatan, kedudukan dan jabatan. Ia bisa buat apa saja atau memanfaatkan orang lain untuk kepentingannya sendiri.
Dalam perikop Injil Mat 23:1-12 Yesus menampilkan orang-orang Farisi dan para ahli Taurat. Mereka punya peranan penting dalam agama Yahudi karena menduduki takhta Musa.
Mereka menguasai ajaran Kitab Suci dan perintah Taurat. Mereka juga pandai mengajar, membimbing dan menasihati orang lain.
Yesus mengingatkan para pendengarNya agar mendengarkan pengajaran mereka dan melaksanakannya. Tetapi, jangan mengikuti dan meneladani perbuatan mereka.
Sebab mereka mengajarkan, menasihati, membuat aturan dan perintah, tetapi mereka sendiri tidak melakukannya. Perbuatan mereka justru berbeda, dan bahkan bertentangan dengan ajaran mereka.
Mereka umumnya beribadah atau melakukan perbuatan baik hanya untuk menarik perhatian, pujian dan kehormatan. Mereka adalah orang-orang munafik yang tidak pantas diikuti atau diteladani.
Sebagai pengikut Yesus, kita mesti berusaha untuk tetap insyaf dan sadar agar tidak mudah jatuh ke dalam kecenderungan mencari popularitas dan nama besar.
Kita belajar menjadi manusia sederhana dan rendah hati. Kita boleh kaya, pintar, berprestasi serta memiliki keahlian dan ketrampilan.
Kita boleh memiliki kemampuan untuk menguasai ilmu dan pengetahuan, atau mampu mengajar dan membimbing orang lain dengan sangat baik. Kita boleh bangga atas semua itu.
Tetapi, kita tidak boleh sombong lalu meremehkan bahkan menyingkirkan orang tertentu dari lingkungan hidup dan lingkaran pergaulan sehari-hari.
Kita juga tidak boleh memanfaatkan orang lain untuk kepentingan dan kesenangan sendiri dan kelompok.
Sebab semua yang kita miliki adalah anugerah Tuhan. Kita bersyukur karena Tuhan mempercayakan semua kekayaan, ketrampilan dan kemampuan kepada kita.
Karena itu, setelah melakukan semua perbuatan besar yang membanggakan dan berguna untuk orang lain, kita hendaknya dengan rendah mengaku diri sebagai hamba yang tidak berguna.
Semoga Tuhan memberkati kita selalu!
Kewapante, 22 Agustus 2026***

