Ruwatan Nusantara di Tepian Nusantara

redaksi - Sabtu, 02 Desember 2023 15:41
Ruwatan Nusantara di Tepian NusantaraRuwatan Nusanta di Tepian Nusantara (Alor). (sumber: Irfan L)

KALABAHI (Floresku.com) - Rombongan Daulat Budaya Nusantara tiba di Alor hari Kamis 30 November 2023. Selain ditunggu oleh masyarakat Alor, rombongan yang dimotori Ki Dalang Sujiwo Tejo ini juga disambut hangat Bupati bersama Fokopimda Kabupaten Alor dan organisasi masyarakat seperti PCNU Alor, PMII Alor, Ansor Alor, Banser Alor, Fatayat Alor serta Muslimat Alor.

“Kami merasa bahagia, wilayah di tepi nusantara ini dikunjungi budayawan Sujiwo Tejo dan teman teman seniman Daulat Budaya Nusantara sekaligus menggelar pertunjukan bersama berkolaborasi dengan seniman di Alor” ujar DR. Drs. Zet Sony Libing, M.Si, penjabat Bupati Alor yang baru dilantik pertengahan bulan November ini.

Ia menekankan pentingnya kegiatan budaya sebagai sarana membangun jembatan kebersamaan antarwarga Kabupaten Alor yang sangat beragam, yang terdiri dari 42 suku dan 30 an lebih Bahasa. 

Menurutnya, keberagaman ini adalah kekayaan yang perlu dilestarikan dan disebarkan agar generasi muda dapat memiliki karakter yang kuat sebagai bangsa kesatuan gugusan pulau pulau.

“Terima kasih kepada rombongan Daulat Budaya Nusantara yang telah menjahit kebudayaan bangsa ini sampai di Alor. Oleh karenanya saya ajak seluruh organisasi masyarakat dan semua lapisan warga untuk hadir di Lapangan Mini Kalabahi mulai hari Jum’at 1 Desember sampai dengan hari Sabtu 2 Desember 2023, menyaksikan pertunjukan seni budaya Alor berkolaborasi dengan seniman nusantara” ajak Latief Daka, Ketua PCNU Alor dengan penuh semangat.

Perlu diketahui, Pagelaran Budaya Semalam Suntuk di Pulau Alor ini adalah putaran ke empat dari rencana sembilan titik Ruwatan Nusantara yang digelar oleh Daulat Budaya Budaya Nusantara dengan dukungan penuh dari Indika Energi yang dimotori oleh Teguh Haryono. 

Di Pulau Alor ini, Teguh mendapat dukungan penuh dari para seniman di Indonesia Timur, seperti Zaeni Mohammad dari Mataram Lombok, Sastrawan Penyair Bara Petyyraja dari Adonara, Musisi Sasando Vivian Tjung dari Kupang, Komponis Merlis To dari Jogja dan Madha Soentoro Komposer Musik Etnik juga dari Jogja.

“Ya, saya sangat senang sekali, banyak seniman nusantara terutama dari Indonesia Timur mau terlibat dalam Ruwatan Nusantara di Alor, titik ke empat dari sembilan titik yang kami rencanakan. Dan seperti yang berulangkali saya katakan, pertahanan terbaik dari bangsa Indonesia ini adalah kebudayaan” terang Teguh Haryono, Doktor Pertahanan dari Universitas Pertahanan. 

Siklus 500 tahunan

Ruwatan Nusantara di Pulau Alor ini adalah pilihan tepat yang dilakukan oleh Daulat Budaya Nusantara, karena gagasan Nusantara berasal dari Mandala Majapahit di masa kejayaan Prabu Hayam Wuruk dengan ekspedisi yang dipimpin Mpu Nala Arya Mandalika.

