Pesta Di Masa Pandemi, Berbagi Bahagia?
redaksi - Selasa, 04 Mei 2021 18:01Oleh Even Edomeko*
KITA semua, termasuk saya, suka pesta. Baik dengan membikinnya, turut dukung lewat kumpul keluarga, atau sekadar menghadiri sbagai undangan.
Banyak yangg tuduh kita boros dan konsumtif. Tapi kita punya alasan: untuk membahagiakan anak/ keluarga dan berbagi rasa bahagia itu kepada teman dan famili. Bukankah hidup perlu disyukuri dan dinikmati?
Tapi, di masa pandemi Covid-19 sekarang ini, kita diminta oleh Pemerintah untuk stop dulu bikin pesta dan menghadiri pesta. Kenapa?
Karena pesta otomatis mengumpulkan banyak orang. Yang tidak diundang pun ikutan "pi kolong pesta" pas jam 10 ke atas...
Karena pesta pasti ada acara makan dan minum. Kita pasti buka masker, to?
Apalagi kalo ada menari, jarak 1,5 meter tentu dilanggar. Goyang dua menit, masker turun ke dagu.
Ember cuci tangan di pintu masuk dan hand sanitizer + thermogun di tangan para penerima tamu jadinya hanya simbol bahwa acara kita terselenggara dalam disiplin protokol kesehatan. Simbol saja, prakteknya tidak.
Kita tahu, dalam urusan Covid-19 ini ada istilah OTG. Yaitu ORANG TANPA GEJALA. Mungkin tubuhnya kuat, virusnya ada tapi tak berpengaruh, orangnya baik-baik saja. Tapi jika virus itu menular ke orang yang rentan, maka orang rentan tersebut bisa sakit dan menderita.
Ratusan orang kini dirawat. Uang Daerah untuk proyek pembangunan dan program macam-macam dipakai untuk sembuhkan mereka. Virus ini akan makin menyusahkan kita jika kita tidak peduli.
Apalagi pada September 2020 lalu, muncul jenis terbaru yakni CORONA B117 yang dari Inggris itu, yang juga sudah masuk di Indonesia. Yang ini jauh lebih "berbahaya" dari Corona Virus Disease December 2019 alias Covid-19.
Jangan sampai, PESTA yang kita maksudkan untuk membahagiakan anak kita itu justru membuat mereka sakit Covid-19 dari tamu yang datang.
Jangan sampai niat luhur untuk berbagi rasa bahagia justru jadinya berbagi virus corona. (*)
*Even Edomeko, Camat Nelle, di Kabupaten Sikka - Flores.