“Ini siklus lima ratus tahunan, siklus hamonisasi yang dilakukan oleh para leluhur nusantara. Dalam teori antropologi ada culture dan nature, budaya yang dilakukan oleh manusia dan alam sebagai ruang hidup. Zaman dulu alam lebih dominan, sehingga leluhur kita melakukan ruwatan sebagai upaya mengharmonisasi atau hidup berdampingan bersama alam. Sekarang ini, manusia yang lebih dominan, sehingga kita perlu melakukan ruwatan lagi untuk mengharmonisasi sistem kerja alam dan manusia” terang Kyai Paox Iben, pengasuh Pesantren Kebudayaan Ndalem Wongsorogo.

Pulau Alor ini dikelilingi oleh beberapa gugus pulau gunung berapi aktif di sekitarnya, sehingga secara spiritual memiliki energi yang sangat kuat, perawan, ada Gunung Delaki Sirung di Pulau Pantar, Gunung Koya Koya, kemudian wilayah geologi vulkanikdi Desa Air Panas, air terjun di pulau Medan dan Tuti Adagae di Pulau Alor. 

Pertanda yang lain juga tampak dari masyarakatnya yang masih memegang adat istiadat yang diwariskan para leluhur.

“Saya sudah bolak balik ke Pulau Alor sampai tiga kali untuk menyiapkan Pagelaran Budaya Ruwatan Nusantara ini. Secara umum alam menyambut baik ruwatan ini, demikian juga dengan para leluhur, sehingga masyarakat pun antusias menyambut Ruwatan Nusantara di Alor” jelas Gus Benny Zakaria, pengasuh Pondok Alam Adat Budaya Nusantara.

Warga dan Pemerintah Daerah, antusias

Sesuai rencana, rombongan Daulat Budaya Nusantara menggelar Ruwatan di Pulau Alor pada hari Sabtu 2 Desember 2023, namun karena antusias warga masyarakat dan pemerintah daerah, acara diselenggarakan selama dua hari, Jum’at tanggal 1 Desember 2023 sebagai pembuka Pgelaran Budaya dan Sabtu 2 Desember 2023 menjadi acara puncak dari Ritual Ruwatan Nusantara.

“Selama persiapan acara Ruwatan Nusantara di Alor ini semua berjalan lancar tanpa kendala, palingan soal komunikasi bahasa stekni seperti sound sistem dan panggung aja yang kadang perlu penyesuaian, dan ini menarik buat kami yang biasa menyiapkan acara di kota kota besar, kebudayaan nusantara lah yang menyatukan kami, hahaha” ujar Heris Karyanto, selaku Ketua Panitia Daulat Budaya Nusantara sambal terkekeh.

Sebagai penunjang tersiarnya acara Daulat Budaya Nusantara ke seluruh lapisan masyarakat, terutama generasi muda Indonesia, dukungan media sosial sangat penting menjadi perhatian. 

Pasukan udara atau pengumuman secara online disebarkan sepekan sebelum acara, sehingga masyarakat yang menjadi subyek dari Ruwatan Nusantara akan terlibat langsung maupun tidak langsung.

“Agara magnitude acara Ruwatan Nusantara di Alor ini bergema besar, kami memaksimalkan jaringan media sosial Daulat Budaya Nusantara dengan melibatkan akun akun gerakan mahasiswa, pemuda dan masyarakat, mulai dari HMI, PMII, ANSOR dan ormas seperti PCNU, Fatayat juga Muslimat” tambah Gus Hamid Abdulloh, Founder Dunia Santri Community.

Acara Ruwatan Nusantara ini diharapkan dapat merawat kearifan lokal dan juga menjadi dorongan untuk secra rutin mengadakan kegiatan budaya yang memperkaya nilai-nilai kebudayaan, sehingga menjaga keutuhan dan persatuan di Kabupaten Alor.

“Saya mengajak seluruh warga untuk turut serta dalam kegiatan ini. Mari kita nikmati dan ambil bagian dalam kegiatan budaya ini, sehingga keberagaman kita dapat menjadi kekuatan yang memperkaya, bukan memecah belah,” ajak Mustakim Tehing, Kepala Desa Hulnani yang antusias menyambut acara. (Irfan Limbong). ***

 

 

Editor: redaksi

RELATED NEWS